Perasaan yang Berpikir: Dialog Puisi, filsafat, dan Kejujuran Batin Sofyan RH Zaid

Oleh Riri Satria

Selamat kepada Sofyan RH. Zaid atas buku puisi terbarunya bertajuk “Perasaan yang Berpikir”. Alhamdulillah, bukunya sudah saya terima. Ada rasa gembira sekaligus haru ketika membuka halaman demi halaman, karena sejak awal terasa bahwa ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan catatan batin yang serius, jujur, dan matang.

Buku ini menarik karena hampir seluruh puisinya seolah sedang berdialog dengan para filsuf dan pemikir besar dunia. Bagi saya hal itu tidak mengherankan, mengingat Sofyan memiliki latar akademik S2 di bidang Filsafat. Di dalam buku ini, ia berdialog lewat puisi bersama Aristoteles, Voltaire, Jean-Paul Sartre, Søren Kierkegaard, Karl Marx, Martin Heidegger, Bertrand Russell, Albert Camus, Adam Smith, Tan Malaka, bahkan sahabatnya sendiri Subhi Ibrahim, dan banyak lagi yang lainnya.

Sengaja saya hanya mengambil tiga puisi untuk dibahas di sini, karena ketiganya dipersembahkan kepada tiga tokoh yang secara personal juga saya kagumi, yaitu René Descartes, Martin Heidegger, dan Adam Smith. Tiga puisi ini, bagi saya, membentuk satu lengkung refleksi yang utuh tentang berpikir, percaya, dan merelakan.

Membaca “Duka dalam Bentuk Wiski”, saya merasakan kelelahan eksistensial yang sangat manusiawi. Dialog Sofyan dengan Descartes tidak jatuh pada glorifikasi rasio, melainkan pada luka yang ditinggalkannya. Kesadaran digambarkan sebagai panggung kosong, tempat pikiran datang dan pergi, namun setelah pertunjukan usai, yang tersisa hanyalah seorang tua di tepi pantai, menunggu anaknya pulang dari badai. Citra itu begitu dekat dengan pengalaman batin siapa pun yang pernah percaya bahwa berpikir akan memberi jawaban, lalu mendapati dirinya tetap sendirian.

Wiski di tangan tokoh itu terasa seperti pengakuan jujur, ada duka yang tak selesai oleh logika. Walaupun Descartes mengatakan “dubito, ergo cogito, ergo sum”. René Descartes (1596–1650) adalah seorang filsuf, matematikawan, dan ilmuwan asal Prancis dengan  pemikiran utama beliau dubito, ergo cogito, ergo sum” bermakna “aku berpikir, maka aku ada”. Prinsip ini lahir dari “etode keraguan”  atau “method of doubt”, di mana ia meragukan segala sesuatu hingga menemukan satu hal yang tidak bisa diragukan, fakta bahwa ia sedang berpikir.

Puisi “Menari Sebelum Mencari” menghadirkan nada yang berbeda. Di sini Sofyan tidak lagi letih, melainkan pasrah dengan kesadaran yang lebih dalam. Dialog dengan Heidegger terasa sangat selaras dengan latar pesantrennya, di mana kebenaran tidak ditemukan, tetapi menyingkapkan diri. Akal harus lelah, agar cahaya menyentuh hati. Ada pengalaman religius di puisi ini, seolah Sofyan sedang berkata bahwa pencarian intelektual akhirnya berujung pada kepasrahan spiritual.

Sebagai pembaca, saya merasa diajak berhenti sejenak, menurunkan ego berpikir, dan membiarkan makna datang dengan caranya sendiri. Martin Heidegger (1889–1976) adalah salah satu filsuf Jerman paling berpengaruh di abad ke-20, yang dikenal karena kontribusinya pada aliran fenomenologi, eksistensialisme, dan hermeneutika.

Sementara itu, “Lampu Arah” adalah puisi yang paling diam-diam menusuk. Adam Smith, yang biasanya hadir sebagai simbol rasionalitas ekonomi dan kebebasan pasar, dihadirkan Sofyan dalam metafora rumah tangga: teplok di beranda ibu. Api dibiarkan mencari bentuknya sendiri, tetapi kebebasan itu berarti jarak. Ada kesedihan yang tidak diucapkan dengan keras, namun terasa sangat dalam, ketika aku-lirik menyadari bahwa arah cahaya bisa menjauhkannya sebagai ayah. Di sini, filsafat ekonomi berubah menjadi refleksi tentang cinta, tanggung jawab, dan keberanian untuk melepaskan.

Adam Smith (1723–1790) adalah seorang filsuf moral dan pelopor ekonomi politik asal Skotlandia yang diakui secara luas sebagai “Bapak Ilmu Ekonomi Modern”. Konsep “tangan tak terlihat” atau “invisible hands” menjelaskan bagaimana individu yang mengejar kepentingan pribadi secara tidak sengaja justru mendorong kesejahteraan ekonomi masyarakat secara keseluruhan melalui mekanisme pasar. Sementara itu dalam konsep pasar bebas dan laissez-faire, a menentang intervensi pemerintah yang berlebihan dalam ekonomi dan mendukung kompetisi terbuka serta perdagangan bebas.

Ketiga puisi ini, jika dibaca bersama, terasa seperti perjalanan batin Sofyan sendiri seorang santri yang memasuki dunia filsafat modern, seorang akademisi yang tidak sepenuhnya puas dengan konsep, dan seorang manusia yang tetap membawa luka, iman, serta kasih dalam pikirannya. Dari Descartes, ia belajar tentang dinginnya rasio. Dari Heidegger, ia menemukan penyingkapan yang hening. Dari Adam Smith, ia merasakan pahit-manisnya membiarkan kehidupan berjalan tanpa kendali penuh.

Sebagai pembaca, saya tidak merasa sedang membaca puisi-puisi yang ingin mengajari. Saya justru merasa sedang diajak duduk bersama seorang sahabat intelektual yang jujur mengakui kebingungannya, imannya, dan cintanya. Perasaan yang Berpikir bukan hanya judul buku, ia adalah pengakuan bahwa berpikir pun punya emosi, dan bahwa iman, rasio, serta kehidupan sehari-hari bisa bertemu di ruang puisi yang sunyi namun hangat.

 

Riri Satria adalah seorang pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang pencinta puisi, aktivis sastra dan kebudayaan.

 

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait