Tentang Jalan yang Dilalui Generasi Baru

Oleh IRZI

Celetukan Kakek Atek (Atik Bintoro, red) (dalam diskusi di grup WhatsApp Lingkar PojokTIM) bahwa generasi milenial dan generasi Z tidak perlu “diberi jalan” karena mereka sudah memiliki jalannya sendiri sebenarnya menarik untuk dipikirkan lebih jauh. Di satu sisi, pengamatan itu terasa tepat. Generasi yang lahir dalam zaman berbeda memang cenderung membangun cara bergeraknya sendiri. Mereka memiliki bahasa, ritme, dan ekosistemnya sendiri. Mereka berbicara dengan sesama generasinya, belajar dari jaringan yang mereka bentuk sendiri, dan sering kali berjalan tanpa terlalu menunggu legitimasi dari generasi sebelumnya.

Namun jika dilihat secara lebih logis dan historis, jalan yang mereka lalui sebenarnya bukan jalan yang benar-benar baru.

Tidak ada generasi yang memulai perjalanan kebudayaan dari nol. Jalan-jalan besar dalam sastra, pemikiran, dan kebudayaan hampir selalu dibuka oleh generasi yang datang lebih dulu. Dalam konteks kita, jalan itu banyak dibuka oleh generasi Baby Boomer dan sebagian generasi X. Mereka membangun komunitas sastra, membentuk ruang diskusi, menulis karya-karya penting, menghidupkan penerbitan, dan membuka berbagai kemungkinan estetik yang kemudian menjadi bagian dari lanskap sastra hari ini.

Generasi setelahnya pada dasarnya berjalan di atas jalan yang sudah ada.

Tetapi di sinilah letak perbedaan menariknya. Jika generasi sebelumnya membuka jalan itu dengan kerja yang panjang dan sering kali berat, generasi milenial dan generasi Z justru memiliki kemampuan bergerak lebih lincah di atasnya.

Mereka tidak perlu lagi membuka hutan dari awal.

Mereka sudah menemukan jalan yang relatif terbuka, lalu memakainya dengan cara yang lebih cepat, lebih fleksibel, dan sering kali lebih berani. Mereka memanfaatkan teknologi, jaringan global, dan akses informasi yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya.

Bayangkan sebuah jalan panjang yang dulu dibangun dengan susah payah. Ada yang menebang pohon, meratakan tanah, membuat jalur pertama agar orang bisa lewat. Itu adalah kerja generasi yang lebih dulu hadir.

Ketika jalan itu sudah terbuka, generasi berikutnya bisa berjalan lebih ringan. Mereka bisa berlari, bersepeda, bahkan mungkin mengendarai kendaraan yang lebih cepat. Bukan karena mereka lebih hebat membangun jalan, tetapi karena mereka datang pada tahap ketika jalan itu sudah tersedia.

Dalam sastra pun situasinya kurang lebih seperti itu.

Generasi Baby Boomer dan generasi X membuka banyak kemungkinan awal. Mereka menciptakan tradisi, perdebatan estetik, komunitas, serta ruang publik sastra yang memungkinkan generasi berikutnya memiliki pijakan.

Generasi milenial kemudian tumbuh di atas fondasi itu. Mereka mulai memperluas jaringan sastra melalui dunia digital, membuka percakapan dengan tradisi sastra global, dan memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari praktik kepenulisan.

Generasi Z melangkah lebih jauh lagi. Mereka lahir ketika ekosistem digital sudah sepenuhnya hadir. Mereka bergerak sangat cepat, membaca sangat luas, dan sering kali mencampur berbagai pengaruh budaya secara lebih bebas.

Akibatnya langkah mereka terlihat lebih lincah.

Bukan karena mereka berjalan di jalan yang sepenuhnya baru, tetapi karena mereka memiliki alat dan kondisi yang memungkinkan mereka bergerak lebih cepat di jalan yang sudah ada.

Dalam konteks ini, perbedaan antar generasi sebenarnya tidak perlu dilihat sebagai pertentangan. Ia lebih mirip perbedaan peran dalam perjalanan panjang kebudayaan.

Ada generasi yang membuka jalan. Ada generasi yang memperlebar jalan. Ada juga generasi yang membuat perjalanan di jalan itu menjadi lebih cepat dan lebih jauh.

Ketiganya saling melengkapi.

Karena tanpa generasi yang membuka jalan, tidak akan ada jalur yang bisa dilalui. Tetapi tanpa generasi yang bergerak lebih lincah di atasnya, jalan itu mungkin akan menjadi sepi dan berhenti berkembang.

Maka ketika kita melihat generasi milenial dan generasi Z bergerak dengan cepat di dunia sastra hari ini, mungkin yang sedang kita saksikan bukanlah perebutan jalan, melainkan kelanjutan dari perjalanan yang sudah lama dimulai oleh generasi sebelumnya.

Jalan itu tetap sama. Hanya cara berjalan di atasnya yang berubah.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait