Oleh Nanang R Supriyatin
Pesan Dari Langit
Di atas Altar pesan itu terbentang
Sebuah isyarat Cinta dari Langit
Meliuk di cakrawala bersama gerimis
Turun bagaikan Wahyu menjelang senja
Aku potret indahnya bersama jingga
Menemani malamku
menelusuri Algoritma Agung
dari Semesta
Di Tanah suci
tempat puisi Akbar menyentuh bumi
(Menikah Al Mukkaramah, 2019/ Mei 2025)
Takbir
Ada gema takbir di Masjid Nabawi
Ada gema takbir di Masjidil Haram
Ada gema takbir di Al-Aziziyah
Ada gema takbir di Arafah
Ada gema takbir di Muzdalifah
Ada gema takbir di Mina
Takbir menggema menjadi orkestra Semesta Raya
Ada satu takbir yang selalu kujaga
takbir di hatiku, kepada-Mu
(Mina, Juni 2025)
Tawaf
Suatu saat aku kan kembali ke sini
menjemput sepotong puisi
direngkuh Cahaya Langit
serta ayat-ayat kesabaran
Puisiku
mengitarimu
mengalir
menembus Sang Waktu
Kutinggalkan puisi di sini
tentang
tentang-Mu
dalam tawarkan
(Masjid Al-Haram, Makjah Al-Mukarramah, Mei 2025)
Tiga puisi karya Riri Satria tersebut dimuat dalam antologi puisi tunggal berjudul Jejak Refleksi Perjalanan Haji: “Log In Haramain” (Penerbit: Taresia, Juni 2025, 29 puisi).
Bagi saya, puisi bukan sekadar permainan kata. Puisi juga mampu menjadi media komunikasi antara hamba dengan Sang Pencipta. Dan, berikut ini adalah apresiasi saya terhadap ketiga puisi tersebut dengan menyandingkannya pada nilai-nilai literatur Islam:
“Pesan Dari Langit”:
Pertemuan Logika dan Wahyu
Dalam puisi ini, penyair menggunakan istilah “Algoritma Agung”. Ini adalah ciri khas penyair yang akrab dengan dunia teknologi namun tetap tunduk pada spiritualitas. Hal ini juga senada dengan pemikiran Harun Nasution tentang akal dan wahyu. Pemotretan tentang alam semesta sebagai Ayat Kauniyah. Gerimis, cakrawala, dan jingga bukan sekadar fenomena alam, melainkan “pesan” yang harus dibaca (Iqra). Sebagai bentuk puisi transedental, penyair tidak hanya melihat keindahan visual, tetapi merasakan turunnya ketenangan (Sakinah) yang ia istilahkan seperti wahyu. Penggunaan kata “Altar” dan “Cakrawala” menunjukkan upaya manusia membumikan pesan langit ke dalam ruang batin.
”Takbir”:
Puisi ini memiliki struktur repetitif yang membangun ritme seperti zikir. Dalam sudut pandang Literasi Islam, ini mengingatkan kita pada konsep Hamka dalam Tasawuf Modern. Takbir di berbagai tempat (Nabawi hingga Mina) adalah syiar Islam secara lahiriah, namun puncaknya adalah “takbir di hatiku”. Ini adalah esensi dari tauhid yang murni. Penyair berhasil memindahkan skala makro (orkestra Semesta Raya) menjadi skala mikro (hati). Takbir bukan lagi sekadar suara yang keluar dari pengeras suara masjid, melainkan sebuah komitmen personal kepada Allah. Penyair menunjukkan bahwa ibadah haji bukan sekadar wisata religi, melainkan perjalanan “pulang” ke dalam diri sendiri.
”Tawaf”:
Puisi “Tawaf” menggambarkan kerinduan dan jejak spiritual yang ditinggalkan penyair di tanah suci.
Konsep “mengitari” dan “menembus waktu” sangat dekat dengan pemikiran sufistik Jalaluddin Rumi. Tawaf adalah simbol bahwa pusat gravitasi hidup seorang mukmin hanyalah Allah. Kalimat “ayat-ayat kesabaran” merujuk pada keteguhan hati (istiqamah) yang menjadi oleh-oleh spiritual paling berharga. Penyair sengaja “meninggalkan puisi” di sana sebagai tanda bahwa pengalaman religiusnya telah abadi. Riri menggunakan metafora Tawaf untuk menjelaskan bahwa puisi dan doa memiliki sifat yang sama: terus mengalir, berputar, dan tak lekang oleh waktu.
Ketiga puisi di atas adalah bentuk Sastra Milenia yang Beradab. Penyair tidak kehilangan jati dirinya sebagai intelektual (dengan istilah algoritma dan orkestra), namun ia tetap menundukkan intelektualitasnya di bawah kebesaran Haramain.
Buku ini menjadi penting karena membuktikan bahwa di tangan seorang dosen dan komisaris, puisi bisa menjadi jembatan yang sangat manusiawi untuk memahami hubungan antara manusia, teknologi, dan Tuhan.
Tentang Riri Satria
Riri Satria dikenal sebagai sosok “multitasking” yang menjembatani dunia teknologi, bisnis, dan sastra dengan sangat apik. Selain menjabat sebagai Komisaris Utama ILCS Pelindo Solusi Digital, beliau merupakan lulusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI) dan melanjutkan studi pascasarjana di bidang Manajemen Teknologi di PPM School of Manajement dan meraih gelar Doktor dari Paris School of Business, Perancis..
Dikenal luas sebagai pakar Transformasi Digital dan Strategic Management. Sering menjadi narasumber untuk isu-isu ekonomi digital, smart city, dan masa depan dunia kerja di era AI. Selain menjadi dosen di Fakultas Ilmu Komputer UI, beliau juga aktif mengajar di berbagai program pascasarjana manajemen dan bisnis.
Riri Satria bukan sekadar penulis, melainkan penggerak komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM): Sebagai ketua, beliau aktif mendorong digitalisasi sastra dan memberikan ruang bagi penulis muda.
Sebagai penyair, puisi-puisinya sering kali menyisipkan pemikiran filosofis tentang kehidupan urban serta teknologi. Puisi-puisinya menjadi unik karena menggunakan metafora teknologi untuk menggambarkan perasaan manusia. Ia juga sering menjadi editor dan kurator untuk berbagai antologi puisi.





