PojokTIM – Jakarta bukan sekadar bentang beton, gedung pencakar langit, atau pusat dinamika ekonomi. Lebih dari itu, Jakarta adalah ruang perjumpaan berbagai kebudayaan yang saling melintasi, berakulturasi, hingga melahirkan identitas budaya Betawi yang khas. Dalam perkembangannya menuju status kota metropolitan dunia, Jakarta dituntut tetap terbuka terhadap pengaruh luar tanpa kehilangan daya rekam sosialnya. Di sinilah sastra hadir sebagai pemegang peran vital: perenung sekaligus perekam kehidupan warga kota dari masa ke masa.
Pesan mendalam tersebut mengemuka dalam acara peluncuran dan diskusi buku antologi cerpen Lima Abad Jakarta Dalam Cerita yang digelar Komunitas PojokTIM bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Jakarta (FPKJ). Kegiatan berskala literasi ini berlangsung dengan khidmat dan hangat di Ruang Berkata, Lt. 6 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat.
Sastrawan Ujang Kasarung, yang hadir sebagai pembicara pertama, menegaskan pentingnya menjaga ruang dan waktu bagi perkembangan ekosistem seni, khususnya di bidang sastra. Menurutnya, kota yang hidup senantiasa membutuhkan karya sastra untuk merawat ingatan kolektif masyarakatnya.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan penerbitan buku antologi cerpen ini karena kota tidak hanya berisi bangunan megah, namun juga ingatan dan kisah-kisah yang tumbuh di dalamnya,” ujar Ujang. Ia menuturkan bahwa karya fiksi memiliki kejelian tersendiri dalam menangkap momentum akulturasi serta potret kemanusiaan yang sering kali luput dari pandangan umum.
Pandangan senada disampaikan oleh Guntoro Sulung, pembicara kedua dalam sesi diskusi yang dipandu oleh moderator Nunung Noor El Niel. Sutradara film yang kini aktif menulis puisi tersebut menyoroti rentang sejarah Jakarta yang panjang. Menurut Guntoro, wacana tentang Jakarta tidak boleh berhenti pada narasi perjuangan heroik pembebasan masa lalu semata, melainkan harus memberi panggung bagi suara-suara urban dan ketahanan hidup warga pinggiran.
Guntoro memaparkan potret psikologis warga urban Jakarta yang unik dan penuh daya tahan. Salah satunya adalah gengsi sosial dan kebanggaan menjadi orang Jakarta yang kerap dibawa saat pulang ke kampung halaman.
“Tetap ada kebanggaan sebagai orang Jakarta, meski kalah. Saat mudik, pulang kampung, mereka merasa perlu tampil perlente, meski dengan uang ngutang. Sesuatu yang dipaksakan tetapi bagi mereka itu penting karena menimbulkan kebanggaan. Tidak ada yang mengaku kalah. Mereka tetap bertahan sekalipun tinggal di rumah-rumah petak, tanpa kebutuhan dasar yang memadai,” terang Guntoro.
Ia juga menyuarakan harapan agar Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta terus memperluas ruang bagi para sastrawan untuk merekam perubahan kota melalui penulisan fiksi. Menurutnya, catatan sejarah formal acap kali hanya merekam data angka dan peristiwa besar, sementara pergulatan batin serta romantika harian warga hanya bisa ditangkap secara utuh oleh sastra.
Guntoro mencontohkan kisah-kisah keseharian Jakarta masa lalu yang kini perlahan sirna ditelan zaman. Dulu, ketika rumah-rumah warga belum berpagar tinggi, interaksi sosial berlangsung amat guyub.
“Kisah anak-anak kecil mengambil buah rambutan dari halaman rumah tetangganya, hanya dengan berteriak, ‘Nyak, aku minta rambutan,’ itu mestinya direkam dan ditulis sebagai bagian dari kota yang bertumbuh. Sesuatu yang tidak kita temui hari ini ketika sikap individualitas dan rumah-rumah berpagar tinggi mengepung Jakarta,” tambahnya.
Sebelumnya, saat membuka acara, Ketua Komunitas PojokTIM Nanang R. Supriyatin menjelaskan proses panjang di balik lahirnya antologi cerpen ini. Buku tersebut merangkum karya dari 15 penulis yang terpilih serta 3 cerpen karya para editor.
“Proses pemilihan para penulis melalui open call, yang dilanjutkan dengan workshop penulisan. Hal itu bertujuan supaya karya yang dihasilkan memiliki benang merah sesuai temanya, yakni Menyongsong 5 Abad Jakarta,” terang Nanang.
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran tokoh sastra dan kebudayaan Jakarta, di antaranya Ketua Subkelompok Riset dan Pengembangan di Bagian Pengembangan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Ratih Ayu Puspitasari, Ketua Dapur Sastra Jakarta Remmy Novaris DM, mantan anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta Imam Ma’arif, Endin SAS, Boyke Sulaiman, Nurhadi Maulana Saibin, serta para kontributor buku. Dua editor buku antologi tersebut, Giyanto Subagio dan Yon Bayu Wahyono, juga tampak hadir mendampingi jalannya peluncuran.

Ratih, perwakilan dari Dinas Kebudayaan Jakarta menerima buku antologi cerpen yang diserahkan Nanang R. Supriyatin, Foto: PojokTIM
Usai menerima penyerahan buku secara simbolis, Ratih Ayu Puspitasari menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung kreativitas komunitas lokal. Ia menegaskan bahwa Dinas Kebudayaan DKI Jakarta selalu siap memberi ruang dan memfasilitasi para pelaku seni budaya untuk terus berkarya, salah satunya melalui skema program FPKJ demi merawat identitas serta sejarah perjalanan Jakarta.
Sebelum penutupan kegiatan, pembawa acara Rissa Churria memberi kesempatan para penulis untuk menyampaikan testimoni selama proses penulisan cerpen.
“Aku sudah kirim cerpen tapi ditolak karena katanya terlalu umum. Setelah bergulat dengan pemikiran selama satu minggu akhirnya saya dapat ide dari pengalaman saya sendiri saat masih pulang pergi kuliah di daerah Blok M,” kata Anggie D, Widowati, penulis cerpen berjudul Sepiring Laksa Buat Nyak.





