Ketika Buku-Buku Itu Pergi, Rumah Tidak Menjadi Kosong

Oleh Emi Suy

Saya percaya, mencintai buku bukan hanya soal membacanya. Bukan semata menyusunnya rapi di rak, memotretnya, atau menjadikannya penanda bahwa kita pernah berpikir. Bukan sekdar itu! Ada cinta lain yang lebih sunyi, lebih berisiko, yaiu merelakan buku pergi, seperti melepas seseorang yang kita tahu tidak diciptakan untuk tinggal selamanya dengan kita.

Beberapa waktu lalu, sahabat saya Bang Riri Satria membagikan sebagian besar buku di rumahnya. Tidak ada seremoni, juga tidak ada pidato perpisahan. Bahkan saya sendiri tidak menyaksikannya secara langsung. Saya hanya melihat jejaknya dari unggahan-unggahan di media sosial, yaitu rak yang kosong, keterangan singkat, nada yang nyaris datar. Justru dari jarak itulah peristiwa ini ada gema yang tidak segera selesai di dada. Saya bertanya pada diri sendiri, apakah pengetahuan memang untuk disimpan, atau untuk dibiarkan pergi agar tetap hidup?

Sebagai penyair, saya tahu betul godaan untuk menyimpan. Kata-kata saja sering ingin kita miliki, apalagi buku. Dalam budaya kita yang erba simbolis, rak yang penuh kerap dibaca sebagai tanda kewibawaan. Buku menjelma properti artefak penting. Kita bangga pada punggung-punggungnya, bukan pada proses yang pernah kita lalui bersamanya. Kita lupa bahwa pengetahuan bukan lemari besi. Ia lebih menyerupai air, jika menggenang terlalu lama, ia jadi membusuk.

Maka membagikan buku bukan sekadar tindakan filantropi. Ia adalah sikap hidup. Pernyataan diam yang menolak penumpukan di satu rumah, satu kepala, satu kelas sosial. Buku-buku itu mesti berpindah, disentuh oleh tangan-tangan lain, dibaca dengan kelelahan yang berbeda, dan ditafsirkan lewat hidup yang tidak kita kenal.

Saya membayangkan buku-buku itu kini berada di rumah baca. Ruang kecil yang sering absen dari laporan kebijakan, tetapi justru di sanalah literasi bernapas paling jujur. Buku dibaca sambil tengkurap, halamannya dilipat, kadang ternodai debu atau keringat. Tidak ada kewajiban mengutip. Tidak perlu memamerkan. Di sana buku tidak bekerja sebagai simbol, melainkan sebagai teman.

Di zaman ketika pengetahuan kerap diperdagangkan sebagai citra diri, melepaskan terasa seperti tindakan subversif. Ya, Bang Riri subversif atas kebanggaan semu Kita sibuk mengarsipkan diri tentang apa yang kita baca, apa yang kita pikirkan, siapa yang kita rujuk, tetapi lupa membagi apa yang pernah mengubah kita. Padahal pengetahuan yang tidak dibagikan akan kehilangan daya hidupnya. Ia menjadi monumen semata, bukan gerak kehidupan yang dinamis.

Saya teringat dirik sendiri pada masa ketika filsafat pertama kali menyapa. Ia datang bukan dari buku-buku tebal, melainkan dari bacaan-bacaan ringan di internet, dari diskusi yang tak pernah benar-benar selesai. Nama-nama seperti Nietzsche dan Erich Fromm muncul perlahan, seperti pintu yang terbuka setengah. Hingga suatu hari Bang Riri memberiku beberapa buku karya Fromm. Buku-buku yang berat, tidak ramah, tetapi justru di sanalah aku belajar bertahan.

Fromm menulis bahwa kebebasan bukan hadiah, melainkan beban etis. Bahwa cinta adalah kerja, bukan sekadar perasaan. Dari sana saya belajar bahwa memberi bukan berarti kehilangan. Melepaskan bukan tanda kekurangan. Membagikan buku dan mungkin juga membagi gagasan justru adalah praktik kebebasan. Kita tidak berkurang karena berbagi, malahan kita justru menolak takut.

Apa yang dilakukan Bang Riri mengingatkan saya bahwa literasi bukan perlombaan siapa paling banyak membaca, melainkan siapa yang bersedia membuka jalan. Bukan tentang rak yang penuh, tetapi tentang sirkulasi gagasan. Tentang keberanian membiarkan pengetahuan hidup di luar kendali kita.

Kita sering mengeluhkan rendahnya minat baca, tetapi jarang bertanya dengan jujur apakah buku-buku itu benar-benar hadir di ruang hidup masyarakat? Ataukah literasi kita hanya hidup sebagai slogan, program, dan poster semata?

Saya percaya bahwa membagikan buku memang tidak mengubah dunia dalam semalam. Tetapi ia menjaga sesuatu yang lebih rapuh dan lebih penting yaitu keberlanjutan. Api kecil yang berpindah tangan, agar tidak mati karena disimpan terlalu lama.

Rak yang kosong tidak selalu menandai kehilangan. Kadang ia justru pertanda bahwa sesuatu sedang bergerak. Buku-buku itu tidak pergi dari kehidupan. Mereka hanya memilih rumah lain, hidup lain, serta pembaca lain.

Mungkin di situlah tanggung jawab kita sebagai pembaca dan sebagai manusia,bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, tetapi memastikan pengetahuan itu tetap hidup, di tangan orang lain, di ruang yang tidak selalu kita kenal, serta di masa depan yang tak bisa kita kendalikan.

Mungkin cara saya memotret peristiwa ini hanyalah dengan menuliskannya. Setiap peristiwa memberi pelajaran yang berbeda di setiap kepala. Kata-kata ini pun, pada akhirnya, ingin saya lepaskan. Seperti buku-buku itu.

Salam cermin, karena kebaikan itu seperti cermin, tidak menyimpan apa pun. Ia hanya memantulkan.

Jakarta, 8 Januari 2026

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait