KOLAM KECIL
kolam kecil itu sudah ada
sejak sebelum aku lahir
taman tampak sangat indah
ketika aku lihat dari rumah
saat sore atau di pagi yang hening
aku belajar berenang pada ayah
juga teman
dan siapa saja yang kutemui
di sepanjang perjalanan
hingga aku mahir merenanginya
menyeberangi hingga
tiap sudutnya
menyelami hingga dasarnya
kolam itu masih di sana
masih tampak indah
namun di senja yang mulai temaran
aku tak tahu lagi
untuk apa aku merenangi
sebab tidak ada yang peduli
meski sesungguhnya
aku tak butuh sorak
kini aku hanya ingin duduk
di pinggirnya
tapi kecipak kolam terus memanggil
untuk kurenangi
Oleh IRZI
Puisi “Kolam Kecil” karya Yon Bayu Wahyono di atas bergerak dengan kesederhanaan yang nyaris polos. Ia tidak ribet, tidak penuh metafora berlapis yang membingungkan, tidak berpretensi filosofis secara terang-terangan. Justru karena itulah ia terasa akrab—seperti percakapan sore hari dengan diri sendiri. Namun dalam kesederhanaan itu, tersembunyi satu persoalan besar: bagaimana menjaga agar puisi yang sederhana tetap memiliki daya pukau, daya tusuk, dan daya tinggal yang lama dalam ingatan pembaca?
Puisi ini dibuka dengan dua baris yang tenang dan efektif: “kolam kecil itu sudah ada / sejak sebelum aku lahir”. Ada kesadaran waktu di sini. Kolam hadir sebagai sesuatu yang lebih tua daripada subjek lirik. Ia mendahului “aku”. Dalam dua baris ini, sudah terbentuk hubungan yang menarik antara individu dan sesuatu yang lebih besar darinya—tradisi, dunia, lingkungan, atau mungkin sistem kehidupan itu sendiri. Kolam bukan ciptaan si aku; ia adalah realitas yang diwariskan.
Namun setelah pembukaan yang menjanjikan ini, puisi segera masuk ke wilayah deskripsi yang cukup umum: “taman tampak sangat indah / ketika aku lihat dari rumah / saat sore atau di pagi yang hening”. Di sini kita mulai merasakan kecenderungan penggunaan kata-kata abstrak seperti “indah” dan “hening”. Masalahnya bukan pada kata-kata itu sendiri, melainkan pada ketiadaan detail yang membuatnya unik. Indah yang bagaimana? Hening yang seperti apa? Apakah hening itu retak oleh suara burung? Apakah cahaya sore memantul di permukaan kolam seperti kaca retak? Tanpa detail konkret, keindahan itu menjadi generik, seperti kartu pos yang terlalu sering dicetak ulang.
Puisi yang kuat biasanya tidak memberi tahu kita bahwa sesuatu itu indah; ia membuat kita merasakannya. Di sinilah peluang pertama yang bisa dibenahi: memperkaya citraan. Kolam sebagai objek fisik memiliki begitu banyak kemungkinan sensorik—bau air yang sedikit amis, rasa dingin yang menggigit kulit, pantulan cahaya, suara cipratan kecil. Ketika detail-detail ini dihadirkan, pembaca tidak hanya membaca, tetapi ikut berdiri di tepi kolam itu.
Bagian berikutnya membawa kita pada memori masa kecil: “aku belajar berenang pada ayah / juga teman / dan siapa saja yang kutemui”. Ada kehangatan di sini. Sosok ayah muncul, meski hanya sekilas. Menariknya, figur guru tidak berhenti pada ayah, tetapi meluas menjadi “siapa saja yang kutemui”. Ini membuka kemungkinan bahwa proses belajar adalah proses kolektif, sosial, tidak eksklusif. Namun lagi-lagi, puisi berhenti pada pernyataan, bukan pengalaman. Bagaimana ayah itu mengajar? Apakah dengan sabar memegang perut anaknya? Atau dengan mendorongnya agar berani tenggelam sebentar? Tanpa adegan yang lebih hidup, relasi ini terasa samar.
Kemudian puisi bergerak ke fase kemahiran: “hingga aku mahir merenanginya / menyeberangi hingga / tiap sudutnya / menyelami hingga dasarnya”. Repetisi kata “hingga” menciptakan ritme progresif, semacam gerak maju yang konsisten. Ada semangat pencapaian di sini. Si aku tidak sekadar bisa berenang; ia menguasai kolam itu sepenuhnya—sudut demi sudut, dasar demi dasar. Secara simbolik, ini bisa dibaca sebagai metafora penguasaan hidup atau pengalaman. Namun justru karena metaforanya begitu terbuka, ia menjadi kurang tajam. “Menyelami hingga dasarnya” adalah frasa yang sudah sangat akrab dalam bahasa kita untuk menyatakan kedalaman pemahaman. Ketika metafora terlalu umum, ia kehilangan kejutan.
Kolam di sini tampaknya bukan sekadar kolam. Ia bisa dibaca sebagai arena kehidupan, ruang sosial, atau bahkan perjalanan kreatif. Tetapi puisi tidak secara eksplisit atau implisit memperkaya simbol ini dengan lapisan tambahan. Ia tetap berada di permukaan makna yang cukup literal. Padahal, jika simbol kolam diperdalam—misalnya dengan menggambarkan perubahan airnya, retaknya ubin, atau tumbuhnya lumut—maka perjalanan waktu dan perubahan batin si aku akan terasa lebih konkret.
Bagian ketiga puisi membawa perubahan nada yang cukup signifikan: “kolam itu masih di sana / masih tampak indah / namun di senja yang mulai temaran / aku tak tahu lagi / untuk apa aku merenangi”. Di sini konflik utama muncul. Kolam tetap ada, tetap indah. Dunia tidak berubah. Yang berubah adalah motivasi si aku. Ia mulai mempertanyakan tujuan. Untuk apa berenang, jika tidak ada yang peduli?
Baris “sebab tidak ada yang peduli / meski sesungguhnya / aku tak butuh sorak” adalah inti psikologis puisi ini. Di dalamnya terdapat kontradiksi yang sangat manusiawi. Di satu sisi, ada kekecewaan karena tidak dipedulikan. Di sisi lain, ada klaim bahwa ia tidak membutuhkan sorak-sorai. Inilah wilayah yang paling potensial untuk digali lebih dalam. Apakah benar ia tidak butuh sorak? Jika benar, mengapa ketiadaan kepedulian membuatnya kehilangan semangat? Apakah ia sedang menyangkal kebutuhan akan pengakuan? Atau ia sedang mencoba meyakinkan diri sendiri?
Kontradiksi ini sangat kaya secara emosional, tetapi puisi hanya menyentuhnya sepintas. Ia belum membedah ambivalensi itu. Padahal, justru dalam keraguan dan tarik-menarik itulah puisi bisa menjadi lebih hidup. Jika si aku digambarkan menunggu seseorang di tepi kolam, atau diam-diam berharap ada yang melihatnya berenang, maka konflik batinnya akan terasa lebih nyata. Saat ini, konflik itu masih berupa pernyataan, belum menjadi pengalaman yang terasa.
Bagian akhir puisi menawarkan pergeseran yang lembut namun penting: “kini aku hanya ingin duduk / di pinggirnya / tapi kecipak kolam terus memanggil / untuk kurenangi”. Ada kelelahan di sini, tetapi juga ada godaan untuk kembali. Kata “kecipak” adalah salah satu pilihan diksi yang paling berhasil dalam puisi ini. Ia menghadirkan suara. Kita bisa mendengar air yang beriak kecil, seolah memanggil. Di sini kolam tidak lagi pasif; ia menjadi agen, memiliki daya tarik sendiri.
Secara keseluruhan, puisi ini memiliki struktur yang jelas: masa lalu (belajar dan mahir), masa kini (krisis makna), dan kemungkinan masa depan (godaan untuk kembali). Struktur ini adalah kekuatan. Ia tidak berputar-putar tanpa arah. Namun agar menjadi lebih “maknyus”, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan.
Pertama, penguatan citraan konkret. Puisi akan lebih hidup jika pembaca bisa melihat, mendengar, dan merasakan kolam itu. Detail kecil sering kali lebih kuat daripada pernyataan besar. Daripada mengatakan taman itu indah, gambarkan satu adegan kecil yang membuat kita tahu ia indah.
Kedua, pengurangan frasa klise. Ungkapan seperti “pagi yang hening” atau “menyelami hingga dasarnya” sudah terlalu sering dipakai. Tantangannya adalah menemukan cara baru untuk menyampaikan pengalaman yang sama dengan bahasa yang lebih segar.
Ketiga, pendalaman konflik batin. Kontradiksi antara tidak butuh sorak dan merasa tak dipedulikan adalah harta karun emosional. Jika digali lebih dalam, puisi ini bisa menjadi refleksi tajam tentang kebutuhan akan pengakuan, tentang kelelahan eksistensial, atau tentang relasi antara kemampuan dan makna.
Meski demikian, ada sesuatu yang patut dihargai dari puisi ini: kejujurannya. Ia tidak berusaha menjadi rumit. Ia tidak menyembunyikan diri di balik simbol-simbol gelap. Ia berbicara tentang kelelahan dengan cara yang sederhana. Dan mungkin, justru dalam kesederhanaan itulah kolam kecil ini menemukan daya tariknya.
Kolam itu masih di sana. Ia tidak berubah. Yang berubah adalah si aku, yang mulai bertanya untuk apa ia terus berenang. Pertanyaan itu terasa relevan dalam banyak aspek kehidupan: bekerja, berkarya, berjuang. Ketika tidak ada yang melihat, ketika tidak ada yang bersorak, apakah kita masih mau menceburkan diri?
Puisi ini sudah memiliki pertanyaan yang tepat. Tugas berikutnya adalah memperdalam cara ia mengajukannya. Jika Yon Bayu berani menyelam lebih jauh ke dalam detail, ke dalam ambivalensi, dan ke dalam bahasa yang lebih presisi, maka kolam kecil ini tidak hanya akan menjadi tempat berenang. Ia akan menjadi cermin yang memantulkan kegelisahan kita sendiri.
Dan ketika itu terjadi, kita tidak hanya membaca tentang seseorang yang duduk di tepi kolam. Kita akan ikut duduk di sana, mendengar kecipak air, dan merasakan panggilan yang sama—apakah akan kembali berenang, atau tetap diam menatap permukaan yang perlahan menggelap.
Mari kita coba masuk lebih praktis: bukan lagi membahasnya dari luar, tapi benar-benar menyentuh teksnya dan melihat di mana ia bisa “diperas” supaya lebih padat, lebih tajam, dan lebih berjejak. Saya akan beri dua hal: (1) prinsip revisi yang konkret dan (2) contoh versi revisi sebagai simulasi kemungkinan arah penguatan.
Pertama, apa yang bisa dibenahi?
Puisi ini sebenarnya sudah punya tulang yang kuat: ada objek tetap (kolam), ada perjalanan waktu (sebelum lahir → masa belajar → mahir → krisis → godaan kembali), dan ada konflik batin. Itu sudah fondasi yang bagus. Yang perlu didorong adalah:
Perkaya detail konkret.
Alih-alih menyebut “indah” atau “hening”, hadirkan satu atau dua detail yang membuat pembaca melihat sendiri keindahan itu.
Kurangi frasa umum.
Frasa seperti “menyelami hingga dasarnya” atau “pagi yang hening” bisa diganti dengan gambaran yang lebih spesifik.
Tajamkan konflik batin.
Kontradiksi antara “tidak ada yang peduli” dan “aku tak butuh sorak” adalah jantung puisi—itu perlu diperjelas, mungkin dengan sedikit gestur atau adegan kecil.
Sekarang, mari kita coba contoh revisi. Ini bukan versi final yang mutlak, melainkan demonstrasi bagaimana puisi bisa dibuat lebih “maknyus” lewat penguatan detail dan ketegangan batin.
KOLAM KECIL
(versi revisi)
kolam kecil itu sudah ada
jauh sebelum namaku dipanggil
airnya menyimpan langit
dan daun-daun yang gugur pelan
dari jendela rumah
aku melihatnya berkilau
setiap sore—cahaya oranye
pecah di permukaannya
pagi hari ia dingin dan diam
seperti menahan napas
aku belajar berenang pada ayah
tangannya menyangga perutku
“jangan takut,” katanya,
lalu ia lepaskan
dan air memelukku sepenuhnya
aku menelan klorin
batuk, tertawa, mencoba lagi
bersama teman-teman
yang berteriak memanggil namaku
dari seberang
lama-lama aku hafal
retak di ubin dasar
bayanganku sendiri
yang terombang-ambing
aku menyeberanginya berkali-kali
seolah ada sesuatu
yang harus kutaklukkan
kolam itu masih di sana
airnya tetap memantulkan langit
namun senja kini lebih redup
dan aku tak lagi yakin
untuk siapa aku berenang
tak ada yang menunggu di tepi
tak ada nama yang diteriakkan
aku bilang pada diriku
aku tak butuh sorak
tapi mengapa dada ini kosong
setiap kali air tak beriak?
kini aku duduk di pinggirnya
mencelupkan kaki
membiarkan lingkaran kecil
menyebar lalu hilang
kolam itu tak pernah berubah
ia hanya berkilau,
seolah berkata:
air tetap air—
kaulah yang ragu
Apa yang berubah di sini?
* Detail konkret ditambahkan (retak ubin, klorin, cahaya oranye, lingkaran air).
* Konflik batin dibuat lebih eksplisit lewat pertanyaan retoris.
* Relasi dengan ayah dibuat lebih visual dan emosional.
* Penutup diganti dengan citraan dan kalimat yang memberi resonansi, bukan sekadar desahan.
Tentu, revisi bisa juga diarahkan lebih minimalis—bukan menambah, tapi justru memangkas dan memadatkan. Kadang “maknyus” itu bukan soal lebih banyak, tapi lebih tepat.
Jika Yon Bayu ingin menjaga kesederhanaan gaya aslinya, maka kuncinya bukan memperumit, melainkan memperjelas. Satu detail yang presisi lebih kuat daripada tiga kata sifat umum.





