Mengapa aku sangat berharap mendapat apresiasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) cq. Kantor Badan Bahasa?
Ada masa di mana dunia sastra memiliki batas-batas yang jelas dan tegas. Sastrawan dianggap “lahir” ketika karyanya dimuat di media massa arus utama, bukunya diterbitkan penerbit besar (major) seperti Gramedia, atau karya-karyanya diulas oleh kritikus sastra yang mumpuni. Tiga pintu itu semacam ”kawah penasbihan”. Tidak mudah memasukinya, tetapi ketika berhasil melewati salah satunya, seorang penulis memperoleh legitimasi sebagai sastrawan. Tidak lagi dianggap sekadar orang yang hobi menulis.
Aku tumbuh di masa itu. Tahun 1990-an menjadi periode ketika koran dan majalah masih memiliki wibawa besar dalam dunia sastra. Cerpen yang dimuat di surat kabar nasional bukan hanya mendapatkan honorarium, melainkan juga rasa percaya diri. Nama kita tiba-tiba dikenal oleh orang-orang yang bahkan belum pernah bertemu.
Aku beruntung mengalami masa tersebut. Cerpen-cerpenku pernah dimuat di beberapa media massa arus utama seperti The Jakarta Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat hingga Tabloid NOVA. Saat itu, saya benar-benar hidup di dunia sastra.
Namun perjalanan hidup membawaku ke jalan lain. Aku belok arah, menjadi wartawan. Dunia jurnalistik perlahan mengambil sebagian besar waktu dan energiku. Ritme kerja media yang cepat membuat dunia sastra bergerak ke pinggir kehidupan. Aku masih membaca, dan sesekali menulis, tetapi tidak lagi sepenuhnya hidup di dalam lingkungan sastra seperti sebelumnya.
Lalu zaman berubah. Dunia media berubah sangat cepat sejak era digital. Satu demi satu media cetak tumbang. Majalah Misteri, tempat kerjaku terakhir sebagai jurnalis, harus menerima takdirnya seperti media-media cetak lain: gulung tikar.
Di situlah aku seperti dipaksa kembali menengok sastra. Sesuatu yang pernah aku tinggalkan memanggil dalam hening. Saat pandemi dating, banyak hal berubah, termasuk caraku melihat hidup dan kesenian.
Akhirnya, setelah bergulat dengan seribu pikiran, aku pun kembali ke “rumah” lama. Selepas pandemi, aku mulai bermain di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM). Dari awalnya diajak sastrawan Isbedy Stiawan ZS sebagai pembicara dalam peluncuran antologi puisi Minyak Goreng Memanggil (2022), aku semakin intens menggauli kembali jalan sastra. Menerbitkan beberapa novel hingga mendirikan website pojoktim.com dan menerbitkan Majalah PojokTIM bersama penyair senior Nanang R Supriyatin dan Giyanto Subagio.
Namun harus diakui, dunia sudah berubah. Otoritas lama perlahan memudar. Media massa arus utama masih ada, tetapi pengaruhnya tidak lagi sekuat dulu. Penerbit besar masih bertahan, namun kini harus berbagi perhatian dengan ribuan penerbit independen dan platform digital. Kritik sastra pun semakin jarang terdengar di ruang publik. Kalau dulu sebuah esai kritik di koran mingguan bisa menjadi bahan perdebatan panjang, kini percakapan sastra lebih sering tenggelam oleh algoritma.
Media sosial membuat semua orang bisa menjadi penulis. Semua orang dapat menerbitkan karya kapan saja tanpa harus melewati meja redaktur, tanpa melalui kurasi para pakar. Ini tentu membawa sisi positif yakni terciptanya ruang kreatif yang lebih demokratis. Namun di sisi lain, batas antara karya yang digarap serius dan sekadar igauan menjadi semakin kabur.
Dalam situasi seperti itu, aku merasa perlu memiliki “sesuatu” sebagai pijakan agar bisa sedikit leluasa memasuki kembali dunia yang cukup lama aku tinggalkan. Mungkin terdengar remeh, tetapi aku ingin bisa lebih santai saat berbincang dengan para seniman dan sastrawan hebat yang sering aku temui di TIM. Minimal, tidak lagi mendapat pertanyaan sederhana tetapi menohok, “Siapa lu?”
Pertanyaan itu bukan semata tentang identitas personal. Itu pertanyaan tentang jejak. Tentang apakah seseorang benar-benar pernah berkarya atau hanya numpang lewat dalam keramaian kesenian. Dan yang lebih parah, apa aku hanya ingin memanfaatkan kesenian untuk tujuan lain.
Karena itulah aku sangat memperhatikan ketika ada program bantuan dan apresiasi bagi sastrawan di Kemendikdasmen cq Badan Bahasa Sebelumnya, program apresiasi itu hanya diberikan kepada sastrawan yang telah berkarya selama 40 tahun dan 50 tahun. Aku tentu “belum cukup umur”. Namun tahun ini, penghargaan juga diberikan kepada mereka yang telah berkarya selama 25 tahun.
Aku merasa seperti mendapat kesempatan untuk membuka kembali arsip hidupku. Segera aku mencari berbagai dokumen yang dapat membuktikan jika aku benar-benar sudah berkarya sejak tahun 1990-an. Dan di sinilah aku merasakan pentingnya arsip. Perpustakaan Nasional menjadi penyelamat. Di sana aku menemukan kembali jejak-jejak karya-karyaku yang nyaris terlupakan. Rasanya aneh sekaligus mengharukan. Seperti bertemu kembali dengan diri sendiri yang tertinggal puluhan tahun lalu.
Dengan modal itu, dan juga keaktifanku dalam kegiatan kesenian lima tahun terakhir, aku pun mengikuti prohram Badan Bahasa. Dan hari ini, Senin, 25 Mei 2026, namaku masuk sebagai penerima Banpem kategori 25 Tahun Berkarya. Aku benar-benar merasa tersanjung. Barangkali bagi sebagian orang, ini hanyalah penghargaan administratif. Namun bagiku, penghargaan ini memiliki makna yang jauh lebih personal.
Saya tahu ada pandangan bahwa sastrawan sejati tidak mengejar pengakuan. Bahwa karya sastra mestinya lahir dari kegelisahan batin, bukan dari keinginan memperoleh penghargaan. Aku setuju dengan pandangan itu. Pengakuan bukanlah puncak kesusastraan.
Tetapi, izinkan aku, tidak semua seniman atau sastrawan memiliki keteguhan sekeras batu. Ada masa ketika seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri, apakah yang ia lakukan masih berarti? Apakah yang ditulis masih layak diperjuangkan? Apakah semua ini hanya percakapan kecil yang akan hilang begitu saja?
Dalam keadaan seperti itu, pengakuan memiliki fungsi yang sangat manusiawi karena berfungsi sebagai penguat keyakinan. Terlebih ketika pengakuan itu datang dari negara.
Aku memandang apresiasi dari Badan Bahasa bukan sekadar bantuan material atau penghargaan simbolik. Ia seperti pernyataan bahwa negara masih hadir untuk melihat para pekerja kebudayaan. Bahwa kerja sunyi seorang penulis, betapapun kecilnya, tetap penting.
Kita hidup di zaman ketika profesi penulis sering kali dipandang sebelah mata. Menulis sastra jarang menjanjikan kekayaan. Bahkan untuk sekadar bertahan hidup tidaklah mudah. Banyak penulis harus menjalani pekerjaan lain sambil tetap menjaga nyala kreativitasnya. Dalam situasi demikian, apresiasi dari negara menjadi penting karena memberi pesan bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang boleh ditinggalkan.
Aku juga melihat penghargaan semacam ini sebagai upaya merawat ingatan kolektif. Banyak penulis bekerja dalam kesunyian. Nama mereka mungkin tidak viral. Buku mereka mungkin tidak laris. Namun mereka tetap menjadi bagian dari perjalanan sastra Indonesia.
Kalau negara saja tidak peduli pada jejak mereka, siapa lagi? Karena itu aku merasa bersyukur. Penghargaan ini mungkin tidak akan mengubah apa pun. Aku besok tetap akan menjadi orang yang sama. Nongkrong di TIM, berdiskusi, menulis, dan kadang masih diliputi keraguan terhadap karya sendiri.
Namun setidaknya kini ada satu penguat bahwa perjalanan panjang yang pernah aku tempuh bukan ilusi. Bahwa tahun-tahun yang saya habiskan untuk membaca, menulis, mengirim cerpen, menghadapi penolakan, kehilangan media tempat bekerja, menjauh dari sastra, lalu kembali lagi setelah pandemi, ternyata tidak sepenuhnya hilang.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah arti penting sebuah apresiasi. Bukan untuk membuat seseorang merasa paling hebat, melainkan untuk membuatnya tetap percaya bahwa apa yang ia kerjakan selama ini memang layak diteruskan.
Terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah cq. Badan Bahasa.
Terima kasih kepada teman-teman terbaik yang terus memberi semangat.
Dan terima kasih kepada sastra, karena tetap membuka pintu kala aku pulang. @yb





