PojokTIM – Kompleks Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, menjadi saksi berlangsungnya momen hangat dan penuh hikmat pada Jumat (30/10/2026). Dapur Sastra Jakarta (DSJ) menggelar program berkala Meja Panjang yang kali ini didedikasikan khusus untuk memperingati 1.000 hari wafatnya Prof. Dr. Abdul Hadi W.M., sosok penyair besar yang dijuluki sebagai “Bapak Sastra Sufi Indonesia”.
Acara peringatan ini dihujani oleh kenangan mendalam, anekdot jenaka, serta apresiasi tinggi terhadap sumbangsih almarhum di dunia sastra dan akademis. Sederet tokoh penting sastra Indonesia, keluarga almarhum, serta civitas akademika turut hadir membagikan kesaksian hidup sang profesor.
Persahabatan Aneh
Penyair kawakan Sutardji Calzoum Bachri menjadi salah satu penutur utama yang menghidupkan suasana melalui kisah-kisah memorabilianya bersama Abdul Hadi WM. Sutardji mengenang bahwa perkenalannya dengan Abdul Hadi bermula sejak akhir tahun 1960-an di Yogyakarta, sebelum almarhum pindah dan bergabung bersama komunitas sastra di Bandung.
“Abdul Hadi itu sangat produktif, cepat, dan lancar dalam menulis puisi. Karya-karyanya sejak awal sudah kental dengan nuansa tasawuf serta pengaruh pemikiran tokoh-tokoh besar Islam seperti Ibnu Arabi dan Jalaluddin Rumi,” kenang Sutardji.
Sutardji menceritakan dinamika kehidupan Abdul Hadi saat di Bandung yang sempat mengalami masa-masa sulit secara finansial. Kehidupannya mulai mapan setelah ia berkesempatan bekerja di koran ternama Mahasiswa Indonesia yang dipimpin oleh Rahman Tolleng, mengampu rubrik kebudayaan.
Salah satu kisah paling unik yang memancing senyum hadirin adalah saat Sutardji menceritakan asal-usul perubahan suara Abdul Hadi. Saat berada di rumah pelukis Jehan di Bandung, suara Abdul Hadi mulanya terdengar kecil dan lemah. Namun, setelah mendapat sentilan atau komentar jenaka dari seorang model wanita mengenai suaranya yang kecil, Abdul Hadi termotivasi mengubah cara bicaranya hingga memiliki suara yang besar dan lantang yang menjadi ciri khasnya di kemudian hari.
Persahabatan mereka yang juga melingkupi tokoh-tokoh seperti Taufick Ismail, Remy Sylado, hingga KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) digambarkan Sutardji sebagai persahabatan yang unik dan “aneh”. Sutardji mengutip kelakar Gus Mus sewaktu mereka berada di Irak, di mana Gus Mus menyebut melihat Sutardji dan Abdul Hadi di jalanan seperti sedang bertengkar hebat atau berdebat sengit, padahal sejatinya mereka berdua bersahabat sangat karib.
Selain kedekatan personal, Sutardji mengenang gaya mengajar almarhum yang santai namun fokus. Abdul Hadi dikenal mampu mempertahankan konsentrasinya membaca dan menulis di tengah kebisingan apa pun.

- Sutardji Calzoum Bachri
Dari ranah akademis, Dr. Sunaryo mewakili Universitas Paramadina menyoroti langkahnya sosok Abdul Hadi WM di Indonesia. Menurutnya, almarhum merupakan figur yang relatif langka karena berhasil memadukan kepakaran sebagai dosen senior, guru besar, dan profesor dengan keulamaan sastra, khususnya dalam tradisi sastra sufi. Turut hadir pula menantu almarhum, I Made Bagus Surajaya, bersama keluarga besar.
Sementara itu, Dr. Sunu Wasono dari Universitas Indonesia sekaligus wakil dari Dapur Sastra Jakarta menyampaikan apresiasinya atas kehadiran para sastrawan dan penikmat literasi dalam tradisi Meja Panjang ini. Sunu mengenang pengalamannya sewaktu menjadi mahasiswa Abdul Hadi WM. Almarhum merupakan perintis mata kuliah Penulisan Kreatif di kampus, yang kerap menghadirkan penyair legendaris seperti Sutardji Calzoum Bachri dan Danarto langsung ke kelas untuk berdiskusi dan berproses kreatif.
“Dalam pengajarannya, puisi kenamaan karya Abdul Hadi WM yang berjudul Tuhan Kita Begitu Dekat selalu dijadikan teladan utama karya estetika tinggi yang kaya makna spiritual,” tutur Sunu.
Suasana haru menyelimuti ruangan saat putri almarhum, Ayusha Ayutthaya, memberikan kesaksiannya. Ayusha mengungkapkan bahwa dialah yang membantu menuliskan status terakhir di akun Facebook sang ayah sebelum berpulang, yang berbunyi “galau di tengah sunyi”.
“Banyak sekali impian Bapak tentang karya-karyanya, seperti keinginan agar puisi Tuhan Begitu Dekat dan Bunga disajikan dalam bentuk musikalisasi puisi. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak dan para sahabat yang terus merawat ingatan ini,” ujar Ayusha emosional.

Ayusha Ayutthaya
Acara peringatan 1.000 hari Abdul Hadi WM juga diisi dengan diskusi yang menghadirkan Arief Joko Wicaksono, Sofyan RH Zaid dan Mohammad Subhi sebagai panelis serta Ewith bahaar selaku moderator.
Turut memeriahkan, Imam Ma’rif membacakan Sajak Putih, disusul oleh pembacaan puisi Ada Sebuah Kota, Katamu, dan Tak Pernah Teduh karya Abdul Hadi WM secara bersambung oleh sederet penyair tanah air.
Acara ini menegaskan meski raga sang profesor telah berpulang, warisan pemikiran dan kedalaman sastra sufimya akan terus hidup dalam linimasa kebudayaan Indonesia.





