Kebun Hantu yang Menghibur

PojokTIM – Di tengah gempuran dunia digital yang kerap memecah fokus dan memori manusia modern, Kantor Teater bersama Trippicandid menyajikan sebuah karya panggung reflektif bertajuk Kebun Hantu. Pertunjukan ini sukses menyedot antusiasme penonton saat digelar di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pada Senin malam (12/10/2026).

Berbeda dari seni pertunjukan konvensional, Kebun Hantu memilih untuk tidak menyajikan alur cerita linear. Sebaliknya, pementasan ini menyuguhkan sebuah lanskap pengalaman yang terpecah—mengangkat kisah tentang bagaimana manusia modern terjerat candu gawai dan dipengaruhi algoritma platform digital hingga berdampak pada ruang intim, tubuh, serta ingatan mereka.

Metafora Hantu

Kata Hantu dalam judul pementasan ini sama sekali bukan merujuk pada sosok gaib yang menyeramkan. Sutradara sekaligus penulis naskah, Roy Julian, menjadikannya sebagai metafora dari residu pengalaman atau arsip memori masa lalu yang gagal diterjemahkan oleh bahasa, namun tetap menetap dan terus gentayangan di dalam tubuh para aktor.

Tidak semua pengalaman manusia bisa diceritakan lewat kata-kata. Sebagian justru menetap di tubuh, menjadi ingatan yang samar, tetapi terus muncul dalam gerak, suara, maupun cara seseorang merespons kehidupan. Demikian gagasan mendasar yang diusung dalam pertunjukan ini.

Melalui pendekatan arsip tubuh, para aktor membawa pengalaman kerja, peristiwa masa lalu, hingga ingatan pribadi mereka ke atas panggung untuk menemukan bentuk, suara, gerak, dan kemungkinan bahasa artistik yang baru. Ketika kata-kata tak lagi memadai untuk menjelaskan sebuah peristiwa, tubuh mengambil alih peran sebagai medium utama.

Menghibur

Meski mengusung tema sosial dan psikologis yang cukup berat serta filosofis, pertunjukan ini tetap terasa dekat dengan penonton. Di sela-sela adegan yang sarat makna, diselipkan kalimat-kalimat humor segar yang tak jarang memancing gelak tawa di dalam ruang teater. Penonton pun diajak menyelami pertanyaan mendalam tentang apa yang sebenarnya disimpan oleh tubuh dan apa yang hilang saat pengalaman diubah menjadi bahasa tanpa merasa digurui.

Pertunjukan ini didukung oleh barisan aktor berbakat, di antaranya Bambang Wahyudin, Badri, Parulian, Marina Novianti, Jean Marais, Yuli Goplumb, serta Roy Julian. Kualitas visual dan tata panggungnya semakin diperkuat oleh sentuhan artistik dari Ega Alamsjah (Artistic Director), Ipoer Wangsa (Stage Director), Mamedz Slasov (Lighting Designer), Imam Maulana (Sound Designer), Iqbal Rahim (Assistant Director), Astridips & Arie Toskir (Assistant Producer).

Bagi masyarakat yang belum sempat menyaksikan, pementasan Kebun Hantu masih berlangsung hingga malam ini, Selasa, 13 Oktober 2026, pukul 20.00 WIB.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait