Kata Mereka tentang Isbedy Stiawan ZS

PojokTIM – Acara bertajuk Milad 68; Peluncuran Buku Puisi 68 Isbedy Stiawan ZS di Balai Sastra PDS HB Jassin, Gedung Ali Sadikin Taman Ismail Marzuki, Rabu (15/7/2026) menjadi ajang temu kangen sejumlah sastrawan senior. Mereka pun memberikan kesaksian atas perjalanan kepenyairan Isbedy yang terentang sejak tahun 1980-an.

Berikut petikannya:

1. Sutardji Calzoum Bachri

Menurut Sutardji Calzoum Bachri, produktivitas Isbedy Stiawan ZS tidak membuat kualitas puisinya menurun. Justru di tengah jumlah karya yang sangat banyak, Isbedy tetap mampu menjaga mutu kepenyairannya.

“Kalau orang menulis begitu banyak, biasanya ada risiko menjadi serampangan. Tetapi pada Isbedy justru terlihat kualitas itu tetap terjaga. Saya kira ini sangat menarik, meski belum banyak mendapat perhatian para kritikus,” ujarnya.

Sutardji menilai kekuatan seorang penyair terletak pada kemampuannya memberi makna baru kepada bahasa. Baginya, puisi bukan sekadar menyusun kata-kata, melainkan menemukan sisi lain dari kata sehingga lahir pengalaman dan makna baru.

“Puisi memperkaya bahasa. Penyair mencari sisi lain dari kata-kata, lalu menyambungkannya hingga melahirkan makna baru yang memperkaya kemanusiaan. Setiap penyair memiliki dunia bahasanya sendiri, dan saya melihat Isbedy memiliki kekhasan itu.”

2. Riri Satria

Penyair Riri Satria menyebut Isbedy sebagai sosok “paket komplet” dalam dunia perpuisian Indonesia.

“Bagi saya, Bang Isbedy memenuhi lima hal sekaligus. Ia mampu menulis puisi, membacakan puisi dengan baik, mengkritik atau menganalisis puisi, menjaga ekosistem sastra, dan mengajarkan orang lain menulis puisi. Tidak banyak penyair yang memiliki kelima kemampuan itu sekaligus.”

Riri yang mengenal Isbedy sekitar sepuluh tahun lalu di Klungkung, Bali, juga mengaku terkesan oleh kerendahan hati penyair asal Lampung tersebut.

“Yang paling saya ingat justru kerendahan hatinya. Waktu pertama bertemu saya sempat memiliki anggapan bahwa Bang isbedy juga seperti sebagian penyair senior yang kerap terjebak dalam post-power syndrome. Pembicaraan mereka sering berkisar pada empat hal yakni betapa sulitnya menjadi penyair pada masa mereka, betapa hebat generasi mereka, betapa kurang kompetennya generasi sekarang, serta anggapan bahwa generasi muda tidak lagi menghormati para senior. Namun, semua itu tidak saya temukan pada Bang Isbedy. Sebaliknya, beliau lebih banyak memberi inspirasi, berbagi pengalaman, dan mendorong semangat penyair-penyair muda,” ujarnya.

3. Fikar W. Eda

Penyair asal Aceh, Fikar W. Eda, mengaku telah mengenal Isbedy sejak Pertemuan Penyair Indonesia tahun 1987.

Meski sempat lama tidak bertemu, hubungan mereka kembali terjalin melalui berbagai kegiatan sastra, termasuk ketika diundang ke Lampung dalam sebuah pembacaan puisi yang diselenggarakan Dewan Kesenian Lampung.

Fikar mengenang sebuah peristiwa ketika dirinya terlambat datang dan membacakan puisi yang ternyata tidak sesuai dengan ketentuan acara. Baru sekitar sepuluh hingga lima belas tahun kemudian ia mengetahui persoalan yang sebenarnya setelah diceritakan langsung oleh Isbedy.

“Saya baru tahu cerita sesungguhnya belasan tahun kemudian. Waktu itu saya sampai merasa bersalah,” katanya.

Ia juga mengagumi konsistensi Isbedy dalam berkarya.

“Karya-karyanya begitu banyak. Hampir setiap minggu puisinya terbit di berbagai media. Produktivitas seperti itu patut diapresiasi.”

4. Fatin Hamama

Fatin Hamama mengaku telah lama bersama Isbedy melalui Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Mereka pernah mengikuti berbagai perjalanan sastra ke sejumlah daerah di Indonesia hingga ke Thailand dan Malaysia.

Menurut Fatin, jika ada mesin yang mampu memproduksi puisi tanpa henti, maka mesin itu bernama Isbedy Stiawan ZS.

“Di setiap kesempatan, hampir setiap hari, Bang Isbedy selalu menghasilkan puisi baru. Kreativitasnya luar biasa.”

Namun, menurutnya, produktivitas itu tidak lahir begitu saja. Setiap puisi Isbedy merupakan hasil perenungan atas pengalaman hidup, perjumpaan dengan banyak orang, serta berbagai peristiwa yang dialaminya.

“Setiap puisinya adalah rangkuman pengalaman hidupnya.”

Fatin juga memuji kemampuan Isbedy saat membacakan puisi.

“Bang Isbedy bukan hanya piawai menulis, tetapi juga membacakan puisi dengan sangat kuat. Ia termasuk penyair yang mampu menghadirkan pertunjukan pembacaan puisi yang khas.”

Bagi Fatin, hubungan mereka telah melampaui sekadar sesama penyair.

“Bagi saya, Bang Isbedy bukan hanya senior, tetapi sudah menjadi saudara. Kami melewati banyak perjalanan sastra bersama.”

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait