Ibu Tali Pusat Kami: Kesadaran Seorang Anak dan Kesabaran Seorang Ibu

Oleh Nanang R. Supriyatin

Wahai Rasulullah! Siapakah yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Beliau (SAW) menjawab, “Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu ayahmu, lalu orang terdekatmu, lalu orang terdekatmu.” – Hadits Riyad as-salihin 316. Shahih Bukhari 5971, dan Shahih Muslim 2548b.

Nama Udi Utama dalam peta perpuisian Indonesia bagi sebagian orang, mungkin, belum begitu familiar. Hal ini selaras dengan biodata tentangnya, yang katanya memulai debutnya dalam sastra sejak tahun 2019. Usia yang dianggap masih berproses. Namun, setelah membaca karya puisinya dalam “Ibu Tali Pusat Kami” (Penerbit: Taresia, November 2025), yang bertitimangsa tahun 2024 – 2025 – menghimpun 52 puisi – faktanya, ia memiliki talenta yang tak bisa diabaikan. Penyair kelahiran Semarang, 14 Desember 1971 ini selain menulis puisi, juga menulis cerita pendek dan pelatih teater. Belakangan ia aktif mem-backup event-event sastra sebagai dokumentator. Pada tahun 2019, Udi Utama sudah menerbitkan Kumpulan puisi Tunggal berjudul “Dua Baris Romantis”. Puisi-puisinya juga dapat dibaca di beberapa antologi puisi bersama, serta di majalah online Note Journey, Majalah Cinta dan 7detik.com.

Ibu, di Mata Keluarga

Menulis tema tentang Ibu dalam membangun larik dan menjadikannya sebuah puisi, boleh dikatakan merupakan ikonik. Ibu senantiasa ditempatkan di tempat yang paling indah, sehingga terasa keberadaannya sangat permanen. Peranan ibu, sebagaimana hadits di atas begitu dominan. Ibulah yang mengandung selama sembilan bulan, bahkan lebih. Ibulah yang pertama kali hadir dan berdoa ketika sang bayi keluar dari rahimnya. Ibulah yang kemudian membesarkan, mendidik, menyayangi, mengasihi tanpa minta imbalan sedikit pun. Pada puisi “Ibu Tali Pusat Kami” yang juga dijadikan judul buku, penyair menuangkan ungkapan bait-bait penuh ekspresif. Dengan keterbukaannya, penyair menyampaikan kalau ia adalah 5 +1 (6 orang bersaudara), dilahirkan dari Rahim ibu yang sama. Dari 6 bersaudara, waktu dan keadaan memilih mereka untuk masing-masing berjuang (untuk hidup). Namun, corong mereka tetap satu; yakni ibu.

IBU TALI PUSAT KAMI

Kami enam
Dilahirkan dari rahim yang sama-
Satu ibu satu mata air doa
Waktu melarikan kami ke penjuru bumi:
Ada yang ke utara
Ada yang ke kota
Ada yang hilang dalm rebut ambisi
Dan aku
Menatap langit yang sama

Kami enam
Bersaudara bukan karena nama belakang
Tapi karena dahi kami semua
Pernah dicium oleh tangan yang sama
Tangan ibu
Yang tak pernah memihak
Tak pernah Lelah
Meski tubuhnya makin ringkih
Dan rambutnya mulai mengabur pagi

Ibu duduk di tengah waktu
Seperti sumur tua
Yang airnya tak pernah kering
Darinya kami minum kasih
Setiap kali kami menjauh
Suara doanya memanggil kami pulang
Ke hati yang tak pernah menutup pintu
Saudara-saudaraku
Aku tahu kita sibuk jadi dewasa
Sibuk mengejar hari
Tapi jangan lupa:
Kita satu simpul
Yang diikat oleh napas Ibu
Di setiap subuhnya

Dan jika nanti beliau tiada
Biarlah cinta yang ditanam
Jadi akar yang tumbuh di dada kita
Agar jarak tak jadi jurang
Rindu tak jadi abu
Kita tetap enam
Dalam peluk yang satu

Depok, 15.05.2025

Saya kira hampir semua penyair pernah menulis puisi tentang ibu. Ibu akan selalu ada, di samping Tuhan tentunya. Selain D. Zawawi Imron yang menulis puisi tentang Ibu, yang kemudian sangat melekat di hati pembacanya dan sangat dihafal teksnya. Banyak penyair Indonesia juga menulis tentang ibu. Chairil Anwar dalam puisinya, “Ibu” menggambarkan pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu. Wiji Thukul dalam “Sajak Ibu” – bagaimana penyair menceritakan tentang perjuangan seorang ibu. “Surat Untuk Ibu” karya Joko Pinurbo, pun tak jauh beda bagaimana ia mengungkapkan rasa terima kasih dan cintanya kepada ibu.

Di mata keluarga (baca: keluarga Udi Utama), ibu merupakan cermin dan bayang, di mana jiwa dan raganya selalu menyatu bagi anak-anaknya. Udi Utama hadir sebagai juru bicara yang ia ekspresikan melalui puisi. Bersama 5 saudaranya, ia akan senantiasa menjaga ibu. Kepekaan dan kebiasaan mendengar nasihat ibu bagi anak-anaknya dapat dibaca melalui judul puisi “Nasehat Ibu untuk Enny Juniarty” (hal. 16), “Bisik Lembut Ibu; Eli Yusnizar” (hal. 17), “Pesan untuk Ita” (hal.18), “Cahaya Harapan untuk Iman Satriana” (hal. 19), dan “Harapan Ibu Pada Fitri” (hal. 21).

Dalam puisi berjudul “Ibu Laut” (hal. 26), penyair menggambarkan ibu bagaikan laut. Seperti kita ketahui, laut itu luas, namun ia tetap bereaksi sebagai yang menampung serta menjaga saat sang anak mengembara. Ibu bagaikan laut yang selalu menampung hal ihwal yang dikeluhkan anak.

IBU LAUT

Aku berlayar
Di dada ombak
Mencari arti kehidupan
Yang sejak mula
Telah kau jaga
Dalam palung matamu

Ibu kaulah lautku
Luas pekat dan setia menggelora
Tak ada peta yang lebih jujur
Dari gelisahmu
Saat aku hanyut
Pada pelabuhan yang salah

Kau tak lantang
Tapi gelegakmu
Mengajarku
Tentang badai dan sabar
Tentang angin yang menyesatkan
Dan kompas bernama doa

Aku ini perahu
Tapi kau tak pernah tenggelamkan
Kau tampung semua
Petir arus
Bahkan luka yang kulempar ke tubuhmu

Buih tak menghapus namamu
Topan tak mengurai cintamu

Ibu
Jika kelak aku karam
Biarlah gelombangmu
Jadi kafanku

Depok, 11.07.2024

Puisi-puisi Udi Utama dalam buku “Ibu Tali Pusat Kami”, umumnya diungkapkan dengan polos melalui bentuk naratif, dengan enjabemen dihampir sebagian besar puisinya. Terkadang penyair hadir sebagai saksi bagi perjalanan keluarga. Namun, tak jarang ia melakukan kontemplasi untuk dirinya sendiri. Dari 52 puisi, hanya satu puisi yang bicara tentang ‘ayah’ yang telah wafat, sebagaimana di bawah ini:

BERZIARAH KE MAKAM AYAH

Langkah kami seirama
Di tanah yang tak pernah lupa
Ibu memimpin jalan
Dengan doa yang teruap dalam diam

Di sini di antara batu nisan
Tubuh ayah yang sudah lama hilang
Masih hidup dalam tiap bisik angin
Dalam tiap gerimis doa yang ibu panjatkan

Kami berdua berdiri
Seperti memanggil kembali wajah yang hilang
Seperti mengulang cerita yang tak pernah selesai
Mata ibu masih basah
Melihat kea rah tempat yang sepi
Aku tahu
Di balik tatapannya
Ada berjuta kenangan

Aku ingin bertanya
Apa yang masih kau cari di sini?
Tapi bibirmu terkunci
Hanya doa yang keluar
Seperti udara yang tak berhenti mengalir
Aku hanya bisa berdiri di sisimu
Merasa hidup dalam hening yang begitu dalam

Ayah yang tak tampak
Tetap ada di sini
Di setiap detik yang kita lalui
Di setiap Langkah yang tak pernah lepas dari kenangan
Kami pulang
Dengan hati yang tak lagi penuh kesedihan
Karena kita tahu
Ayah selalu ada
Meski hanya dalam doa yang tak pernah padam

Depok, 07.10.2024, hal. 96 – 97)

Kesabaran serta keberanian Udi Utama saat mengungkapkan bait-bait ke dalam puisi, akan selalu menjadi perhatian banyak orang. Dan saya percaya, bagi Udi, teman adalah guru terbaik. Melalui endorsemen yang disampaikan D. Zawawi Imron, Sunu Wasono, Rohani Din, Maisaroh Yaacob, Rini Intama dan Fanny J. Poyk – kelak akan memacu kesadaran kalau ternyata puisi dapat menciptakan rasa simpati serta rasa empati yang positif.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait