Tertulia Budaya Ekuador dan Indonesia Perkuat Jembatan Diplomasi Melalui Sastra dan Budaya

PojokTIM – Sejumlah pegiat budaya dan sastra Indonesia menghadiri acara Tertulia Budaya Ecuador and Indonesia, yang mempertemukan para pelaku seni kedua negara dalam suasana dialog dan pertukaran kebudayaan. Acara tersebut berlangsung di kediaman Duta Besar Ekuador untuk Indonesia, Luis Arellano Jibaja, Senin (29/6/2026) malam.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan budaya antara Indonesia dan Ekuador melalui berbagai ekspresi seni, sastra, serta pertukaran pengalaman antarbudaya.

Hadir dalam acara tersebut sejumlah undangan dari Yayasan Hari Puisi Indonesia, di antaranya Danny Susanto selaku penghubung kerja sama Indonesia–Ekuador di bidang budaya, Willy Ana, Ariyani Isnamurti, Ewith Bahar, Sihar Ramses Simatupang, Herman Syahara, dan Julia Basri.

Dalam acara tersebut, Kedutaan Besar Ekuador untuk Indonesia juga memberikan penghargaan Diplomasi Budaya berupa medali dan sertifikat kepada tiga pihak yang dinilai berkontribusi dalam memperkuat hubungan budaya antara Ekuador dan Indonesia.

Penerima penghargaan tersebut adalah Danny Susanto, dosen dan peneliti dari Universitas Indonesia serta President University, sekaligus Wakil Ketua Yayasan Hari Puisi Indonesia dan perwakilan komunitas sastra. Ia menerima penghargaan atas kontribusinya dalam memperkuat dan melestarikan warisan budaya takbenda antara Ekuador dan Indonesia di Jakarta.

Penerima penghargaan lainnya yakni Holila Hatta, yang memiliki kontrbusi besar dalam memajukan kerja sama akademik antara kedua Negara, serta Hasfarm Bromelia, perusahaan pemasok yang memperoleh apresiasi atas perannya dalam mempromosikan kerja sama bidang flora antara Ekuador dan Indonesia.

Duta Besar Ekuador untuk Indonesia, Luis Arellano Jibaja, mengatakan bahwa penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat Indonesia yang turut berperan dalam berbagi budaya, ekonomi, dan gastronomi antara kedua negara.

“Setiap tahun kami bertemu dengan para seniman, penyair, dan penulis untuk saling berbagi pengalaman. Untuk berbagi pengalaman Ekuador dan Indonesia dalam bidang seni,” ujarnya.

Menurutnya, budaya merupakan salah satu cara terbaik untuk memperkuat hubungan antarnegara. Kedekatan sebuah bangsa, kata dia, tidak hanya ditentukan oleh jarak geografis, tetapi juga oleh hubungan kemanusiaan yang dibangun melalui kebudayaan.

“Budaya adalah cara terbaik untuk memperkuat hubungan antarnegara. Jarak bukanlah faktor utama yang mendekatkan bangsa-bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Danny Susanto mengaku terkejut sekaligus bahagia atas penghargaan yang diterimanya. Ia menyampaikan bahwa kerja sama budaya melalui sastra dan puisi dapat menjadi jalan untuk mempertemukan masyarakat lintas negara.

“Karena kami percaya melalui puisi, melalui sastra, melalui budaya, kita dapat membangun dan memperkuat hubungan antarnegara dan antarmasyarakat,” ujar Danny Susanto dalam sambutannya.

Ia juga menyampaikan keinginannya untuk terus memperluas jejaring diplomasi budaya, tidak hanya dengan Ekuador, tetapi juga dengan negara-negara lain.

“Tujuan saya adalah melangkah lebih jauh, tidak hanya di sini dengan Kedutaan Ekuador, tetapi juga dengan kedutaan-kedutaan lainnya. Karena saya sangat suka mempromosikan, khususnya puisi-puisi kita, ke tingkat internasional,” katanya.

Selain pemberian penghargaan dan dialog budaya, acara tersebut juga diisi dengan berbagai penampilan seni dari para undangan. Ewith Bahar, Ariyani Isnamurti, dan Sihar Ramses Simatupang tampil membacakan puisi, sementara Julia Basri dan Herman Syahara menampilkan pertunjukan lenong sebagai representasi seni tradisi Betawi.

Danny Susanto juga membawakan lagu berbahasa Ekuador. Sementara Willy Ana tampil membawakan lagu Laksmana Raja di Laut, lagu Melayu yang dipopulerkan oleh diva Melayu Indonesia, Iyet Bustami.

“Saya pilih lagu Laksmana Raja di Laut karena lagu ini sangat kental dengan budaya Melayu Indonesia dan pas untuk dibawakan di acara ini,” ujar Willy Ana.

Pertemuan budaya tersebut menjadi salah satu ruang perjumpaan yang memperlihatkan bahwa seni, sastra, dan tradisi dapat menjadi jembatan hubungan antarbangsa. Selain menghasilkan kerja sama yang berkelanjutan, momen seperti ini juga menjadi dokumentasi penting dalam perjalanan diplomasi budaya Indonesia dan Ekuador.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait