Sastra Indonesia di Era Global: Di Mana Bahasa Indonesia?

Oleh Nia Samsihono

Perdebatan tentang kondisi sastra Indonesia tampaknya tidak pernah benar-benar selesai. Setiap generasi memiliki kegelisahannya sendiri. Generasi yang lebih senior sering menyoroti kedalaman pengetahuan dan tradisi membaca yang dianggap menurun. Sementara generasi yang lebih muda melihat perubahan besar dalam ekosistem sastra: akses global yang semakin terbuka, jaringan penerbitan internasional, hingga berbagai platform digital yang memperluas ruang belajar.

Hari ini seorang penulis muda Indonesia dapat membaca puisi Amerika Latin, novel Jepang, atau teori sastra Eropa hanya melalui layar kecil di tangannya. Perpustakaan digital membuat jarak geografis hampir tidak lagi menjadi penghalang. Workshop menulis, kelas sastra daring, hingga residensi penulis di berbagai negara juga semakin mudah diakses. Dalam arti tertentu, generasi baru memang hidup dalam dunia sastra yang jauh lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya.

Perubahan ini membuat sastra Indonesia semakin sering masuk dalam percakapan global (benarkah? Berapa banyak?). Beberapa penulis Indonesia bahkan telah menembus jaringan penerbit internasional melalui karya yang diterjemahkan ke berbagai bahasa. Hal ini menunjukkan bahwa sastra Indonesia tidak lagi sepenuhnya bergerak dalam ruang domestik.

Namun justru di tengah keterbukaan global itu muncul sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi mendasar: di manakah posisi bahasa Indonesia dalam sastra Indonesia hari ini?

Pertanyaan ini penting karena sejak awal kelahirannya, sastra Indonesia sebenarnya bertumpu pada bahasa. Ketika para pemuda pada tahun 1928 menyatakan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, mereka bukan hanya membuat keputusan politik. Mereka juga membuka ruang bagi lahirnya imajinasi baru dalam bahasa yang sama.

Para sastrawan generasi awal—dari Amir Hamzah hingga Chairil Anwar—tidak sekadar menulis karya sastra. Mereka sedang membentuk bahasa Indonesia menjadi bahasa yang lentur, puitik, dan mampu menampung pengalaman manusia yang kompleks. Sastra menjadi laboratorium tempat bahasa diuji, diperluas, dan diperkaya. Karena itu dalam sejarahnya, sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri.

Di era global sekarang ini, hubungan tersebut menghadapi tantangan baru. Penulis Indonesia membaca semakin banyak karya dunia, berinteraksi dengan berbagai tradisi sastra, bahkan sebagian mulai menulis langsung dalam bahasa asing. Hal ini tentu membuka kemungkinan baru bagi sastra Indonesia untuk hadir dalam percakapan global.

Namun pengalaman sastra dunia menunjukkan bahwa karya yang mampu berbicara secara global hampir selalu berakar kuat pada bahasa dan pengalaman lokalnya sendiri. Gabriel García Márquez menulis dari bahasa Spanyol Amerika Latin. Haruki Murakami menulis dari bahasa Jepang. Karya mereka menjadi milik dunia bukan karena meninggalkan bahasa sendiri, tetapi karena bahasa itu mampu membawa pengalaman manusia yang universal.

Barangkali hal yang sama juga berlaku bagi sastra Indonesia hari ini. Keterbukaan global adalah kesempatan yang berharga, tetapi kekuatan sastra Indonesia tetap terletak pada kemampuannya mengolah pengalaman manusia Indonesia melalui bahasa Indonesia.

Di titik ini muncul satu pertanyaan lain yang tak kalah penting: apa artinya sastra Indonesia dibaca dunia jika rakyat Indonesia sendiri tidak dapat membacanya atau tidak merasa dekat dengannya? Oleh karena ditulis dalam bahasa asing. Kenalkah rakyat Indonesia pada tulisan itu, membacanya kah?

Sastra selalu lahir dari percakapan sebuah masyarakat dengan dirinya sendiri. Jika percakapan itu hidup dalam bahasa yang dipahami bersama, maka karya-karya itu dapat berjalan jauh—bahkan sampai ke pembaca dunia. Namun akarnya tetap berada di tanah tempat bahasa itu tumbuh.

Oleh karena itu masa depan sastra Indonesia mungkin tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh ia dikenal secara global, tetapi oleh satu hal yang lebih mendasar: masihkah bahasa Indonesia menjadi rumah bagi imajinasi sastra kita?

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait