Warisan Ali Sadikin, Antara Paradoks Moral dan Pembangunan Kota

Anto RistarGie memberikan pengantar mewakili tim editor. Foto: Ist  

PojokTIM – Di balik megahnya deretan gedung pencakar langit dan riuk-pikuk modernitas Jakarta, tersimpan rekam jejak sejarah kepemimpinan yang penuh dengan paradoks. Menjelang peringatan lima abad usia Jakarta pada 2027 mendatang, wacana mengenai kepemimpinan mendiang Gubernur Ali Sadikin kembali mencuat dalam peluncuran buku Pesona Persona Ali Sadikin: Antologi Esai Personal yang diselenggarakan oleh komunitas KOSAKATA di Kompleks Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (30/10/2026).

Buku antologi esai karya 20 penulis itu merupakan kegiatan yang didukung oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Jakarta (FPKJ) 2026. Buku ini membedah dari berbagai perspektif tentang sosok gubernur yang pernah mengambil langkah radikal dan kontroversial demi membiayai pembangunan ibu kota pada masa jabatannya.

Salah satu sorotan utama dalam rilis buku tersebut adalah keberanian Ali Sadikin dalam melegalkan, melokalisasi, serta mengenakan pajak pada aktivitas perjudian, prostitusi, dan hiburan malam. Kebijakan yang kerap dipandang bertentangan dengan nilai-nilai agama tersebut membuat Ali Sadikin dianugerahi julukan “Gubernur Maksiat” oleh para pengkritiknya.

Namun, seperti yang diungkapkan oleh Anto RistarGie dalam pengantar rilis buku tersebut, dasar pemikiran Bang Ali, sapaan akrab Ali Sadikin, bukanlah untuk membenarkan kemaksiatan itu sendiri, melainkan sebuah pendekatan pragmatis atas realitas sosial yang ada.

“Perjudian sudah ada sejak lama. Jika dibiarkan ilegal, uangnya hanya akan mengalir ke kantong para bandar dan oknum. Namun, jika dilokalisasi dan diawasi langsung oleh pemerintah, hasilnya dapat masuk ke kas daerah dan dialokasikan untuk pembangunan publik,” jelasnya dalam prolog peluncuran buku tersebut mewakili tim editor yang terdiri Anto, Emi Suy, Sofyan RH. Zaid.

Lebih lanjut Anto menjelaskan, langkah ini memperlihatkan bagaimana Ali Sadikin siap mengorbankan citra pribadi dan popularitas politiknya demi sebuah strategi pembangunan yang ia yakini efektif dan terukur.

“Ironisnya, julukan “Gubernur Maksiat” justru menjadi bagian integral dari paradoks warisan kepemimpinannya: sosok yang dicaci akibat kebijakannya, namun terus dikenang dan diapresiasi karena hasil nyata pembangunannya,” tutur ujar penggiat teater itu.

Diskusi bertajuk Ali Sadikin, Jakarta, dan Kebudayaan yang dipandu oleh moderator Kurnia Effendi menghadirkan sejumlah narasumber kenamaan, yakni Jose Rizal Manua, Embi C. Noer, dan Tina Savitri. Diskusi ini mempertegas bahwa keberhasilan Ali Sadikin tidak hanya diukur dari fisik bangunan yang menjulang tinggi, melainkan juga dari fondasi kebudayaan yang ia bangun.

Embi C. Noer, yang juga seorang musikus, menegaskan bahwa setiap zaman memiliki tantangan serta kebutuhan kebijakannya sendiri. Menurutnya, keberhasilan Jakarta menyongsong usia 500 tahun pada 2027 tidak bisa hanya dilihat dari fisik kota semata.

“Keberhasilan Jakarta menyongsong lima abad usianya tidak dapat diukur dari apa yang menjulang di atas tanahnya, tetapi juga dari apa yang tumbuh dalam pemikiran, perasaan, dan imajinasi warganya,” tegas Embi C. Noer.

Ia menambahkan bahwa dalam perlintasan budaya dan rasa itulah sastra Indonesia bergerak menembus ruang dan waktu. Perjalanan budaya tersebut memungkinkan Jakarta untuk menemukan kembali arti kemodernannya yang sejati—bukan sekadar sebagai pusat kekuasaan politik dan aktivitas ekonomi, melainkan sebagai rumah bagi bertumbuhnya kebudayaan Indonesia secara utuh. “Itulah Jakarta dengan Ali Sadikin sebagai gubernurnya,” tambahnya.

Kehadiran antologi esai ini menjadi ruang refleksi bagi masyarakat modern untuk memandang warisan gagasan Ali Sadikin dari berbagai sudut pandang yang bervariasi dan personal.

Acara juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni. Para kontributor buku memberikan testimoni mereka, disusul oleh pembacaan esai karya Acha Ahim dan pembacaan puisi yang membawakan kekuatan emosional oleh Bara Pattyradja. Acara kemudian ditutup dengan penampilan musik akustik yang hangat dari Brandjangan dan Jambul.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait