Kepala UP PKJ TIM Harry Sanjaya (memegang pemukul gong) membuka FSJ 2026 didamping perwakilan komunitas wilayah dan ketua panitia Foto: Udi Utama
PojokTIM – Ratusan pelajar, guru pendamping, penyair, sastrawan, dan pegiat sastra dari berbagai penjuru Jakarta memadati Teater Kecil Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu, 4 November 2026. Kehadiran mereka menandai kemeriahan gelaran perdana Festival Sastra Jakarta (FSJ) 2026 yang berlangsung semarak dengan beragam kegiatan sastra dan ekspresi kreatif.
Di lobi Teater Kecil berlangsung lomba cipta puisi dan menulis cerpen, sedangkan lomba baca puisi digelar di panggung Teater Kecil. Seluruh peserta lomba merupakan siswa SMA yang sebelumnya telah meraih kemenangan dalam perlombaan serupa di tingkat wilayah.
Selain perlombaan, festival ini juga menghadirkan bazar buku yang diikuti Balai Pustaka, Comic Kompasiana, serta Komunitas PojokTIM. Kemeriahan semakin lengkap dengan kehadiran stan Dokter Sastra, kegiatan Tukar Buku Murah, panggung ekspresi bebas open mic, serta diskusi sastra yang menghadirkan Kurnia Effendi, Mustafa Ismail, Ewith Bahar, dan Shakila Raya, dengan moderator Mudi Riyanti.
Pelaksanaan FSJ 2026 merupakan wujud kolaborasi lintas wilayah yang digerakkan oleh lima simpul komunitas sastra di Jakarta. Kelima simpul tersebut meliputi Kastara (Jakarta Utara), Kosakata (Jakarta Barat), Sajak Pusat (Jakarta Pusat), Lingkar Sajak Jaksel (Jakarta Selatan), serta KSJT (Jakarta Timur). Kolaborasi ini merefleksikan kuatnya jejaring masyarakat sastra dalam merawat ekosistem literasi di tingkat akar rumput.
Panggung utama FSJ 2026 juga menghadirkan deretan penampil dari berbagai latar belakang dan generasi. Para sastrawan dan seniman turut memukau penonton melalui pembacaan puisi dan pertunjukan dramatik. Mereka antara lain Anggie D. Widowati, Komunitas Kosakata, Lily Siti Multatuliana, Ade Novi, Dapunta, Tora & Mutia Kundera, serta Safir Arkamaya Smarakhan, seorang pelajar SMP dari Jakarta Utara yang tampil membawakan monolog.
Suasana panggung semakin khidmat sekaligus bergemuruh ketika sastrawan senior Jose Rizal Manua dan Imam Ma’rif naik ke atas panggung membacakan puisi-puisi pilihan. Penampilan keduanya disambut tepuk tangan meriah dari seluruh penonton yang memenuhi Teater Kecil.
Dalam acara yang yang dipandu Rissa Churria, juga hadir anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta Esha Tegar Putra, Arie Batubara, Riri Satria, Aquino Hayunta, Rintis Mulya, Nunung El Niel, Naning Scheid, Wig SM, Boyke Sulaiman, Debra Yatim, Endah Sulwesi, Remmy Novaris DM, dan sejumlah sastrawan lainnya.
Ruang Penyemaian
Ketua Panitia Pelaksana FSJ 2026, Yon Bayu Wahyono, menegaskan bahwa Festival Sastra Jakarta bukan sekadar agenda kesenian rutin yang hadir untuk mempercantik kalender pariwisata atau kebudayaan kota. Lebih dari itu, festival ini lahir dari kegelisahan dan diskusi panjang antarkomunitas sastra yang telah berlangsung sejak 2024. Kegelisahan tersebut terutama berangkat dari masih terbatasnya dukungan nyata terhadap kegiatan sastra, baik dari dunia usaha maupun melalui kebijakan alokasi anggaran pemerintah daerah.
“Kita melihat bahwa kehidupan sastra membutuhkan ruang yang lebih luas, dukungan yang lebih nyata, dan perhatian yang berkelanjutan,” ujar Yon Bayu di hadapan ratusan pegiat sastra.
Penulis novel PRASA tersebut kemudian memaparkan refleksi historis mengenai posisi Jakarta dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Selama ini, Jakarta dikenal sebagai tempat bertemunya beragam manusia, bahasa, pengalaman, dan kebudayaan. Kota ini juga telah melahirkan dan membesarkan banyak nama besar dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Namun, ia mengajak publik untuk mencermati ketimpangan yang berlangsung selama bertahun-tahun: Jakarta terlalu lama memosisikan diri sebagai panggung megah tempat memanen hasil karya, sementara proses pembibitan dan penyemaian sastra di tingkat akar rumput, seperti di sekolah-sekolah dan lingkungan permukiman, belum mendapatkan perhatian yang sepadan.
“Jakarta cukup lama menjadi tempat memanen hasil, tetapi belum sepenuhnya menjadi tempat menyemai bibit,” tegas Yon Bayu.
Oleh karena itu, lanjutnya, paradigma pembangunan sastra di Jakarta harus segera diubah. Jakarta tidak boleh hanya berpuas diri menjadi etalase bagi karya-karya besar dari berbagai penjuru Nusantara. Jakarta harus bertransformasi menjadi inkubator tempat tumbuhnya penulis-penulis muda, ruang bagi anak-anak usia sekolah untuk mengenal kata dan sastra, rumah bagi komunitas untuk berkembang, serta ruang aman bagi warga kota untuk menemukan suaranya melalui ekspresi kesusastraan.
Transformasi tersebut dinilai semakin mendesak di tengah perubahan lanskap hukum dan sosial Jakarta. Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta, Jakarta tidak lagi menyandang status sebagai ibu kota negara, melainkan diarahkan untuk berkembang menjadi pusat perekonomian nasional sekaligus kota global yang diperhitungkan di kancah internasional.
Bagi kalangan sastrawan, perubahan status tersebut menuntut perenungan ulang mengenai identitas, fondasi etis, dan arah pembangunan kebudayaan Jakarta ke depan.
“Kota global tidak cukup hanya diukur dari kekuatan ekonomi, megahnya gedung-gedung pencakar langit, dan kemajuan fisiknya semata. Ia juga harus memiliki identitas kebudayaan yang kokoh, kehidupan intelektual yang hidup, ruang ekspresi yang merdeka, serta masyarakat yang mampu mengembangkan gagasan dan kreativitasnya. Di sinilah sastra memiliki peran vital sebagai kompas moral,” tegas Yon Bayu.
Ia juga mengingatkan bahwa predikat UNESCO City of Literature yang disandang Jakarta sejak 8 November 2021 semestinya menjadi dorongan moral dan penggerak kolektif untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Predikat internasional itu tidak boleh berhenti sebagai stempel kebanggaan seremonial di atas piagam, tetapi harus mengejawantah secara nyata dalam denyut keseharian masyarakat kota.

Dukungan UP PKJ TIM
Sementara itu, Kepala UP PKJ TIM, Harry Sanjaya, dalam sambutannya saat membuka festival menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai FSJ 2026 merupakan salah satu pilar penting dalam memperkuat identitas Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada nilai-nilai kebudayaan lokal dan kekayaan keberagaman masyarakatnya.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan perwakilan komunitas yang telah bekerja keras menyiapkan acara ini hingga dapat terlaksana dengan megah di Teater Kecil PKJ TIM. Semoga Festival Sastra Jakarta 2026 tidak sekadar menjadi ajang kompetisi atau pertunjukan panggung semata, melainkan memantik semangat dan landasan kolaborasi gerakan literasi jangka panjang di Jakarta,” ungkap Harry Sanjaya.
Ia juga menyatakan dukungannya terhadap penguatan ekosistem penulisan kreatif yang mengangkat latar belakang sosial dan kultural Kota Jakarta. Menurutnya, karya sastra berlatar urban Jakarta memiliki daya tarik tersendiri yang dapat memperluas cakrawala pembaca, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Pembukaan FSJ 2026 secara resmi ditandai dengan pemukulan gong oleh Kepala UP PKJ TIM Harry Sanjaya, didampingi para tokoh perwakilan dari lima komunitas sastra wilayah, yakni Nanang R. Supriyatin (Sajak Pusat), Apriyani Paramesta (KSJT), Mustafa Ismail (Lingkar Sajak Jaksel), Andi Riyandi (Kastara), dan Anto RistarGie (Kosakata). Di akhir acara perwakilan lima wilayah membacakan deklarasi Festival Sastra Jakarta 2026.





