Perempuan Penabuh Subuh, Sebuah Catatan

Oleh Asmariah

Ada yang mengetuk pintu kehidupan, tetapi tidak semua orang mendengarnya. Ada yang memukul beduk, tetapi tidak semua orang terbangun. Ada pula yang mendengar azan, tetapi pikirannya masih tertinggal di tempat tidur, di meja pekerjaan, di pasar, di kantor, bahkan di tengah kerumunan dunia yang tidak pernah selesai menawarkan kesibukan.

Barangkali puisi lahir dari peristiwa-peristiwa semacam itu. Dari sesuatu yang didengar tetapi tidak selalu dipahami, dari sesuatu yang dilihat tetapi tidak selalu disadari, atau dari sesuatu yang dialami tetapi belum selesai diselesaikan oleh batin.

Begitulah saya memahami perjalanan lahirnya puisi-puisi dalam buku Perempuan Penabuh Subuh (Hyang Pustaka, Cirebon, 2023, 124 halaman). Buku ini bukan semata-mata kumpulan kata yang disusun menjadi larik-larik indah. Ia merupakan catatan perjalanan pikiran, kegelisahan, pengamatan, pengalaman, dan terutama percakapan panjang antara diri saya dengan kehidupan. Percakapan yang kadang berlangsung dengan manusia, kadang dengan kenangan, kadang dengan keadaan sosial, dan tidak jarang dengan Tuhan.

Puisi-puisi ini sebagian besar lahir sepanjang tahun 2020. Dalam rentang waktu itu, lebih dari 300 puisi pernah saya tuliskan dan tercecer di berbagai media sosial, grup sastra, surat kabar, serta jurnal. Saya sendiri kadang merasa seperti orang yang sedang menabur benih tanpa tahu persis di mana kelak pohonnya tumbuh. Kata-kata datang, saya sambut. Gagasan muncul, saya tuliskan. Peristiwa melintas, saya rekam dengan bahasa yang saya punya.

Menulis puisi bagi saya bukan pekerjaan mencari-cari kata yang terdengar canggih. Bukan pula perlombaan menyusun metafora agar pembaca berdecak kagum. Saya justru sering memulai dari hal-hal yang sangat sederhana: suara beduk, seorang ibu yang membangunkan anaknya, lelaki tua di musala, seseorang yang kehilangan arah, kemiskinan di pinggir jalan, orang-orang yang sibuk mengejar dunia, atau seorang ayah yang menunggu kepulangan anaknya.

Hal-hal sederhana itu ternyata menyimpan ruang yang sangat luas. Sebuah pancuran air wudu, misalnya, tidak hanya berbicara tentang air. Ia bisa menjadi tempat seseorang membasuh dosa, menghapus ingatan buruk, bahkan menemukan kembali dirinya yang lama hilang.

Di situlah saya belajar bahwa puisi tidak harus berangkat dari sesuatu yang luar biasa. Kehidupan sehari-hari sesungguhnya sudah luar biasa, hanya saja manusia terlalu sering melewatinya tanpa sempat membaca maknanya.

Mengapa puisi-puisi yang semula tercecer itu kemudian saya himpun dalam sebuah buku dengan tema religius?

Saya merasa perlu memberikan rumah bagi kata-kata yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Setelah membaca kembali lebih dari 300 puisi yang saya tulis, saya menemukan benang merah yang menghubungkan sebagian besar karya tersebut. Ada kegelisahan yang sama, ada semacam panggilan yang berulang, ada sesuatu yang terus-menerus mengetuk kesadaran saya: hubungan manusia dengan Tuhan tidak pernah bisa dipisahkan dari hubungannya dengan sesama manusia.

Saya tidak ingin memahami puisi religi sebagai puisi yang hanya berbicara tentang langit, surga, neraka, pahala, dosa, dan doa. Tentu saja semua itu penting. Tetapi bukankah manusia yang berdoa juga hidup di bumi? Bukankah orang yang menghadap Tuhan juga berhadapan dengan tetangga yang kelaparan, anak yatim yang membutuhkan perhatian, ibu yang menunggu kepulangan anaknya, serta orang miskin yang hidupnya terus-menerus dipermainkan keadaan?

Lalu apa gunanya seseorang panjang-panjang berdoa jika pendek sekali kepeduliannya kepada sesama?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang ikut menggerakkan proses kreatif saya. Saya ingin menghadirkan religiositas yang tidak berhenti di atas sajadah, tetapi berjalan keluar menuju kehidupan. Sebab agama bukan hanya urusan bagaimana manusia menyebut nama Tuhan, melainkan juga bagaimana ia memperlakukan ciptaan-Nya.

Dalam puisi “Dua Sisi Surga”, saya mencoba menyampaikan pemahaman tersebut. Surga bukan hanya sesuatu yang dimohonkan melalui doa dan ibadah, tetapi juga sesuatu yang diperjuangkan melalui kepedulian.

Surga, dalam pemahaman saya, semestinya bisa ditemukan di telapak kaki ibu, dalam kerukunan tetangga, dalam doa orang miskin, dan dalam tangan yang membelai anak yatim. Sebaliknya, seseorang yang rajin bersembahyang tetapi menutup mata terhadap kelaparan dan ketidakadilan perlu bertanya kembali kepada dirinya sendiri: sudah sejauh mana ibadah itu mengubah perilakunya?

Saya tidak sedang merasa lebih baik daripada orang lain. Justru puisi-puisi tersebut sering kali merupakan teguran kepada diri sendiri. Saya menulis karena saya pun membutuhkan peringatan. Saya menulis karena manusia mudah lupa, termasuk orang yang merasa dirinya sudah banyak mengetahui ajaran agama.

Subuh sebagai Pintu Masuk Kehidupan

Judul Perempuan Penabuh Subuh lahir dari perenungan mengenai waktu, ibadah, dan perjalanan kehidupan manusia.

Mengapa Subuh? Mengapa bukan Magrib, Isya, atau waktu-waktu lainnya?

Bagi saya, Subuh memiliki kedudukan simbolis yang istimewa. Ia merupakan awal dari pergerakan waktu sehari-hari. Ketika sebagian manusia masih bergelut dengan kantuk, ada panggilan yang mengajak mereka bangkit, membersihkan diri, mengambil air wudu, dan menghadap Tuhan.

Subuh adalah peristiwa kecil yang sesungguhnya mengandung perjuangan besar. Kita harus mengalahkan kantuk, kemalasan, dan keinginan untuk terus berada dalam kenyamanan. Ada pertempuran yang berlangsung tanpa senjata, tetapi membutuhkan kekuatan jiwa.

Dari sana saya mengembangkan gagasan tentang tabuh-tabuh kehidupan.

Dalam puisi “Menuju Subuh”, saya menggambarkan bahwa tabuh kehidupan sebenarnya telah berbunyi sejak matahari terbit. Ada tabuh yang terdengar melalui pekerjaan, kesibukan, mesin-mesin, dan aktivitas manusia. Ada pula tabuh yang berasal dari azan, Al-Qur’an, kebaikan, dan panggilan sembahyang.

Tidak semua bunyi membawa manusia kepada kebaikan. Ada bunyi yang membuat manusia semakin sibuk, tetapi kehilangan arah. Ada pula bunyi yang mengingatkan manusia agar tidak diperbudak oleh kesibukannya sendiri.

Maka, menjadi perempuan penabuh subuh bagi saya bukan berarti menjadi seseorang yang hanya membunyikan beduk secara harfiah. Ia merupakan perlambang seorang perempuan yang ingin membangunkan kesadaran, baik kesadaran dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

Saya ingin puisi menjadi bunyi yang mengetuk, bukan palu yang memukul. Menyadarkan tanpa merasa paling benar. Mengingatkan tanpa harus menghakimi. Mengajak manusia kembali menemukan keseimbangan antara pengabdian kepada Tuhan dan tanggung jawab terhadap kehidupan.

Kehidupan tidak selalu menyediakan pemandangan yang menyenangkan. Ada kemiskinan, ketidakadilan, kesenjangan, keserakahan, pertengkaran, dan berbagai persoalan yang sering kali justru bersembunyi di balik simbol-simbol kebaikan.

Sebagai orang yang menggeluti kegiatan literasi, saya banyak berinteraksi dengan masyarakat, terutama anak-anak dan lingkungan sekitar Taman Baca Temon. Dari ruang sederhana itu saya melihat bahwa pendidikan, kebudayaan, dan pembentukan karakter merupakan pekerjaan yang tidak selesai hanya dengan membagikan buku.

Anak-anak membutuhkan pendampingan. Mereka membutuhkan lingkungan yang menumbuhkan rasa ingin tahu, kepedulian, kesantunan, dan keberanian berpikir.

Pengalaman tersebut ikut memperkaya pandangan saya dalam menulis puisi. Saya melihat perkembangan teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan perkembangan kepribadian manusia. Gawai dapat membuka jendela pengetahuan, tetapi juga dapat membuat seseorang terkurung dalam dunianya sendiri.

Kegelisahan itu muncul dalam puisi “Desaku Hilang”. Saya mengenang desa yang dahulu memiliki suasana kebersamaan, anak-anak yang bermain di pematang, suara azan yang memanggil warga, serta kerumunan orang yang belajar mengaji. Kini sebagian kenangan itu terasa semakin jauh.

Dalam salah satu lariknya saya menulis:

Gadget mengajarkan kesendirian.

Kalimat itu merupakan kegelisahan, bukan penolakan terhadap kemajuan teknologi. Saya memahami bahwa zaman terus berubah dan manusia tidak mungkin hidup dengan memunggungi perkembangan. Namun, kemajuan yang bagaimana jika manusia semakin jauh dari manusia lainnya?

Apakah kita benar-benar semakin maju ketika anak-anak tidak lagi mengenal permainan bersama, ketika percakapan keluarga digantikan layar, dan ketika kebersamaan hanya menjadi kenangan?

Pertanyaan serupa saya hadirkan dalam “Hilangnya Barisan Subuh”. Saya mengenang seorang ibu yang dahulu membangunkan anaknya, mengajaknya berwudu, lalu berjalan bersama menuju musala. Kenangan itu kemudian berhadapan dengan kehidupan masa kini, ketika sebagian orang tua dan anak-anak terjebak dalam kesibukan serta kebiasaan begadang.

Saya tidak bermaksud menghakimi ibu-ibu zaman sekarang. Saya tahu setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Akan tetapi, saya ingin mengingatkan bahwa pendidikan karakter tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, teknologi, atau lingkungan. Ada keteladanan yang harus dimulai dari rumah.

\Ingatan tentang Pengorbanan

Sebagai perempuan, saya memiliki perhatian tersendiri terhadap kehidupan perempuan dan peran seorang ibu. Bagi saya, ibu bukan sekadar tokoh yang melahirkan manusia. Ia adalah ruang pertama tempat seseorang mengenal kasih sayang, ketabahan, pengorbanan, dan doa.

Puisi “Nyanyian Jelang Kepulanganmu” lahir dari ingatan tentang ayah. Saya mengenang masa kecil, ketika ayah menuntun saya membeli sepatu, bekerja keras menghidupi keluarga, dan mengorbankan hasil panen agar anaknya dapat bersekolah.

Ketika ayah semakin tua dan memanggil-manggil kepulangan anaknya, saya menyadari bahwa keberhasilan seseorang kadang dibangun dari pengorbanan orang-orang yang justru tidak pernah menikmati hasilnya.

Kita bisa menjadi sarjana, memiliki pekerjaan, menulis buku, dan berjalan jauh meninggalkan kampung halaman. Namun, ada satu hal yang tidak boleh tertinggal: ingatan terhadap tangan-tangan yang dahulu menopang perjalanan kita.

Dalam “Dua Telapak Kaki yang Terkubur” dan “Surga yang Terenggut”, saya kembali mengangkat persoalan ibu. Ada kegelisahan terhadap anak-anak yang melupakan orang tua, terhadap kekerasan, penelantaran, dan kehidupan perempuan yang sering kali harus menanggung penderitaan dalam diam.

Saya percaya, surga tidak mungkin dibangun dengan cara menghancurkan kehidupan orang yang melahirkan kita.

Perempuan dalam puisi-puisi saya bukan hanya perempuan yang menunggu, menangis, atau berdoa. Ia juga perempuan yang berjuang, berpikir, bekerja, dan mempertahankan martabatnya. Ia bisa menjadi Siti Hajar yang tidak menyerah menggali sumber kehidupan. Ia bisa menjadi ibu yang membangunkan anak-anaknya. Ia bisa pula menjadi perempuan yang menabuh subuh ketika dunia sedang tertidur.

Dalam proses penciptaan puisi, saya sering menemukan dua citraan yang berulang: api dan air.

Api bagi saya dapat menjadi lambang hawa nafsu, kemarahan, keserakahan, kehancuran, dan dosa. Tetapi api juga dapat memberikan kehangatan. Sementara air dapat menjadi lambang kesucian, kesejukan, kehidupan, dan pertobatan.

Keduanya tidak selalu berdiri sebagai sesuatu yang saling meniadakan. Api dapat membakar, tetapi juga menghangatkan. Air dapat menyucikan, tetapi dapat pula membawa kehancuran ketika meluap. Manusia pun demikian. Ia memiliki kemungkinan untuk menjadi sumber kebaikan sekaligus sumber kerusakan.

Dalam “Tubuh Api di Pintu Subuh”, saya menggambarkan lelaki yang pernah dibakar oleh pengalaman hidupnya sendiri. Api itu kemudian diolah menjadi sulaman diksi dan puisi. Luka tidak dibiarkan menjadi luka semata, melainkan diusahakan menjadi pelajaran dan jalan pertobatan.

Sementara dalam “Membasuh Waktu”, saya menulis tentang puisi sebagai cara mengurai kesepian. Saya menyebutnya seolah-olah membuat puisi, padahal sebenarnya sedang mengurasi sepi.

Bagi saya, menulis memang sering kali seperti mengambil air dari sumur yang dalam. Kita tidak selalu tahu apa yang akan ditemukan di dasarnya. Kadang airnya jernih, kadang keruh, kadang justru memperlihatkan wajah kita sendiri.

Puisi menjadi tempat saya membasuh waktu, membersihkan ingatan, dan memeriksa kembali perjalanan yang telah ditempuh.

Pengalaman kehilangan juga memberikan pengaruh besar terhadap proses kreatif saya. Kematian ayah, kenangan tentang orang-orang yang telah pergi, serta peristiwa sakit dan bencana melahirkan sejumlah puisi yang berhubungan dengan kematian.

Dalam “Nasihat Kematian”, saya menulis bahwa kepergian seseorang sesungguhnya merupakan nasihat bagi mereka yang masih hidup. Kematian tidak hanya berbicara tentang orang yang meninggalkan dunia, tetapi juga tentang orang-orang yang masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Puisi “Peluk Sakaratul Maut” lahir dari suasana yang sangat manusiawi: seorang ayah yang berada di antara kehidupan dan kematian, anak-anak yang menengadahkan tangan, serta harapan agar orang yang dicintai masih bisa tinggal lebih lama.

Di hadapan kematian, manusia sering kehilangan kata-kata. Yang tersisa adalah doa, air mata, dan kepasrahan.

Saya tidak ingin menjadikan kematian sebagai sesuatu yang menakutkan semata. Saya ingin menjadikannya pengingat bahwa waktu manusia terbatas. Ada kehidupan yang harus dipertanggungjawabkan, ada cinta yang harus disampaikan, dan ada kesempatan berbuat baik yang tidak selamanya tersedia.

Proses kreatif saya tidak berlangsung sendirian. Saya banyak belajar dari pertemanan, komunitas sastra, para penyair, pembaca, serta berbagai peristiwa yang mempertemukan saya dengan pengalaman orang lain.

*Asmariah adalah Ketua Taman Baca Masyarakat Temon, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta. 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait