Naning: Sumber Inspirasi Wajib Dinyatakan dengan Jujur

PojokTIM – Jagat Sastra Milenia (JSM) kembali menggelar ruang perbincangan kultural melalui forum Jabat Tangan yang kini memasuki edisi keenam. Mengusung tema utama “Memahami Intertekstualitas dalam Sastra”, diskusi kali ini menghadirkan narasumber utama Naning Scheid, penyair dan penulis berkebangsaan Indonesia yang bermukim di Belgia, serta dipandu langsung oleh Ketua JSM, Riri Satria.

Berlangsung di Kafe EatWell & Coffee, Cikini, Jakarta Pusat, pada Selasa (3/11/2026), forum ini para Sahabat JSM.

Menurut Riri, saat membuka diskusi, program Jabat Tangan sengaja dirancang sebagai ruang inkubasi pemikiran yang inklusif. Diskusi kali ini secara khusus ditujukan untuk memperdalam pemahaman mengenai intertekstualitas, sebuah konsep di mana teks sastra tidak pernah lahir di ruang hampa, melainkan selalu berdialog, menyadur, merespons, atau bertransformasi dari teks-teks lain yang telah ada sebelumnya maupun yang lahir kemudian.

Dalam pemaparannya, Naning Scheid menegaskan bahwa batas antara penjiplakan dan intertekstualitas terletak pada kesadaran etis seorang penulis. Inspirasi dari karya lain adalah hal yang mutlak dalam proses kreatif, tetapi secara etika, pengakuan atas sumber inspirasi tersebut harus dinyatakan dengan jujur.

Naning mencontohkan penggunaan teknik parodi dan pastis yang kerap memanfaatkan prinsip alusi (allusion):

“Misalnya, puisi karya Sapardi Djoko Damono yang sangat populer, ‘Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana’, saya parodikan menjadi ‘Aku Ingin Mencintaimu Seperti Pecundang’. Di situ alusinya sangat jelas merujuk pada Sapardi, tetapi isi dan suaranya adalah milik Naning. Gaya atau kostum puisinya saja yang meminjam gaya lain,” jelas Naning.

Menanggapi hal tersebut, Riri Satria mempertanyakan teknis pengakuan inspirasi dalam sebuah karya terbitan. Naning menjelaskan bahwa pencantuman catatan kaki (footnote) atau penjelasan terbuka merupakan bentuk etika kebaruan karya (novelty). Menurut Naning, kebaruan dalam sastra modern justru lahir dari proses crafting (pengolahan dan perakitan kembali) terhadap bahan-bahan bacaan yang pernah diserap oleh penulisnya.

Diskusi menajam pada irisan antara keterampilan crafting manual dengan hadirnya teknologi Generative AI (seperti ChatGPT atau model bahasa besar lainnya) dalam dunia kepengarangan.

Naning menyoroti bagaimana AI masa kini mampu mengeksekusi bentuk dan struktur sastra secara instan. Penulis bisa dengan mudah memerintahkan sistem untuk meramu gaya narasi ala Victor Hugo dan mengawinkannya dengan warna tone ala Annie Ernaux. Hal ini dapat terjadi karena AI bekerja berbasis algoritma penelusuran struktur dari ribuan teks yang dipelajarinya.

“Kemudahan ini membawa tantangan dan pertanyaan etika baru bagi kita sebagai kreator. Di satu sisi, AI menjadi alat kostumisasi gaya bahasa yang sangat cepat. Namun di sisi lain, ini menguji sejauh mana otentisitas dan batas etis keterlibatan penulis dalam proses kreatifnya,” tegas Naning.

Keterbatasan Manusia

Naning juga mengingatkan bahwa kriteria pembacaan sastra sangat dinamis dan kerap terjebak pada persepsi visual atau reputasi semata. Ia membagikan pengalaman unik di mana sebuah teks yang sebenarnya merupakan panduan manual untuk bahan parfum sintetik, justru diperlakukan dan dibaca oleh sebagian orang sebagai sebuah karya puisi yang puitis.

Fenomena ini, menurut Naning, menunjukkan adanya keterbatasan manusia dalam mengakses dan memvalidasi seluruh sumber pengetahuan secara menyeluruh. Oleh karena itu, pendekatan metodologis diperlukan untuk memetakan keterkaitan antar-teks secara lebih presisi.

Menyambung pemikiran tersebut, Riri Satria membagikan pengalamannya dalam menerapkan uji metodologi intertekstualitas berbasis analitis. Riri memaparkan bagaimana sebuah teks puisi dapat diuji untuk mendeteksi jejak alusi dan kemiripan strukturnya dengan karya penyair dunia.

“Saya mencoba menguji sebuah puisi dengan memasukkan metodologi interteks untuk melihat keterkaitannya dengan puisi siapa. Ketika dites dengan gaya T.S. Eliot atau Sylvia Plath, sistem dapat mengeluarkan analisis kedekatan struktur dan gaya bahasanya secara transparan,” papar Riri.

Naning mengiyakan bahwa lewat pengujian metodis seperti itu, jejak alusi, seperti kemiripan nada dengan karya Kim Joo atau penyair klasik lainnya, akan langsung terlihat terang benderang.

Diskusi kemudian berkembang dengan tanya jawab yang kritis dari para peserta untuk menanggapi dinamika intertekstualitas di era digital, sebelum akhirnya sesi foto bersama.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait