Tidak Ada yang Tabu untuk Pentas di TIM

PojokTIM – Taman Ismail Marzuki (TIM) adalah rumah bersama bagi seluruh penggiat dan pelaku seni budaya. Tidak hanya bagi kesenian tertentu atau orang-orang yang menganggap dirinya maestro.

“Dulu, di awal reformasi, sempat muncul perlawanan terhadap narasi bahwa komunitas seni dan kesenian underground tabu tampil di TIM. Musik underground seperti metal, punk, ska, dianggap sampah oleh para dewa di TIM. Pada saat itu kita melakukan perlawanan. Di panggung reformasi Bongkar Saja, kita melakukan terobosan. Semua genre musik boleh tampil sehingga sempat muncul kontroversi,” ujar Ketua Masyarakat Penggiat Seni Indonesia (MPSI) Mujib Hermani saat membuka acara Pentas Seni & Budaya Reguler Bagi Masyarakat, hasil kolaborasi Dinas Kebudayaan Jakarta dengan MPSI, Minggu (9/11/2025) sore,

Acara yang digelar di Plaza Teater Kecil TIM, Cikini, Jakarta dengan pewara Tia Fairuz, dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Riri Satria, Nunung Noor El Niel, Dyah Kencono Puspito Dewi, dan Yon Bayu Wahyono. Sementara pementasan musik underground menghadirkan Luth Band, Hell Army, Hard to Kill, Panic Disorder, serta penampilan lenong Betawi yang mengundang tawa penonton.

Hadir dalam acara tersebut Sekretaris MPSI David Karo-Karo, serta sejumlah perwakilan komunitas dan para seniman seperti Remmy Novaris DM, Octavianus Masheka, Nanang R Supriyatin, Giyanto Subagia, Nuyang Jaimee, dan lain-lain.

Mujib Hermani saat memberikan sambutan. Foto: PojokTIM

Lebih lanjut Mujib mengatakan, musik yang disempat dianggap sampah tersebut justru yang bisa berbicara di tingkat internasional. Oleh karenanya, MPSI selalu menolak sekat-sekat tersebut.

“Tidak ada yang tabu bagi kita. Siapa pun selama dia berkesenian, selama dia berkaraya, silakan tampil di panggung TIM,” serunya.

Mujib menyadari, sikapnya tersebut belum tentu mendapat dukungan dari komunitas-komunitas lain. Sebab mereka yang berkarya di luar jalur yang dianggap mainstream, sama sama pekerja seni, sama-sama berusaha unjuk diri dalam berkarya. Atas dasar itulah, MPSI menggelar acara pentas seni lintas genre.

“Hari ini kita tunjukkan bahwa TIM rumah bersama, tidak ada pengkotak-kotakkan bahwa mereka paling hebat, paling maestro. Silakan berkarya masing-masing, tidak saling ganggu,” tegasnya.

MPSI bertekad, acara bersama dengan melibatkan berbagai komunitas, akan digelar rutin di semua titik, di ruang-ruang publik yang ada di Jakarta. “Mari isi ruang-ruang publik dengan kegiatan seni budaya sambil memberdayakan seluruh pekerja seni. Bukan hanya mereka yang ada di paggung, namun juga pekerja=pekerja di belakang panggung,” tutup Mujib.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait