Membaca Transformasi Puisi dalam Film, Teater dan Seni Pertunjukan

PojokTIM – Karya yang baik akan mampu melahirkan karya baru. Transformasi dari puisi atau novel ke film bukan sekadar pemindahan cerita, tetapi sebuah proses interpretasi kreatif. Film memiliki bahasa sendiri melalui gambar, suara, musik, dan suasana, sehingga sebuah karya sastra dapat menemukan kehidupan baru dalam bentuk berbeda.

Demikian dikatakan Acep Zamzam Noor saat menjadi narasumber diskusi yang membahas perjalanan puisi ketika bertransformasi menjadi berbagai bentuk ekspresi seni, akhir pecan lalu di Banda Aceh. Dialog dengan tema “Nusantara Puisi Musikal dan Teatrikal, Puisi Visual” yang juga menghadirkan Jose Rizal Manua dan Davi, digelar akhir pekan lalu, merupakan  bagian dari perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026, Diskusi dipandu oleh Rini Intama, dengan pewara Muhammad Luthfi.

Dalam diskusi tersebut, para narasumber membahas bagaimana puisi tidak hanya berhenti sebagai teks, tetapi dapat bergerak menjadi karya baru melalui proses kreatif. Puisi dapat hadir dalam bentuk film, musik, teater, maupun visual dengan tetap membawa gagasan, nilai, dan pengalaman artistik yang terkandung di dalamnya.

Sementara Jose menyoroti bagaimana puisi memiliki daya hidup yang panjang ketika diterjemahkan ke medium lain. Ia memberikan contoh bagaimana puisi dapat menjadi inspirasi film dan menghadirkan pengalaman baru melalui bahasa sinema.

:Karya seni terkadang memiliki kekuatan justru karena menyisakan ruang tafsir bagi penikmatnya,” kata Jose.

Davi menekankan bahwa proses adaptasi membutuhkan kreativitas seorang filmmaker. Hal yang utama bukan hanya memindahkan cerita, tetapi menangkap ruh, gagasan, dan pesan yang ingin disampaikan. Perpaduan antara sastra, film, musik, dan teater dapat melahirkan bentuk budaya baru yang lebih dekat dengan masyarakat.

Selain diskusi, kegiatan ini juga menghadirkan penampilan Teater Rongsokan yang membawa eksplorasi puisi dalam bentuk pertunjukan teatrikal. Penampilan tersebut memperlihatkan bagaimana puisi dapat bergerak dari kata menuju tubuh, suara, dan visual.

Agenda ini menegaskan bahwa puisi memiliki ruang yang luas untuk berkembang. Dari halaman buku menuju panggung, dari larik menuju layar, puisi terus menemukan bentuk baru yang memungkinkan masyarakat merasakan dan memaknai karya sastra dengan cara yang berbeda.

PPN XIV Aceh 2026 menghadirkan pesan bahwa puisi bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dihidupkan melalui berbagai medium seni. (Rissa Churria)

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait