Catatan Asmariah
Sejak remaja, baris-baris puisi sebenarnya sudah menjadi karib saya. Coretan-coretan itu kerap kali memenuhi halaman belakang buku pelajaran sekolah. Sebagai remaja yang baru tumbuh, saya mulai mengenal getar cinta anak sekolah, rasa kagum yang lugu pada lawan jenis. Semua itu saya tumpahkan dalam lembaran kertas.
Andai lembaran-lembaran kertas itu masih tersimpan rapi hingga hari ini, saya sendiri tidak tahu bagaimana mutunya. Mungkin ada yang baik, mungkin juga banyak yang jelek. Namun yang pasti, coretan-coretan itu pernah lahir dari jemari saya. Seiring waktu, kertas-kertas tersebut memang telah lesap, tetapi getarnya tetap membekas di hati hingga sekarang.
Maka, jika hari ini saya berada di tengah riuh rendah dunia literasi, itu bukan karena saya baru saja kecemplung. Sejak dulu, saya memang sudah terlanjur jatuh cinta pada baris-baris puisi.
Menyemai TBM
Pernikahan saya dengan Mas Supriyadi, menjadi katalisator yang melipatgandakan kecintaan saya pada dunia literasi. Kami adalah sepasang kolektor buku. Bagi kami, membeli buku di toko atau meminjamnya di perpustakaan bukan sekadar hobi, melainkan kebutuhan untuk memperluas cakrawala. Lebih dari itu, kami ingin berbagi kebahagiaan membaca kepada orang lain yang kesulitan mendapatkan akses bacaan.
Tak lama setelah kami menikah di Serang, Banten, suami memboyong saya ke Yogyakarta. Kami membawa serta ratusan buku koleksi pribadi. Kami tidak ingin buku-buku tersebut hanya menjadi pajangan mati di rak rumah kami di Sleman.
Kebetulan, di lingkungan tempat tinggal kami—tepatnya di Dusun Temon, Pandowoharjo, Sleman—banyak anak-anak hebat yang tumbuh di lingkungan yang baik, namun kekurangan asupan bacaan yang memadai.Awalnya hanya dua atau tiga anak yang datang. Kami duduk beralaskan tikar di lantai tanah.
Saya mulai membuka pintu rumah lebar-lebar. Saya sering membacakan dongeng, bercerita, hingga berupaya merawat budaya lokal dengan mengajarkan penulisan bahasa Jawa (tentunya didampingi oleh guru yang kompeten). Lambat laun, rumah kami berubah menjadi ruang hangat yang penuh tawa anak-anak. Kehadiran kami pun disambut hangat oleh warga Temon. Pengalaman berharga inilah yang memantapkan niat saya untuk mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Temon Pandowoharjo sekitar belasan tahun lalu.
Kini, TBM Temon telah tumbuh menjadi ruang publik yang diakui secara luas oleh berbagai komunitas di tanah air. Kami aktif melakukan barter buku dan menerima donasi. Bahkan, saat Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengirimkan paket buku ke TBM Temon, kami menyalurkan kembali donasi buku ke wilayah lain yang membutuhkan. TBM Temon telah resmi menjadi mitra pemerintah dalam menyebarkan “virus” literasi.
Menjelajah Nusantara
Sebagai pendiri TBM Temon, saya memilih untuk bergerak aktif. Perjalanan literasi telah membawa saya mengunjungi berbagai daerah untuk bersilaturahmi dengan berbagai komunitas. Dari perjalanan-perjalanan itulah mata saya terbuka lebar: betapa anak-anak di pelosok perdesaan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur, masih sangat haus akan buku bacaan yang bermutu.
Perjalanan mengemban misi mulia ini sering kali saya tempuh dengan biaya mandiri, meski sesekali ada donatur yang turut menyokong. Berlayar dari Yogyakarta menuju pulau-pulau seberang tentu menguras energi dan waktu yang tidak sedikit. Saya bahkan pernah merasakan bagaimana rasanya terombang-ambing di tengah lautan luas yang mencekam. Namun, semua rasa lelah itu seketika menguap, berganti kebahagiaan tak terkira saat melihat buku-buku itu sampai ke tangan anak-anak.
Salah satu ruang paling berkesan yang pernah saya datangi adalah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Yogyakarta. Di depan para penghuni lapas, di tengah ruang terbuka, saya berdiri membacakan puisi-puisi saya.
Membacakan puisi di hadapan mereka yang kesehariannya jauh dari dunia sastra adalah sebuah tantangan batin yang luar biasa. Namun di sana, saya menyadari satu hal: puisi memiliki kekuatannya sendiri untuk menyentuh sisi terdalam kemanusiaan kita, di mana pun kita berada.
Menulis dan berpuisi adalah cara saya merawat jiwa sekaligus memberi sumbangsih kecil bagi belantika sastra Indonesia. Di sela-sela kesibukan mengelola TBM Temon, saya juga mendedikasikan diri sebagai:
- Relawan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) untuk mengawal warasnya informasi.
- Relawan Pendamping Lapas untuk menyalakan harapan di balik jeruji.
- Penulis dan Penyair yang terus melahirkan karya.
Bagi saya, pencapaian dalam dunia kepenulisan bukanlah hadiah cuma-cuma yang jatuh dari langit, melainkan buah dari kerja keras yang konsisten. Saya bersyukur, karya-karya saya kini tersebar di berbagai antologi puisi, baik yang berskala lokal maupun nasional. Nama saya pun kini tercatat dalam buku referensi Apa & Siapa Perempuan Pengarang/Penulis Indonesia” (2023).
Sebagai penulis, saya tidak boleh berhenti. Saya harus terus membaca untuk menjaga pikiran tetap segar, dan terus menulis di setiap kesempatan. Saat ini, keaktifan saya di grup Satupena Yogyakarta memberi saya ruang kreatif yang sehat untuk terus bertumbuh.
Bagi saya, berjejaring adalah urat nadi literasi. Dengan menggandeng relawan, komunitas sastra, serta instansi pemerintah maupun swasta, gerakan literasi ini tidak akan pernah menjadi jalan sunyi yang melelahkan, melainkan sebuah perayaan intelektual yang mengasyikkan.
Bionarasi
Asmariah Lahir di Serang, Banten 21 Agustus 1977. Founder sekaligus ketua Taman Baca Masyarakat (TBM) Temon Yogya, yang juga sebagai tempat tinggalnya. Buku puisi tunggal: Berangkatlah Kata-Kata (2021), Perempuan Penabuh Subuh (2023), Di antara karya antologi: Khatulistiwa (2021) Raja Kelana (2022), Kisah-Kisah Hidupku (2022), Surat Cinta untuk Orang Tercinta (2022), Situs dan Artefak (2022), Progo 7 (2022), Maqam Gurindam (2022), Laut dan Kembara Kata-kata (2022), Pohon (2023), Lukisan Bumi (2023), Kulminasi (2023), Jauhari (2024), Zamrud (2025), Kariayu Hutan (2025), Empat Belas Purnama (2025). Warna Kitab Suara (2025), Tanda Cinta Bagi Korban Bencana Sumatera (2025), Kepak Sayap Bunda “Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah” (2025), Manuskrip Indonesia (2026). Anggota Satupena Yogyakarta.





