Oleh Romy Sastra
Sugeng Rawuh, Yogyakarta,
Sapaan itu membuka sebuah malam yang menghadirkan pengalaman artistik kaya dan berlapis. MORSA Event 2026 mengumpulkan musisi, penyair, budayawan, akademisi, artis teater, serta para pegiat seni dari berbagai generasi dalam satu panggung. Musik tradisional, orkestra, sastra, teater, seni visual, hingga pertunjukan lintas media bertemu, berkelindan, lalu tumbuh menjadi peristiwa kebudayaan yang meninggalkan kesan mendalam.
MORSA merupakan akronim dari Musik Tradisional, Orkestra, dan Sastra. Dari nama itulah tampak arah pencarian yang digagas Joko Pranoto bersama sutradara Bambang Oeban. Pencarian tersebut lahir dari pergulatan kreatif yang juga melatarbelakangi terbitnya dua buku puisi karya Joko Pranoto, Yang Kutitipkan Kepada Langit dan Negeri Retak. Pertanyaan-pertanyaan yang hidup dalam karya-karya itu menemukan ruang baru untuk berdialog melalui panggung seni.
Dalam sebuah pengarahan menjelang pertunjukan, Joko Pranoto berkisah tentang awal mula gagasan MORSA. Ketika bertamu ke rumah Bambang Oeban, sang sutradara bertanya mengenai bentuk pagelaran yang diinginkan. Joko menjawab singkat, “Saya butuh yang gila.” Tawa pun pecah. Dari percakapan sederhana itulah lahir sebuah gagasan besar yang kemudian berkembang menjadi pertunjukan lintas disiplin seni.
Setelah menyaksikan seluruh rangkaian acara, saya memahami makna “gila” yang dimaksud. Kegilaan itu terletak pada keberanian mempertemukan banyak unsur yang selama ini sering berjalan di ruangnya masing-masing. Di atas panggung, musik tradisional berdialog dengan orkestra. Puisi memperoleh tubuh melalui monolog dan pembacaan sastra. Seni visual bergerak berdampingan dengan pertunjukan musik. Tradisi dan ekspresi kontemporer saling menyapa dalam satu ruang yang sama.
Malam itu dibuka dengan energi musikal yang kuat dari Alvin Bin Adam melalui balutan sholawat reggae yang menghangatkan suasana. Dari sana, pertunjukan bergerak ke berbagai bentuk ekspresi artistik yang terus berganti tanpa kehilangan benang merahnya. Kehadiran para penyair seperti Sutardji Calzoum Bachri, yang dikenal luas sebagai Presiden Penyair Indonesia, Jose Rizal Manua, EB Magor, Bayuwinanda, Anto Narasoma, Khalonk Rahmansyah, Yoyok Hadiwahyono, Kubis Bagonk, Lis Limbuk, Ponidi, Bobi Erdogan, Afnan Malay, Syifa Ardianti Ishaputri, Wismono (Xobiez), Tafrizal, saya sendiri Romy Sastra serta sejumlah penyair lainnya menghadirkan kekuatan kata yang memberi kedalaman pada keseluruhan pertunjukan.
Di sisi lain, panggung juga menghadirkan Clara Sinta Rendra sebagai artis teater yang membawakan ekspresi dramatik dengan penuh penghayatan. Bersama Nyai Dewi B. Dersonolo dan para pelaku seni lainnya, ia memperlihatkan bagaimana tubuh, suara, dan kata dapat berpadu menjadi pengalaman artistik yang menggugah.
Kehadiran dua akademisi terkemuka, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada, dan Prof. Dr. Yudiaryani, M.A., Guru Besar ISI Yogyakarta, menambah dimensi intelektual dalam acara ini. Orasi kebudayaan yang mereka sampaikan memberi ruang refleksi tentang posisi seni dan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia hari ini.
Kesan yang paling kuat datang dari suasana kebersamaan yang terbangun sepanjang pertunjukan. Para penampil tidak sedang menunjukkan keunggulan cabang seni masing-masing. Mereka seperti sedang merayakan perjumpaan. Setiap karya memberi ruang bagi karya yang lain untuk tumbuh. Setiap suara menemukan tempatnya dalam harmoni yang lebih besar.
Ada semangat yang terasa hidup di balik seluruh rangkaian acara ini. Semangat untuk memberi penghormatan kepada para seniman dan pekerja kebudayaan. Dunia seni sering melahirkan karya-karya besar dari proses panjang yang sunyi. Karena itu, ketika ada seseorang yang bersedia menggerakkan sumber daya, waktu, tenaga, dan perhatian untuk menghadirkan ruang apresiasi seperti MORSA, maka yang hadir bukan hanya sebuah pertunjukan, melainkan juga bentuk kepedulian terhadap kehidupan seni itu sendiri.

Keberanian Joko Pranoto menginisiasi acara ini menjadi hal yang menarik perhatian saya. Di tengah berbagai keterbatasan yang kerap mengiringi kegiatan kebudayaan, ia memilih melangkah dengan keyakinannya sendiri. Pilihan tersebut mengingatkan pada tradisi para maesenas yang sepanjang sejarah memberi dukungan kepada para seniman agar karya-karya mereka dapat terus hidup dan menjangkau masyarakat.
Ketika lampu panggung perlahan meredup dan para penonton meninggalkan ruang pertunjukan, yang tersisa adalah rasa syukur karena telah menyaksikan sebuah peristiwa seni yang lahir dari keberanian, persahabatan, dan kecintaan terhadap kebudayaan. MORSA 2026 menghadirkan kesan bahwa seni selalu memiliki cara untuk mempertemukan manusia dengan keindahan, pemikiran, dan kemanusiaannya sendiri.
Malam itu, musik, orkestra, sastra, teater, seni visual, dan tradisi tidak berdiri sendiri-sendiri. Semuanya menyatu menjadi satu napas panjang yang mengalun dari panggung menuju ingatan para penontonnya. Dalam keragaman suara yang hadir, MORSA 2026 menunjukkan bahwa kebudayaan Indonesia masih memiliki daya untuk menyatukan banyak perbedaan menjadi harmoni yang indah.
Bionarasi
Romy Sastra penyair berdarah Minang menetap di Jakarta Barat. Lelaki yang mencintai dunia sastra, namanya mulai dikenal sejak berkiprah di kancah sastra Indonesia tahun 2015. Semakin berkibar setelah puisinya meraih Anugerah Puisi Terbaik Pertama di media Apajake tahun 2023, disusul dengan Juara 3 Lomba Cipta Puisi Nasional bertema “Jejak Seni dan Dakwah dalam Langkah Sang Pendiri: Ambo Dalle” pada tahun 2024, serta penghargaan juara event lainnya di sosial media. Hingga kini, Romy telah menerbitkan tiga buku puisi tunggal: Tarian Angin (2019) dan Alegori (2023), serta Heraldik Berwajah Seribu (2025). Karya cerpen, dan puisinya dimuat berbagai media di antaranya media Elipsis, media jernih.co, balipolika dll. Karya-karya berupa puisinya tersebar di lebih 150 antologi puisi bersama, melibatkan penulis dari Indonesia, Malaysia, hingga Kanada. Nama Romy Sastra terdapat di buku besar “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” edisi revisi oleh yayasan Hari Puisi Indonesia 2019
Email: romysastra76@gmail.com





