Hotel Depan TIM

Cerpen Yon Bayu Wahyono

Fazo tiba di pelataran Taman Ismail Marzuki sambil membawa gelas plastik berisi kopi saset yang diseduh tergesa di belakang pos security. Ia langsung bergabung dengan teman-temannya yang sudah berkumpul sejak lampu menyala. Mereka sedang membahas pementasan baca puisi yang digelar Komunitas Candu di PDS HB Jassin.

“Penampilan Sipar masih prima, seperti tahun delapan puluhan,” ujar Rek sambil mengembuskan asap rokok ke udara yang dipenuhi asap knalpot dari kendaraan yang lalu lalang di Jalan Cikini.

“Jika masih dengan gaya seperti itu, berarti monoton, tidak ada kemajuan,” sanggah temannya.

“Dia sengaja mempertahankan sebagai ciri khasnya,” dukung yang lain.

Rek menoleh, mencari sumber suara, meski sudah tahu siapa yang mengucapkan tanpa melihat wajahnya. Rek heran mengapa Pian tiba-tiba membela Sipar. Padahal saat aksi tolak komersialisasi TIM yang digalang Pian, Sipar bukan saja tidak mau bergabung. Ia bahkan menyamakan mereka yang masih menganggap TIM sebagai rumah seniman namun membiarkan pementasan kesenian tanpa kurasi ketat, sebagai pengusung bangkai. Pian pun meradang dan mereka baku hantam di medsos.

Namun sebelum Rek melontarkan selusin argumen, Fazo mendahului dengan kalimat pendek. “Semalam Nuni nginap hotel.” Fazo memonyongkan mulutnya sebagai penunjuk arah hotel yang dimaksud.

Seperti barisan semut, serentak mereka menahan napas. Sebagian mata tertuju pada wajah pembawa kabar, lainnya mengikuti arah yang ditunjukkan. Mereka mengakui, hotel itu memang menjadi bagian dari banyak kisah di TIM. Bukan karena kemegahan arsitekturnya, bukan pula karena menu kuliner di restorannya. Bukan itu. Misterinya pada kisah-kisah yang tidak pernah dilontarkan secara vulgar, namun muncul secara tersirat dalam puisi atau cerpen.

“Sama siapa? Putra?” Pian bertanya dengan agresif, sama seperti saat mengacungkan spanduk menolak pengelolaan TIM oleh perusahaan yang disebutnya kaki tangan kapitalis.

“Kalau sama Putra, untuk apa aku cerita,” bisik Fazo, sengaja menahan informasi demi mengendapkan rasa penasaran pendengarnya. Dan seperti keinginannya, kini teman-temannya merubung dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

“Siapa yang bisa mengajak Nuni ke hotel, Faz? Ari? Aku lihat belakangan mereka makin dekat. Padahal Nuni belum putus dengan Putra.”

Fazo menarik sebatang rokok dari bungkusnya, menyalakan ujungnya, lalu menyeruput kopi hitam dari gelas plastik. Di sekitar mereka, pedagang nasi goreng, sate padang, bebek geprek, hingga penjual minuman segar mulai memantapkan posisi gerobaknya. Sejak ada kafe milik pejabat di dalam area TIM, keberadaan mereka semakin diperketat, bahkan sempat dilarang berjualan di area itu.

“Kamu yakin itu Nuni?” desak seniman berambut gondrong yang dikepang.

“Di nginep di lantai berapa?” pancing yang lain.

Fazo tahu, nama Nuni sedang harum-harumnya. Dia baru saja memenangi sayembara buku puisi. Karyanya bahkan dipuji oleh penyair-penyair senior. Nuni juga akrab dengan mereka karena sejak kemunculannya lima tahun lalu, Nuni rajin menghabiskan waktu di TIM bersama mereka.

“Ade,” bisik Fazo. Suaranya sengaja diturunkan setengah oktaf, memaksa kepala teman-temannya kian mendekat.

Satu kata. Satu nama. Namun gaung yang ditimbulkan sanggup membekukan pelataran itu seketika. Puluhan mulut terperangah. Rasa penasaran yang terbayar justru melahirkan lubang misteri baru yang jauh lebih besar.

Nama Ade jelas melampaui Nuni. Di lingkaran sastrawan, dia seolah memegang stempel keabsahan, semacam nabi yang ludahnya bisa menasbihkan sekaligus mematikan nasib calon penyair dan cerpenis. Jika sebuah karya sempat dibaca oleh Ade, meski tanpa pujian, derajat si penulis otomatis terangkat. Sebaliknya, cukup dengan satu kata “sampah” dari mulutnya, karya sebagus apa pun tak bakal punya masa depan.

Sekarang pikiran mereka mendadak riuh. Nuni yang idealis, yang puisinya dingin dan magis, dan selalu sinis pada komersialisasi seni, berada di hotel bersama Ade.

“Kamu yakin tidak salah lihat?” Rek memecah keheningan, suaranya agak bergetar. Rokok di jarinya dibiarkan terbakar tanpa diisap hingga mendekati filter.

“Mata saya belum kabur untuk mengenali janggut perak dan jaket kulit Ade,” sahut Fazo diiringi senyum lebar. Seperti ada kepuasan tersendiri saat berhasil memegang rahasia yang sanggup meruntuhkan reputasi seseorang. “Mereka naik ke lantai tiga. Tapi aku tidak tahu mereka masuk ke kamar yang mana.”

“Mungkin beda kamar,” kata Ani melontarkan pembelaan. Bukan karena sesama perempuan. Siapa pun tahu mereka tidak pernah akur dalam segala hal. Cetusan Ani lebih pada rasa risi dengan gosip yang tidak jelas.

Pernyataan Ani sukses memancing Fazo. “Aku lihat mereka bergandengan tangan di lift,” tegasnya, memangkas keraguan pendengarnya akibat pernyataan Ani.

“Mau apa mereka di kamar?” kejar seniman muda yang sedang berusaha keras mendapatkan endorsmen dari penyair senior untuk buku puisi pertamanya yang akan segera terbit.

“Pasti membahas festival seribu gunung,” jawab temannya asal-asalan.

“Memangnya ada gunung sebanyak itu?”

Gelak tawa pecah menyertai pertanyaan polos seniman muda.

“Nuni tidak membutuhkan mulut Ade untuk jadi penyair,” seseorang berkata dengan nada bijak. “Dia punya gaya tutur yang unik, dan karyanya sudah banyak mendapat pujian.”

“Benar, Nuni perempuan mandiri. Bahkan Putra tidak mampu mengendalikan keliaran karya-karyanya. Jujur, aku suka dengan gaya bertuturnya yang penuh kejutan. Nuni tidak membutuhkan legitimasi Ade, saya berani bertaruh, jika itu maksud Fazo menceritakan Nuni dan Ade,” kata lainnya.

“Mungkin membutuhkan mulut Ade untuk hal lain,” ledek temannya. Kembali tawa membahana.

“Membantu mengeluarkan inspirasi liarnya,” sambung Pian yang mulai menikmati obrolan.

Fazo ikut terkekeh. Tidak ada keinginan untuk memperpanjang gosip tentang Nuni. Terlebih Ani dan yang lain sudah berganti topik obrolan. Tentang penyair tua yang suka nyinyir pada kehidupan orang lain. Tentu saja bukan ditujukan kepada Fazo, meski sebagian sempat menganggapnya begitu.

Malam menua tanpa disadari. Gelas kopi dan piring nasi goreng bertumpuk di atas rumput. Entah sudah berapa kali topik obrolan berganti. Bahkan beberapa topik dibahas bersamaan sehingga secara alamiah memecah mereka menjadi beberapa kelompok kecil. Namun tidak ada yang membahas puisi, cerpen atau festival sastra. Anehnya, apa pun alur ceritanya, lebih sering berujung pada misteri di balik dinding kamar hotel.

Fazo berdiri, namun tidak menjauh dari teman-temannya. Hatinya tiba-tiba diterpa rasa bimbang. Keinginan untuk ikut temannya bekerja di luar Jawa, semakin rajin menggoda batin. Dua puluh, bahkan sepuluh tahun lalu, tawaran seperti itu pasti akan ditolak. Bukan hanya ditolak, tapi ia juga akan memaki-maki orang yang menawarkan.

“Kamu iblis yang sedang mencoba menyesatkan jalanku,” katanya.

Tetapi kini Fazo mulai meragukan jalan yang telah dipilih. Ia menyaksikan puluhan orang yang pernah berproses di TIM. Satu-dua berhasil, menjadi mercusuar kesenian. Dan seperti sudah menjadi hukum alam, mereka yang berhasil tidak pernah lagi menginjakkan kaki di TIM. Bahkan sepertinya hal itu dianggap bagian dari bukti dia telah berhasil keluar dari cangkang.

Sementara dirinya, dan puluhan temannya yang kini masih asyik memecahkan misteri di balik kamar hotel depan TIM, tetap bertahan. Mereka selalu berkata sebagai seniman idealis, setidaknya ingin dianggap begitu – setia pada jalan perjuangan sekaligus penjaga rumah kesenian.

Fazo mengambil handphone di saku celana. Dua wajah anaknya yang masih kecil, tersenyum di layar. Ia memperhatikan sesaat, sebelum menggeser layar untuk membaca pesan yang masuk. Wajah Fazo mendadak keruh. Ia memasukkan kembali benda gepeng itu ke dalam saku celana.

Rasa sesal mengapa dulu meninggalkan Fauri yang telah memberinya tiga anak dan kini telah mandiri semua, demi gadis polos yang datang ke TIM dengan dua lembar coretan yang disebut puisi, semakin keras menghantam dada.

Fazo memandang hotel depan TIM, tempat pertama kali ia mencumbu gadis polos itu. Getarnya telah lama hilang, setelah dua anak mereka lahir.

Angin berhembus, melewati gedung-gedung tinggi di sekitar TIM. Juga apartemen yang menjulang di sebelahnya. Fazo diam-diam meninggalkan pelataran TIM. Tidak ada yang peduli.

Jakarta, 24 Agustus 2026

 

Bionarasi

Yon Bayu Wahyono adalah penulis kelahiran Jakarta, 4 Mei 1971. Karya-karyanya berupa cerita pendek tersebar di berbagai media massa, seperti Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, The Jakarta Post, tabloid Nova, balipolitika.com, dan kompas.id. Karya fiksi yang sudah diterbitkan: Surat buat Bunda (kumpulan cerpen, 1996), Calon Gubernur (novel, 2008), PRASA: Operasi Tanpa Nama (novel, 2023), KELIR (novel, 2023), [Bukan] Pasaran Terakhir (novel, 2024), dan 1982 (novel, 2025), Prapti Pergi ke Malaysia (kumpulan cerpen, 2025). Mendapat Apresiasi 25 Tahun Berkarya bidang Kesusasteraan dari Badan Bahasa Kemdikdasmen, 2026.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait