PojokTIM – Jakarta bukan sekadar bentangan peta administratif yang sesak oleh kumpulan bangunan, jalan raya, stasiun, hingga deretan ruang publik. Lebih dari sekadar ruang fisik, di setiap sudut kota ini tersimpan riwayat ingatan, dinamika perubahan sosial, perjumpaan, hingga harapan masyarakat yang membentuk wajah ibu kota.
Melalui kesadaran tersebut, Perkumpulan Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ) bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui Program Fasilitasi Kebudayaan menggelar acara Bincang Buku Memuisikan Jakarta: Antologi Puisi 100 Tempat di Jakarta. Acara ini berlangsung pada Sabtu siang, 31 Oktober 2026, di Ruang Berkarya, Perpustakaan Jakarta Lt. 6, Gedung Ali Sadikin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat.
Acara yang memadukan diskusi, pembacaan puisi, dan selebrasi kebudayaan ini menghadirkan enam narasumber serta kontributor penting, yaitu Arie F. Batubara, Dedy Tri Riyadi, Irzi, Kurnia Effendi, Mustafa Ismail, dan Rintis Mulya.
Program Memuisikan Jakarta digagas sebagai wahana untuk menjadikan tempat-tempat di Jakarta sebagai sumber penciptaan puisi toponimi. Berbeda dari perlombaan sastra pada umumnya, program ini tidak menggunakan sistem kompetisi atau penentuan juara. Para sastrawan diundang secara khusus sebagai kontributor untuk mengabadikan ruang-ruang keseharian maupun kawasan bersejarah melalui bahasa, imaji, dan refleksi artistik. Karya-karya tersebut kemudian melewati proses kurasi, penyuntingan, dan penataan menyeluruh hingga terhimpun menjadi satu antologi utuh.
Arie F. Batubara, Ketua MKJ yang juga bertindak sebagai editor buku ini, menjelaskan keunikan penyajian antologi tersebut. Menurutnya, seluruh penulis yang terlibat merupakan penyair berpengalaman yang mampu menangkap riwayat ruang dengan tajam.
“Ini adalah kegiatan fasilitasi yang mengangkat puisi toponimi. Menariknya, dalam buku ini tidak ada nama penulis yang disematkan langsung pada puisinya,” ujar Arie. Konsep penyajian ini mengajak pembaca untuk fokus pada ruang, rasa, dan narasi tempat itu sendiri tanpa terdistraksi oleh nama besar pembuatnya.

Penampilan grup musikalisasi puisi Penalis. Foto: PojokTIM
Mengabadikan Ruang
Dalam sesi diskusi, para narasumber menyoroti betapa cepatnya lanskap Jakarta dan sekitarnya berubah. Penulis Dedy Tri Riyadi menekankan pentingnya merekam ingatan kolektif masyarakat atas tempat-tempat yang kini telah mengalami transformasi bentuk.
“Kawasan PIK 2 yang tadinya lautan kini telah berubah total. Begitu juga ada satu tempat di kawasan Serpong yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tetapi tidak meninggalkan artefak fisik melainkan cerita dari generasi ke generasi,” tutur Dedy.
Dedy yang juga Ketua Panitia kegiatan tersebut menambahkan sebuah tempat bisa lestari atau menjadi tiada—bukan hanya bentuk fisiknya, melainkan juga ingatan di dalamnya. Dari sekitar 300 nama tempat di Jakarta yang potensial, 100 di antaranya berhasil dipuisikan dalam antologi ini.
Hal senada disampaikan oleh Kurnia Effendi yang menilai bahwa potensi ruang di Jakarta untuk diangkat ke dalam karya sastra masih sangat luas. Sastra menjadi medium penting untuk merawat ingatan kota di tengah derasnya pembangunan fisik.
Sementara itu, Mustafa Ismail menegaskan urgensi pendokumentasian sejarah lisan dan ingatan personal. “Sangat penting mendokumentasikan kota berdasarkan ingatan tentang Jakarta. Buku ini menjadi dokumen sejarah dan kebudayaan yang sangat penting,” tegas Mustafa.
Bagi para kontributor, pengalaman memuisikan tempat juga menjadi perjalanan emosional. Penyair Irzi mengaku tidak mengalami kesulitan saat menjelajahi ruang penciptaan. Ia memilih menuliskan tanah kelahirannya di Jakarta Timur dari total 44 kecamatan yang ada di DKI Jakarta.
Dalam acara yang dimeriahkan dengan pembacaan dan musikalisasi puisi, Rintis Mulya menyoroti dinamika Jakarta yang terus berubah dalam rentang waktu puluhan tahun. Berbekal pengalaman tinggal di Jakarta sejak dua dekade lalu, ia melihat banyak generasi muda yang kurang mengenali sejarah tempat yang mereka tinggali sehari-hari.
“Meskipun bentuk fisik suatu tempat mungkin tidak berubah, setiap orang pasti memiliki kenangan yang berbeda di tempat tersebut. Mengingat masa-masa kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah dahulu, ingatan atas ruang selalu bergerak dinamis,” ungkap Rintis.
Buku ini menjadi undangan terbuka bagi publik untuk membaca kembali Jakarta bukan sekadar sebagai metropolitan yang sibuk, melainkan sebagai ruang kehidupan yang terus bernapas dan menyimpan jutaan cerita.





