Oleh Riri Satria
Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah buku kumpulan cerpen karya Yon Bayu Wahyono berjudul “Aku Pulang saat Kamu Lupa Cara Mengingatku”. Saya baru sempat membacanya pada akhir pekan kemarin. Sejak pertama melihat judulnya, saya sudah merasa ada sesuatu yang menarik. Judul ini sangat puitis, meskipun buku ini merupakan kumpulan cerpen.
Ada paradoks yang segera terasa, yaitu pulang justru ketika seseorang telah lupa bagaimana cara mengingat. Dari judul ini saja, kita seperti diajak masuk ke wilayah ingatan, kehilangan, jarak, dan hubungan manusia dengan waktu. Kumpulan cerpen ini kemudian dibagi ke dalam 4 bagian, yaitu Kehilangan, Mencari Diri, Perlawanan, dan Yang Tersisa. Semua kategori tersebut seperti 4 pintu yang membawa pembaca memasuki ruang batin manusia yang berbeda-beda, tetapi sesungguhnya saling berhubungan.
Yon Bayu mengatakan bahwa ada hal-hal yang sering kita anggap hilang, tetapi sebenarnya tidak benar-benar pergi. Ia menetap dalam sebuah nama yang perlahan menjadi asing, tertinggal pada aroma hujan, atau bersembunyi di sudut-sudut kota yang setiap hari kita lewati. Kadang-kadang kita baru menyadari kehadirannya justru ketika ia sudah berjarak.
Gagasan inilah yang menurut saya menjadi salah satu napas utama buku ini. Ingatan ternyata bukan sekadar kemampuan untuk mengingat masa lalu. Ingatan adalah cara manusia mempertahankan keberadaan sesuatu yang pernah bermakna.
Namun, di hadapan waktu, keberadaan kita memang begitu fragile. Waktu bekerja dengan caranya sendiri, perlahan mengikis nama, wajah, tempat, percakapan, bahkan perasaan yang dahulu kita anggap akan abadi. Karena itu, kumpulan cerpen ini dapat dibaca sebagai semacam rekaman perjalanan Yon Bayu berhadapan dengan waktu dan ingatan. Yon Bayu sedang mengajak kita bersama untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup melalui kumpulan cerpen ini.
Saya melihat cerpen-cerpen dalam buku ini sebagai ruang tempat Ion Bayu memotret berbagai wajah kehidupan, kehilangan, kesepian, orang-orang yang tersisih oleh zaman, serta manusia-manusia yang telah lelah tetapi tetap berjalan mencari makna. Cerpen-cerpen ini terasa dekat dengan kehidupan kita. Tokoh-tokohnya tidak selalu hadir sebagai manusia yang heroik dan berhasil menaklukkan keadaan. Mereka justru sering hadir sebagai manusia biasa yang berhadapan dengan luka, keterasingan, perubahan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu memiliki jawaban. Ada sesuatu yang manusiawi dalam situasi tersebut.
Bukankah kita pun pada akhirnya menjalani kehidupan dengan membawa sesuatu yang hilang, sesuatu yang belum selesai, dan sesuatu yang masih kita cari? Maka 4 bagian dalam buku ini terasa bukan sekadar pembagian tematik, melainkan seperti tahapan perjalanan batin, kehilangan sesuatu, mencari kembali diri, melakukan perlawanan terhadap keadaan, lalu berhadapan dengan apa yang akhirnya masih tersisa.
Bagi saya, buku ini tidak hadir untuk menawarkan solusi kehidupan. Ia bukan buku resep yang memberi tahu pembaca bagaimana seharusnya menjalani hidup. Justru di situlah kekuatannya. “Aku Pulang saat Kamu Lupa Cara Mengingatku” lebih tepat dibaca sebagai sebuah buku refleksi. Ia mengajak kita berhenti sejenak, menengok kembali apa yang pernah kita miliki, apa yang telah hilang, siapa yang pernah hadir, dan bagaimana waktu mengubah cara kita memandang semuanya.
Cerpen-cerpen Yon Bayu tidak selalu perlu dijawab, cukup direnungkan. Sebab dalam kehidupan, tidak semua kehilangan membutuhkan penjelasan, tidak semua kesepian membutuhkan penghiburan, dan tidak semua perjalanan harus segera sampai pada kesimpulan, seperti yang tersirat dari judul buku ini, sesuatu justru pulang kepada kita ketika kita sudah hampir lupa bagaimana cara mengingatnya.
Saya mengenal Yon Bayu dengan baik, bukan hanya sebagai seorang jurnalis atau wartawan, tetapi juga sebagai seorang sastrawan yang menulis puisi, cerpen, dan esai. Ia juga dikenal sebagai aktivis kesusastraan yang berkiprah di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sebuah ruang yang memang telah menjadi salah satu ekosistem penting bagi kehidupan kesenian dan kesusastraan Jakarta.
Saat ini, Yon Bayu dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi media Pojok TIM, yang secara konsisten meliput berbagai kegiatan seni, budaya, dan kesusastraan yang berlangsung di kawasan Taman Ismail Marzuki. Membaca “Aku Pulang saat Kamu Lupa Cara Mengingatku” bagi saya bukan sekadar membaca karya seorang penulis, tetapi juga seperti memasuki salah satu sisi lain dari perjalanan kreatif seorang sahabat yang selama ini saya kenal melalui dunia jurnalistik dan kehidupan sastra di TIM.
Riri Satria adalah penyair yang telah menerbitkan sejumlah buku antologi tunggal. Karyanya tersebar di berbagai media. Riri juga dikenal sebagai pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang aktivis sastra dan kebudayaan.





