PojokTIM – Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ) menegaskan posisinya sebagai rumah besar bagi seluruh penggiat seni dan kebudayaan di ibu kota. Organisasi ini tidak hanya menaungi seniman dan pelaku seni, tetapi juga akademisi, pengelola ruang budaya, penyokong kegiatan seni, hingga warga yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan kebudayaan Jakarta.
Penegasan itu disampaikan Ketua MKJ Arie Batubara dalam acara peresmian pengurus MKJ periode 2025–2030 yang digelar di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Selasa (10/2/2026).
“MKJ sudah lama ada sebagai gagasan dan jejaring, namun baru dideklarasikan secara resmi pada 2019. Kini kami ingin memperkuat perannya sebagai ruang bersama bagi semua yang peduli pada kesenian Jakarta,” ujar Arie.
Peresmian pengurus dirangkai dengan Malam Kesenian Jakarta yang mengusung tema Seni dalam Lanskap Jakarta sebagai Kota Global. Tema ini dipilih untuk menegaskan bahwa perubahan status Jakarta dari ibu kota negara menjadi kota global tidak boleh hanya dimaknai secara ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga harus dibaca sebagai tantangan kebudayaan.
Malam kesenian tersebut menampilkan beragam ekspresi seni lintas tradisi dan disiplin, mulai dari pembacaan cerpen, tari Betawi, tari topeng Cirebon, dramatik reading, hingga pementasan world music hasil kolaborasi Mahagenta dan Horja Bius. Ragam pertunjukan itu merefleksikan wajah Jakarta sebagai kota pertemuan berbagai latar budaya.
Ketua Panitia Mustafa Ismail menegaskan bahwa Jakarta bukan semata pusat bisnis dan pemerintahan, melainkan juga ruang tempat berbagai ekspresi estetik tumbuh dan saling berjumpa.
“Lanskap seni Jakarta terus berkembang secara berlapis dan penuh dinamika. Melalui Malam Kesenian Jakarta, kami ingin menghadirkan ruang temu bagi beragam ekspresi estetik dalam konteks Jakarta sebagai kota global,” kata Mustafa.
Menurutnya, keberagaman ekspresi seni menjadi penting agar Jakarta tidak kehilangan dimensi kulturalnya di tengah percepatan pembangunan fisik dan arus kapital.
Tausyiah Budaya
Dimensi pemikiran tentang posisi seni dalam kota global diperdalam melalui tausyiah atau pidato kebudayaan yang disampaikan Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia sekaligus Kepala Makara Art Center (MAC) UI, Ngatawi Al-Zastrouw.
Zastrouw membuka pidatonya dengan alegori tentang seekor katak yang iri pada kegesitan ular. Demi bisa meniru ular, katak itu justru memotong keempat kakinya yang dianggap menghambat. Alih-alih menjadi gesit, ia justru kehilangan daya hidupnya sendiri.
“Seandainya katak cerdas, ia tidak akan meniru ular, melainkan mengenali dan memaksimalkan potensi dirinya, misalnya dengan melompat setinggi mungkin,” ujar Zastrouw.

Ngatawi Al-Zastrouw
Alegori itu ia gunakan untuk menggambarkan dilema kebudayaan dalam menghadapi globalisasi. Menurutnya, kota global memiliki tiga ciri utama: menjadi pusat perekonomian, didukung teknologi yang menghubungkannya dengan masyarakat dunia, serta memiliki kebudayaan yang tumbuh dan hidup di dalamnya.
Namun, posisi kesenian dalam kota global sangat bergantung pada cara pandang yang digunakan. Dari perspektif teknokratik-kapitalistik, seni diperlakukan sebagai komoditas yang harus laku dijual. Jika logika ini sepenuhnya mendominasi, seni tradisi seperti lenong dan ondel-ondel berpotensi tersingkir karena dianggap tidak ekonomis.
“Kalau ukurannya hanya laku atau tidak laku dijual, maka seni tradisi akan kalah sejak awal,” katanya.
Sebaliknya, dari perspektif seniman dan kebudayaan, seni berfungsi sebagai jangkar peradaban agar masyarakat tidak sepenuhnya hanyut dalam arus ekonomi. Seni memberi orientasi nilai, identitas, dan cara membaca perubahan zaman.
Zastrouw menilai bahwa kesenian yang dibutuhkan kota global bukan sekadar yang mudah dipasarkan, tetapi yang memiliki akar budaya, karakter masyarakat, serta daya kreatif dan inovatif.
“Kesenian yang berakar pada budaya lokal justru bisa dikapitalisasi dalam kota global tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya.
Ia mencontohkan China dan Jepang yang berhasil mengeksplorasi kebudayaan tradisional mereka sebagai sumber kreativitas modern, sehingga mampu tampil sebagai kekuatan ekonomi sekaligus kebudayaan di tingkat global.
Menurut Zastrouw, Indonesia sesungguhnya memiliki mata air kesenian yang sangat melimpah. Namun, potensi itu kerap tersumbat oleh dua tekanan yang datang dari arah berbeda.
Dari satu sisi, kapitalisme cenderung hanya memberi panggung pada kesenian yang menghasilkan keuntungan material. Seni yang tidak mudah dijual sering tersingkir dari ruang publik.
Dari sisi lain, terdapat tekanan dari paham puritan yang memandang sebagian ekspresi budaya sebagai sesuatu yang menyimpang atau bid’ah.
“Sumbatan dari arah puritan ini justru yang paling berat, karena langsung memutus hubungan masyarakat dengan tradisi kulturalnya,” tegas Zastrouw.
Ia menilai, kota global justru membutuhkan seniman-seniman yang kreatif dan inovatif, yang mampu membaca potensi kebudayaan sebagai sumber daya, lalu mengolahnya menjadi karya yang relevan dengan zaman sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Dalam konteks itu, keberadaan MKJ dipandang strategis sebagai ruang konsolidasi gagasan dan jejaring bagi para pelaku seni dan kebudayaan di Jakarta.
Peresmian pengurus MKJ periode 2025–2030 menjadi penanda awal bagi penguatan peran organisasi ini dalam merespons perubahan Jakarta. MKJ diharapkan tidak hanya menjadi forum silaturahmi seniman, tetapi juga ruang advokasi kebudayaan serta jembatan dialog antara seniman, akademisi, dan pemangku kebijakan.
Acara Malam Kesenian Jakarta dipandu oleh MC Nuyang Jaimee dan Imam Ma’arif, dan berlangsung dalam suasana reflektif sekaligus perayaan. Kehadiran berbagai bentuk seni dalam satu panggung menegaskan bahwa Jakarta sebagai kota global membutuhkan kesenian sebagai fondasi kebudayaan, bukan sekadar pelengkap pembangunan.
Melalui momentum ini, MKJ menyatakan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang temu dan ruang ekspresi bagi kesenian Jakarta, agar transformasi kota tidak memutus hubungan dengan akar budaya yang telah lama tumbuh di dalamnya.





