Puisi-Puisi Khairani Piliang
CERMIN TANPA WAJAH
aku adalah huruf tercerai
di lauhul mahfudz
tintanya menetes terlalu jauh
tapi ia sangat dekat
dekat sekali
lalu kalam pertama datang di padang batin
bersabda: hu dzatullah
payungnya berdiri terbuat dari kabut
yang kusebut rumah
padahal dengan sedikit angin
rubuhlah semua
cawan kosong diletakkan di hadapanku
“minumlah,” bisiknya
yang disuguhkan adalah ketiadaan
aku gemetar
sebab selama ini mabuk oleh bayang-bayang sendiri
aku menari di sekeliling berhala
kupahat dari keinginan
menjadi sebentuk azimat
napas jadi tuhan kecil kusembah
lalu,
datanglah bulan itu “ramadhan”
ia adalah pisau tak terlihat
menyembelih tanpa darah
menggiringku ke altar sunyi
tempat ego digantung
seperti kain kafan belum terpakai
lapar menjelma seruling bambu
tempat tubuh dilubangi satu demi satu
agar angin-Mu masuk menjadi nada
yang meluruhkan segala ingin
haus menjelma gurun putih
tempat jejak kaki menghilang
sebelum sempat kuakui lelah
pada malam-malam hening
aku berdiri di hadapan cermin gelap
tak ada wajah di sana
hanya kabut perlahan terangkat
menyingkap rahasia
kucari sejak mula
ia adalah pintu terbuka
menuju ruang di mana waktu meleleh
dan nama-nama luruh seperti daun kering
aku ingin karam di samudra itu
bukan sebagai kapal
tapi garam hilang ketika menyentuh air
biarlah aku menjadi debu
tersedot pusaran cahaya
menjadi bayang lenyap ditelan matahari
ketika fajar terbit di ufuk dada
jangan kembalikan aku sebagai diri
cukup biarkan yang tertinggal
hanya lidah yang selalu menyebutNya dalam zikir
: subhanallah alhamdulillah walailahaillallah allahuakbar
Jakarta, 16 Feb 2026
DEBU DAN CAHAYA
bulan menetes di cawan malam
di mana aku duduk di ambang diri
menakar debu hati
“datanglah,” bisik angin
“lepaskan fana”
bayanganku menari
melipat dirinya sendiri
lalu aku tersadar
hilangkan ego
menolak cinta selainNya
ramadan pintu tafakur
api menyalakan kembali
jiwa yang tertidur
menuntun ke dalam telaga tanpa tepi
di mana hanya ada aku dan Dia
dalam satu dimensi
Jakarta, 16 Feb 2026
MUSIM MENJERNIHKAN ARAH
malam menipis
gelap mewujud bening di permukaan
wajah-wajah yakin: takzim
ramadan tiba
jeda napas bermaskumambang
di sela ada dan tiada
hati ditimbang membuang bimbang
taqwaku setajam pedang
lidah dilipat mata merunduk
tangan tengadah sunyi
nadi bertasbih: subhanallah
dada gemuruh
satu pintu terbuka
setetes embun
meresap ke jiwa retak
menuai bulan ampunan
dan simpul-simpul luruh
api mereda bara
niat mengendap jernih
dari telaga rasa
ditimba sedari imsyak ke magrib
aku tak ingin bulan ini berlalu
meski ruang telah disapu hening
cahaya kecil tertinggal
tenang
cukup jadi penuntun jalan pulang
Jakarta, 16 Feb 2026
Khairani Piliang adalah penulis aktif dalam dunia sastra Indonesia, khususnya di bidang cerpen dan puisi. Merupakan penulis buku Kumpulan Cerpen “Suatu Pagi di Dermaga” yang rilis tahun 2017, dan Kumpulan Puisi “Seduh Sedih yang Bertasbih” rilis tahun 2025, serta telah berkontribusi dalam lebih dari 50 buku antologi bersama, baik cerpen maupun puisi. Karya-karyanya tersebar di berbagai media cetak dan daring nasional, menunjukkan konsistensi dan kekuatan gaung suara dalam lanskap kesusastraan kontemporer.
Selain menulis, juga terlibat dalam berbagai kegiatan literasi dan juga juri di sejumlah lomba penulisan. Ia juga pernah menorehkan prestasi sebagai pemenang dalam lomba penulisan kreatif buku yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Profinsi DKI Jakarta, Pusat Dokumetasi HB Jassin dan Dapur Sastra Jakarta, semakin menegaskan reputasinya sebagai penulis yang produktif dan berpengaruh.
Melalui karya dan aktivitasnya, Ia terus berkontribusi dalam membangun ekosistem sastra yang inklusif dan berdaya, menjadikan setiap perjumpaan sastra sebagai ruang bertumbuh bersama.
Email: khairanipiliang76@gmail.com IG: ranipiliang76 FB: Khairani Piliang





