Seduh Sedih Yang Bertasbih: “Ibu, dan Puisi-Puisi Alit yang Penuh Makna”

Oleh Nanang R. Supriyatin

“Puisi adalah kesaksian manusia lewat kata-kata” – Sutardji Calzoum Bachri

Tak dapat dipungkiri bahwa seorang penyair adalah seorang yang mencatat riak-riak kehidupan. Dari mana sumber untuk mencatat? Sumber untuk mencatat bisa hadir dari nalar; yakni kemampuan berpikir logis, akal budi, atau jangkauan pikir yang memungkinkan  seseorang mempertimbangkan, menganalisis, dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta atau prinsip untuk mencapai pemahaman atau keputusan yang benar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penalaran berasal dari kata dasar nalar yang berarti aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis, jangkauan pikir, atau kekuatan pikir.

Karena bakat alam atau talenta, maka seorang penyair dituntut untuk berimajinasi, berdialog dengan masa lalu, dan masa kini. Tapi tak jarang karena kemampuan berpikir, seorang penyair akan menjangkau masa depan. Tak menutup kemungkinan ia akan bersaing dengan artificial intelegensi (AI, atau Kecerdasan Buatan) – meskipun secara produktifitas mungkin terkalahkan. Namun, secara imajiner dan pengalaman faktual, ia akan mendapatkan kepuasan batin karena ungkapan-ungkapan dalam puisi hadir dengan sesuatu bernama akal sehat.

Berangkat dari statemen Sutardji Calzoum Bachri, bahwa puisi adalah kesaksian manusia lewat kata-kata. Maka, dapat diyakini bahwa pengalaman membaca, pekerjaan dan pergaulan maupun sekadar healing merupakan cikal-bakal lahirnya dunia kata-kata yang kemudian kata-kata dimaksud membentuk metafora dengan diksi-diksi yang indah.

Sebanyak 101 puisi yang terhimpun dalam “Seduh Sedih yang Bertasbih” karya Khairani Piliang (Penerbit: Taresia, November 2025, 131 halaman) bicara lengkap, sejak dari catatan kesaksian tentang ibu, kasih sayang ibu, kemanusiaan, pengalaman pekerjaan, maupun cinta secara universal.

NASIHAT IBU

nak
ikutlah di belakang ibu
terkadang krikil menyandung
bisakah kau sabar?

nak
tutupi hidung
hindari jalan berdebu
agar tak lusuh bajumu

nak
turut terus langkah ibu
jangan berhenti di situ
ayo bergerak maju!

nak
buang malas
tegakkan prinsip
jangan jadi debu
apalagi benalu

nak
kuatkan iman
khusyukkan ibadah
ibu menyiapkan surga untukmu

Jakarta, 12 Februari 2025

 

IBU

ribuan mil berjarak
kita tak pernah sampai pada genggam
pada peluk yang using

ratapan rindu bergolak
tertitip di rapal doa
raut senyum terpatri hanya pada ingatan
yang juga semakin using

isak tak lagi terdengar
lirih semakin lirih
jarak semakin jauh membentang
kereta tak pernah berhenti
juga tak pernah Kembali

tapi kau pernah berbisik, menitip pesan
di batas mana kau menanti
hingga saatnya kita jumpa Kembali

ibu
engkaulah surga itu

Jakarta, Juli 2019

 

KAU PUISI

cinta ini
merambah serupa akar
mencengkeram kuat
menumbuhkan pohon rindu
tempat berteduh dari cuaca hati

kusiram setiap saat
sejak kutanam sekian waktu
Bersama katakata yang terus tumbuh
Sebab kau puisi tak pernah padam

Jakarta, Januari 2020

 

Puisi-Puisi Alit yang Penuh Makna

Terdapat puisi-puisi alit atau puisi-puisi pendek (puisi leutik dalam Bahasa Sunda) dalam buku “Seduh Sedih yang Bertasbih”; yakni sebanyak 17 puisi. Puisi alit adalah istilah untuk puisi-puisi dengan ungkapan pendek, sederhana dan ringkas. Puisi alit bisa berisi pesan moral atau nasihat dengan bahasa yang lugas. Akan tetapi, puisi alit dapat mengandung makna mendalam ketika pemilihan diksi memiliki arti secara harfiah, sebagaimana puisi Sitor Situmorang “Malam Lebaran”, atau puisi “Bunga 1 & 2” karya Sapardi Djoko Damono. Bahkan, puisi-puisi awal W.S. Rendra banyak yang pendek-pendek, khususnya Ketika ia menjalani masa-masa puber.

 

KEKUATAN CAHAYA

 

pada cahaya

aku menitip harap

dalam cuaca yang abu-abu

 

Jakarta, 24 November 2022

 

USIA

 

daun luruh

satu per satu penanda jejak

berpulang pada bumi

tempat berpijak

termakan masa

 

Jakarta, Februari 2020

 

KALAM TANAH

 

ketika daun itu jatuh

seperti waktu berbisik di telinga punggawa

menulis sajak di atas dedaunan

yang berakhir pada tanah

separuhnya lagi tergurat pada batu

 

Jakarta, 2020

 

Puisi-puisi alit boleh dikata semacam catatan-catatan ringan keseharian. Catatan-catatan ringan ini bisa disebut Quotes (dibaca /kwouts/). Quotes banyak ditulis penyair dan maknanya bisa menjadi ganda meskipun kehadirannya hanya sepotong kalimat, frasa, atau pernyataan pendek. Quotes bisa menjadi inspirasi karena kesederhanaannya itu – namun tak jarang dari yang sederhana akan membawa pembacanya pada ingatan-ingatan yang akan terus bertasbih di dalam batinnya.

Tentang Penyair

Meskipun baru pertama kali menerbitkan Kumpulan puisi tunggal, nama Khairani Piliang bukanlah nama baru dalam Khazanah sastra Indonesia. Puisi-puisinya banyak tersebar di media cetak maupun media online. Sebelumnya terbit Kumpulan cerita pendeknya berjudul “Suatu Pagi di Dermaga (2017). Perempuan penyair berdarah Minang, lahir di Medan, besar di Rantau Prapat dan tinggal di Bekasi ini – terkadang diundang sebagai narasumber untuk karya kreatif. Sedangkan kesibukkan sehari-harinya sebagai petugas Kesehatan di BRIMedika, Klinik.

Jalinan silaturahmi dengan banyak sastrawan/ penyair, dan rajinnya membaca karya puisi yang baik (berdasarkan parameter) kelak tercipta puisi-puisi yang makin subur dan berkualitas – dan pastinya dengan kekuatan kata, metafora, tifografi serta tanda baca. Endors yang disampaikan Irene Retnaningsih, Spt, MMA (Direktur Utama BRIMedika Klimik), Irawan Sandhya Wiraatmaja (Sastrawan/ Penyair), Dadang Ari Murtono (Sastrawan/ Penyair), dan lain-lain adalah bagian dari pemantik untuk progress ke depan. Salam! ***

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait