Ubah Paradigma, Festival Sastra Jakarta Fokus Lahirkan Sastrawan dari Rahim Jakarta

PojokTIM – Jakarta dikenal sebagai panggung besar sastra Indonesia. Namun, seiring statusnya yang kini tak lagi menjadi ibu kota negara dan sejajar dengan provinsi-provinsi lain, paradigma lama harus diubah. Jakarta tidak boleh lagi sekadar menjadi tempat “memanen” sastrawan yang sudah matang dan berproses di daerah seperti pada masa lalu. Kini, Jakarta dituntut fokus melakukan pembinaan dan pembibitan secara sistematis agar kelak lahir sastrawan-sastrawan baru yang benar-benar lahir dari rahim Jakarta sendiri.

Persoalan dan tantangan transisi inilah yang ingin dijawab melalui Festival Sastra Jakarta (FSJ) 2026, sebuah festival perdana yang menitikberatkan pembibitan sastrawan dari komunitas di lima wilayah Jakarta.

“Jakarta selama ini unggul sebagai tempat memanen karya dan talenta sastra yang sudah matang. Akan tetapi, kita perlu bertanya, sejauh mana Jakarta telah membangun sistem pembibitan dan melahirkan generasi sastrawan baru dari lingkungan masyarakatnya sendiri?” kata Ketua Panitia FSJ 2026 Yon Bayu Wahyono, Selasa (3/11/2026).

Menurut Yon Bayu, nama-nama besar seperti Chairil Anwar, Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, hingga Goenawan Mohamad memang telah memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat kesusastraan nasional. Namun, Jakarta dinilai belum optimal membangun regenerasi sastrawan dari komunitas dan lingkungannya sendiri.

Yon Bayu menilai tantangan ini kian mendesak setelah Jakarta tak lagi berstatus ibu kota negara. Sejak ditetapkan UNESCO sebagai City of Literature atau Kota Sastra pada 2021, Jakarta juga memikul tanggung jawab agar predikat itu benar-benar hidup di tengah masyarakat.

“Sastra tidak boleh hanya hidup di gedung-gedung pertunjukan, ruang diskusi elite, atau festival besar. Sastra harus hadir di sekolah, kampung, komunitas, ruang publik, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta,” tegasnya.

Panitia juga menyoroti Indeks Pembangunan Kebudayaan DKI Jakarta yang berada di peringkat ke-14 nasional dengan nilai 55,96, tertinggal dari DI Yogyakarta di posisi teratas dengan nilai 71,04.

Bergerak dari Lima Wilayah

Berbeda dari festival yang terpusat, FSJ 2026 digelar berjenjang dengan komunitas lokal sebagai penggerak. Setiap wilayah menjaring talenta sastra yang kemudian berkompetisi di tingkat provinsi.

Rangkaian festival telah digelar di lima wilayah, yaitu:

  • Jakarta Barat, oleh Komunitas Kosakata (13 September 2026)
  • Jakarta Pusat, oleh Komunitas Sajak Pusat (19 September 2026)
  • Jakarta Timur, oleh Komunitas Sastra Jakarta Timur (3 Oktober 2026)
  • Jakarta Selatan, oleh Komunitas Lingkar Sastra Jaksel (10 Oktober 2026)
  • Jakarta Utara, oleh Komunitas Kastara (18 Oktober 2026)

Menurut panitia, lomba dalam festival ini bukan sekadar perebutan penghargaan, tetapi pemicu agar komunitas aktif menggelar pelatihan, lokakarya penulisan, diskusi, dan pembacaan puisi.

Puncak FSJ 2026 akan digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (4/11/2026). Selain penyerahan penghargaan kepada pemenang lomba, acara ini menjadi ruang pertemuan penyair, penulis, komunitas sastra, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Sekretaris FSJ 2026 Dedy Tri Riyadi menegaskan, festival ini tidak dimaksudkan untuk menyaingi festival sastra nasional maupun internasional yang sudah ada, melainkan melengkapi ruang yang selama ini kurang mendapat perhatian, yaitu penguatan komunitas dan pembibitan sastrawan sejak tingkat dasar.

“Jakarta harus berani bertransformasi. Bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya para sastrawan dari seluruh Indonesia, tetapi juga menjadi kota yang mampu melahirkan sastrawan-sastrawan baru,” ujar Dedy.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait