PojokTIM — Komunitas PojokTIM menggelar kegiatan pembekalan dan workshop penulisan cerita pendek bertajuk “Lima Abad Jakarta dalam Cerita” di Aula KFC Cikini 70, Jakarta Pusat, pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kegiatan yang didukung oleh Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Jakarta (FPKJ) 2026 dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta ini diikuti oleh 18 peserta yang terdiri dari penulis, editor, dan panitia.
Acara yang dimulai pukul 14.00 hingga 16.30 WIB tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua Komunitas PojokTIM, Nanang R. Supriyatin. Dalam sambutannya, Nanang menekankan pentingnya kegiatan ini untuk mengasah kemampuan para sastrawan dan penulis dalam menuangkan sejarah panjang Jakarta ke dalam karya fiksi yang bernas dan kreatif.
“Penting untuk memahami bahwa kegiatan ini akan menjadi bagian dari perayaan 5 Abad Jakarta. Tentu ini hal yang menggembirakan karena kita ikut terlibat di dalamnya. Untuk itu saya berharap teman-teman cerpenis sungguh-sungguh dalam berkarya. Tidak menggunakan alat bantu AI, apalagi plagiasi karya orang,” terang penyair senior itu.
Terkait tema, Nanang menyebut tidak ada pembatasan khusus mengingat cakupan tentang Jakarta sangat luas dan beragam, mulai dari sejarah, budaya, kuliner, sosial, hingga aspek lainnya. “Sebisa mungkin hindari penulisan yang bertema politik praktis,” pesan Nanang.
Sesi inti pembekalan dipandu oleh Yon Bayu Wahyono selaku narasumber dan Giyanto Subagio yang akan bertindak sebagai editor. Dalam pemaparannya, Yon Bayu-yang juga dikenal sebagai cerpenis dan novelis-mengupas kronologi sejarah Jakarta yang membentang selama lima abad, dari era Sunda Kelapa pada abad ke-16, masa kolonial, era pergerakan dan revolusi, hingga dinamika megapolitan di abad ke-21.
“Tanpa bermaksud mengekang kebebasan berekspresi dan keliaran ide, perlu diingat bahwa penulisan cerpen ini bersifat tematik terkait 5 Abad Jakarta. Jadi, meskipun bernuansa horor, tetap harus memiliki basis atau pijakan pada lanskap Jakarta,” ujar Yon Bayu.
Materi pembekalan dibagi ke dalam empat klaster tema utama yakni Masa Awal (1527–1800), Kolonial & Pergerakan, Revolusi – Orde Baru, Kontemporer & Masa Depan
Peserta didorong untuk melakukan riset elementer sebelum menulis, mulai dari mengamati perubahan lanskap pembangunan, jejak-jejak lokasi bersejarah, dinamika budaya, hingga evolusi kuliner lokal. Pendekatan ini dinilai penting agar cerpen yang dihasilkan memiliki pijakan realitas sejarah yang kuat, bukan sekadar imajinasi kosong.
Workshop ini menargetkan lahirnya 15 naskah cerpen terpilih dari para peserta, yang di antaranya melibatkan nama-nama penulis seperti Anggi D. Widowati, Endah Wijayanti, Herna Silwati, Humam S. Chudori, Ikhsan Risfandi (IRZi), Marina Novianti, Nuyang Jaimee, Retno Budiningsih, Rissa Churia, Shantined, Sri Rahayu, Wig SM, Erni Soe, Shakila Raya, dan Neneng Hendriyani.

Ketua Komunitas PojokTIM Nanang R. Supriyatin
Adapun ketentuan teknis penulisan naskah yang disepakati meliputi:
1.Jenis & Ukuran Huruf: Times New Roman, 12 pt.
2. Media & Format: Kertas A4 dengan panjang naskah sekitar 6 hingga 9 halaman.
3. Batas Akhir Pengiriman: 20 Oktober 2026 melalui surel ke yonbayuwahyono@gmail.com.
Setelah batas pengiriman, naskah akan melewati tahap kurasi pada 21–25 Oktober 2026 sebelum diserahkan ke pihak penerbit. Seluruh rangkaian proses cetak dan pengecekan akhir dijadwalkan selesai pada akhir Oktober hingga awal November 2026.
Puncak dari program ini adalah penerbitan dan peluncuran buku antologi cerpen Lima Abad Jakarta dalam Cerita, yang direncanakan meluncur pada 4 November 2026 mendatang, bertepatan dengan perhelatan Festival Sastra Jakarta 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM).





