PojokTIM — Bagi Linda Djalil, setiap peristiwa tak hanya layak diberitakan, tapi juga dirasakan. Ketika sedang meliput untuk bahan berita, tak jarang ia menemukan momen-momen yang menyentuh hati. Naluri penyairnya pun tergerak.
“Saya sering merasa, ini bukan cuma berita, tapi juga puisi,” katanya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika ia meliput pembangunan Terminal Kampung Rambutan. Saat itu, di lokasi belum ada kamar kecil. Orang-orang terpaksa buang hajat di atas rumput. “Pagi di Kampung Rambutan, siangnya saya bertemu Fanny Habibie (Junus Effendi Habibie) di hotel berbintang, dengan kamar mandi yang bersih dan mewah. Kontras sekali. Hari itu saya bukan hanya menulis berita, tapi juga puisi,” ujarnya.
Linda mengisahkan hal itu dalam acara peluncuran dan percakapan buku karyanya yang berjudul Berita Dalam Puisi di Aula PDS HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Sebagai “wartawan istana” di masa lalu, Linda paham benar perbedaan antara menulis berita dan menulis puisi. “Berita harus seribu persen berdasarkan fakta dan data. Sedangkan puisi lebih bebas, tak terikat pada peristiwa tertentu. Saya sekolah di sastra, lalu jadi wartawan, jadi saya punya dua sisi berbeda. Malah saya lebih santai ketika menulis kritik sosial lewat puisi,” tuturnya.
Diskusi buku dengan moderator Rita Sri Hastuti itu menghadirkan dua panelis yakni Hendry Ch Bangun dan Sunu Wasono. Keduanya sepakat bahwa Linda Djalil memiliki kepekaan seorang jurnalis dan hati seorang penyair.
“Kalau ada yang bilang Linda Djalil cerewet, itu tidak salah,” ujar Hendry, Ketua Umum PWI Pusat. “Tapi bagi saya, itu tanda kekritisannya terhadap lingkungan sosial, politik, dan masyarakat. Dia tidak mau hidup nyaman dan pura-pura tidak tahu. Ia aktif menyampaikan aspirasi dan perasaannya.”
Menurut Hendry, banyak puisi Linda berisi satire terhadap perilaku pejabat yang ia anggap tak amanah. “Dia menangkap perasaan rakyat yang bosan dengan sikap pura-pura, dengan pejabat yang seenaknya sendiri,” ujarnya. “Puisi-puisinya kadang menyindir halus, tapi ada juga yang to the point. Seperti tajuk rencana media zaman dulu, tapi versi wartawan yang terusik batinnya.”

Linda Djalil tengah menyimak dengan serius pertanyaan peserta diskusi. Foto: PojokTIM
Sementara Sunu Wasono,mengaku dua kali salah menebak isi buku tersebut. “Saya kira Berita Dalam Puisi diambil dari salah satu judul puisi di dalamnya. Ternyata tidak. Saya juga mengira puisi-puisinya bersumber dari berita. Itu pun meleset,” ujarnya.
Menurut Sunu, antologi Berita Dalam Puisi tidak menyajikan berita dalam bentuk puisi, melainkan memperlihatkan sikap seorang Linda Djalil sebagai penyair. “Tidak semua sajak di buku ini lahir dari berita yang ditulisnya. Justru yang muncul adalah pandangan dan sikap batin penyairnya terhadap berbagai fenomena,” jelasnya.
Ia menambahkan, tema-tema dalam buku ini sangat beragam: tentang ibu, hubungan anak dan orang tua, masa depan, kenakalan remaja, nelayan, prajurit, bahkan KDRT. “Kalaupun ada sajak yang bisa dihubungkan dengan peristiwa nyata, aksentuasi yang muncul bukan pada kebenaran beritanya, tapi pada sikap subjektif penyairnya,” ujarnya.
Acara yang dipandu Ewith Bahar itu berlangsung meriah dan hangat. Sejumlah sastrawan hadir, juga Kepala Perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jassin, Diki Lukman Hakim.





