Ilustrasi. Sumber: Shutterstock
Cerpen Yon Bayu Wahyono
Kota Kiran terletak di antara dua gunung berapi yang sudah lama tidak aktif dan dikelilingi oleh lereng-lereng curam nan hijau. Sungai dengan air jernih mengalir deras membelah kota, menjadi lanskap alami seperti ornamen dalam lukisan.
Rumah-rumah penduduk berjajar di sepanjang jalan utama yang berkelok mengikuti kontur perbukitan. Sebagian besar bangunan mempertahankan arsitektur lokal yang didominasi kayu dan batu alam. Tampak serasi dengan lingkungan sekitarnya. Di halaman rumah dan tepi jalan, tanaman hias tumbuh subur bak perkebunan mini,
Udara kota seringkali dingin, bahkan kadang diselimuti kabut tipis yang perlahan hilang saat anak-anak sekolah mulai berbaris menjemput masa depan. Namun sesungguhnya aktivitas warga sudah dimulai sejak dini hari. Mereka pergi ke kebun atau sawah di lembah. Sebagian lainnya pergi ke pasar tradisional. Ada pedagang, banyak juga yang ingin membeli sesuatu untuk hidangan hari ini.
Di luar itu, kehidupan di Kota Kiran berjalan tenang, jauh dari hiruk-pikuk khas kota besar. Tidak salah jika banyak yang menjadikannya sebagai tempat beristirahat, terutama mereka yang menyukai keasrian dan keindahan alam.
Tetapi ada hal yang jarang diketahui oleh orang luar. Sesuatu yang misterius. Tetapi oleh orang luar mungkin justru dianggap keunikan, atau lebih tepatnya kearifan lokal. Sudah lama penduduk Kota Kiran tidak pernah membuka jendela. Papan kayu dipaku pada kusennya, dan celah-celah kecil disumpal dengan kain. Tidak ada yang tahu sejak kapan hal itu dilakukan. Orang-orang tua hanya mengatakan dulu kota mereka dilanda pagebluk yang masuk melalui jendela.
Penduduk kota hanya bisa mendengar suara-suara dari luar tanpa pernah tahu siapa yang sedang berbicara. Jika seseorang ingin menyampaikan kabar kepada tetangga, ia harus mendatangi rumahnya. Begitu pula saat ingin menyampaikan berita kematian, ia harus mengetuk rumah tetangganya satu persatu.
Cerita tentang pagebluk sudah dilupakan. Yang tersisa hanyalah ketakutan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sampai akhirnya tidak ada lagi yang tertarik mencari tahu penyebab pastinya. Dianggap sebagai hal yang wajar untuk diterima tanpa perlu ditanyakan lagi. Semakin sedikit mengetahui penyebabnya, dianggap semakin baik. untuk menghindari musibah.
Hanya Saipan yang merasa ada yang tidak beres dengan kotanya. Awalnya ia hanya merasa jemu karena ibunya selalu melarang membuka jendela kamar. Jika ingin melihat orang lalu-lalang, ia harus turun ke jalan. Dan anehnya, orang-orang di jalan pun tidak pernah mengeluarkan suara keras. Demikian juga saat mereka bertemu di warung kopi. Nyaris tidak ada yang mengeluarkan suara.
“Kalau kita takut membuka jendela, bagaimana kita bisa tahu saat sesuatu sedang berubah?” tanyanya suatu hari.
Ibunya tidak menjawab. Ketika pertanyaan serupa ia sampaikan kepada orang-orang di kedai kopi, ia tetap tidak memperoleh jawaban. Saipan merasa orang tuanya dan seluruh penduduk Kota Kiran telah dicecoki mitos yang keliru. Jika memang pagebluk masuk lewat jendela, mengapa mereka masih sering berkumpul di luar rumah, membicarakan sawah dan ternak walau dengan nada rendah? Mengapa pintu masih boleh dibuka, meskipun harus segera ditutup kembali?
Saipan mencoba mencari tahu akar masalah yang sebenarnya. Ia pergi ke perpustakaan kota. Namun, di sana tidak ditemukan satu pun buku, catatan, atau dokumen yang menceritakan asal mula kebiasaan warga menutup jendela. Fakta itu kian menebalkan keyakinan Saipan bahwa kotanya menyimpan rahasia yang tidak jelas asal usulnya. Jika sudah tahu tidak boleh dibuka, mengapa rumah-rumah yang baru dibangun tetap memiliki jendela? Mengapa tidak sekalian tanpa jendela?
Diam-diam Saipan menyusun rencana. Suatu pagi, ia mencabut papan penghalang pada jendela kamarnya. Cahaya matahari yang bertahun-tahun terhalang, masuk dengan leluasa. Menyiram tubuh Saipan yang sedang kegirangan. Ibunya panik dan menyuruh agar jendelanya ditutup kembali. Namun Saipan menolak.
Keesokan paginya, Saipan berdiri di depan jendelanya yang terbuka lebar. “Hari ini hujan akan turun!” teriaknya ke luar.
Tetangga dan warga yang melihat tindakannya hanya berbisik lirih, “Kalau nanti sakit, jangan menyalahkan siapa-siapa.”
Lain waktu Saipan kembali berdiri di sana. “Pak Darto, kambingnya masuk ke kebun singkong Lik Sunar!”
Terdengar tertawa dari balik beberapa jendela yang tertutup. Saipan semakin bersemangat. Ia memberi tahu jika jembatan bambu di sungai hanyut terbawa banjir bandang. Di hari lain ia menceritakan tentang anak yang kehilangan sandal, lalu tentang pedagang yang dimarahi ibu-ibu karena menjual ikan busuk, dan tentang semua hal yang dilihat dari jendelanya.
Orang-orang menyimak dan menanggapi dengan tawa kecil yang tertahan. Pada akhirnya, meski masih diliputi rasa takut, suara Saipan mulai ditunggu. Hingga suatu ketika, Saipan terserang flu. Orang-orang yang mendengar kabar itu, tidak berani membicarakannya secara terang-terangan. Mereka takut, jika terlalu sering membahas penyakit Saipan, mereka akan ikut tertular. Warga kian meyakini penyakit Saipan ada hubungannya dengan jendela yang dibuka. Warga pun segera memastikan jendela rumahnya masih terkunci rapat. Beberapa di antaranya bahkan melapisinya dengan kain tebal.
Namun, di luar dugaan warga, setelah satu minggu terkapar, Saipan bisa beraktivitas seperti biasa. Ia kembali mengabarkan hal-hal yang terjadi di kota, atau sekadar memberi tahu jika jalanan sedang digenangi air. “Ada perahu lewat di jalan!” katanya melucu.
Warga tertawa. Meski tahu hal itu hanya bualan Saipan, tetap saja mereka penasaran. Diam-diam, ada warga yang mengintip dari lubang angin. Mereka tidak kecewa meski tidak menemukan perahu di jalanan. Sebab mereka bisa melihat pemandangan lain. Rumah-rumah yang berjajar rapi di bawah kabut pagi tampak sangat elok.
Akhirnya, beberapa warga memberanikan diri membuka jendela mereka. Mula-mula hanya sedikit. Mereka mengintip dan buru-buru menutupnya. Setelah tidak ada gejala sakit, mereka membuka lebih lebar, dan lebih lama. Rumah di ujung jalan, dekat tikungan menuju pasar, menjadi yang pertama mengikuti tindakan Saipan membuka jendela secara penuh selama sehari.
Hari berikutnya ada dua rumah, besoknya tiga rumah, dan dalam waktu satu minggu, hampir seluruh jendela rumah di Kota Kiran sudah dibuka. Bahkan saking senangnya, ada yang membuka hingga tengah malam. Menikmati sinar bulan yang masuk ke kamar sebagai keajaiban yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.
Orang-orang saling menyapa dari rumah masing-masing. Mereka bertukar kabar tanpa perlu berjalan jauh. Mereka tertawa, berdebat, dan bercerita. Kota yang dulu sunyi, perlahan berubah menjadi hidup. Orang-orang mulai memuji Saipan. Setiap kali membicarakan perubahan yang terjadi, nama Saipan pasti disebut. Tentu saja Saipan senang mendengarnya. Bukan pujiannya, tapi suasana riuh kota seperti yang diinginkan.
Di awal tahun, semua jendela sudah terbuka lebar, dan suara-suara di luar pun semakin ramai. Kini, setiap orang punya kabar atau cerita untuk diteriakkan. Di pagi hari, puluhan suara bersahutan dari berbagai arah. Di siang hari, udara kota penuh oleh percakapan yang saling bertumpuk. Bahkan hingga sore hari, orang-orang masih saja saling berbicara dari jendelanya masing-masing.
Saipan tetap berdiri di depan jendelanya, dan masih menyampaikan kabar tentang kota. Namun sudah tidak banyak yang mendengarkan. Bukan karena mereka membenci atau melupakan. Mereka hanya sedang sibuk mendengarkan suara-suara lain yang lebih lucu, lebih keras, dan tentu saja lebih menghibur.
Suatu sore, ketika sedang berbicara tentang bendungan irigasi yang mulai retak, Saipan menyadari tak seorang pun yang memperhatikan. Di seberang jalan, orang-orang sedang tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari jendela rumah yang lain. Sementara di ujung kota, beberapa warga berdebat keras tentang sesuatu yang bahkan tidak ia pahami.
Saipan berhenti bicara. Kalimatnya menggantung begitu saja di udara, dan tidak ada orang peduli. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia menutup jendela sebelum matahari tenggelam. Setelah suaranya makin tidak didengarkan, Saipan membuat jendela baru di dinding belakang. Jendela itu menghadap langsung ke gunung. Tak ada rumah di sana. Hanya hutan basah yang berjajar dengan ketinggian berundak sampai ke puncak.
Setelah jendela dibuat, Saipan duduk di depannya. Memandangi gunung. Hatinya merasa lebih tenang karena suara bising percakapan dari depan hanya terdengar samar-samar. Saipan lalu berteriak ke arah gunung. Suaranya membelah lereng-lereng yang sunyi, menghilang sejenak, lalu kembali sebagai gema.
Saipan tersenyum. Keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya, Saipan melakukan hal yang sama. Setiap hari, ia berdiri di depan jendela yang menghadap gunung, mengatakan apa saja. Tentang kotanya, hujan, kabut, hingga tentang dirinya sendiri.
Gunung itu tidak pernah menjawab. Namun, gema selalu mengembalikan suaranya dengan utuh. Untuk pertama kalinya, setelah berhasil menyuruh warga membuka jendela, Saipan merasa suaranya ada yang mau mendengarkan. Sama seperti saat jendela-jendela rumah warga kota masih tertutup.
“Apakah kamu ingin warga kembali menutup jendela?” tanya ibunya dengan nada sedih.
Saipan menoleh, menatap wajah ibunya lekat-lekat sebelum akhirnya menggeleng.
Jakarta, 14 Juni 2026





