PojokTIM – Peluncuran buku antologi puisi 75 Tahun ADW: Kado yang Terbungkus dalam Rumah Kata di Aula Perpustakaan Kota Depok, Sabtu (4/7/2026), tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun penyair Adri Darmadji Woko, tetapi juga ruang refleksi atas perjalanan sastra Indonesia, khususnya perkembangan perpuisian sejak dekade 1970-an. Melalui diskusi yang menghadirkan sastrawan Noorca M. Massardi dan Sihar Ramses Simatupang, sosok Adri dipotret bukan semata sebagai penyair, melainkan juga sebagai mentor, pengarsip, dan penjaga sastra Indonesia.
Noorca M. Massardi membuka paparannya dengan mengenang kebersamaannya bersama Adri sejak awal 1970-an di Bulungan, Jakarta Selatan, yang ketika itu menjadi salah satu pusat pergerakan kesenian anak muda. Menurutnya, Adri merupakan bagian penting dari generasi yang turut membentuk wajah perpuisian Indonesia modern.
Ia menilai keistimewaan Adri terletak pada ketekunannya membaca dan memahami karya-karya penyair dari berbagai generasi. Kemampuan itu membuat Adri dikenal sangat kritis ketika membaca puisi teman-temannya. Ia tidak segan mengingatkan apabila menemukan larik atau gaya penulisan yang terlalu menyerupai penyair lain.
“Adri selalu mendorong kami agar menemukan suara sendiri. Kritiknya kadang terasa keras, tetapi justru menjadi tantangan untuk menulis puisi yang benar-benar otentik,” ungkap Noorca dalam diskusi dengan moderator Willy Ana.
Menurutnya, sikap kritis tersebut menjadikan Adri bukan hanya rekan sesama penyair, tetapi juga guru yang tanpa lelah membimbing teman-temannya agar tidak terjebak pada peniruan. Di tengah berbagai perbedaan pandangan estetik yang berkembang saat itu, Adri tetap mampu menjalin persahabatan dengan berbagai kelompok sastra dan menjadi jembatan komunikasi antargenerasi.
Noorca juga menyoroti kebiasaan Adri mengumpulkan berbagai dokumen dan kliping sastra selama puluhan tahun. Arsip-arsip itu, katanya, kini memiliki nilai sejarah yang sangat penting karena berhasil menyelamatkan banyak jejak karya penyair Indonesia yang sulit ditemukan kembali.
“Sebagian bukti perjalanan kepenyairan saya justru tersimpan di tangan Adri. Koleksi itulah yang kemudian membantu melacak kembali karya-karya lama yang nyaris hilang,” ujarnya.
Sementara itu, Sihar Ramses Simatupang mengajak peserta diskusi membaca puisi-puisi Adri dalam konteks sejarah sosial zamannya. Menurutnya, karya-karya Adri memperlihatkan bagaimana seorang penyair mampu berbicara tentang realitas sosial melalui bahasa yang tetap puitis dan kaya metafora.
Sihar mencontohkan sejumlah puisi Adri yang mengangkat kehidupan masyarakat kecil dengan pengucapan yang tenang, tetapi tajam. Bagi Sihar, kepedulian sosial dalam puisi Adri tidak tampil sebagai slogan, melainkan hadir melalui kekuatan imajinasi dan pilihan bahasa.
“Generasi penyair tahun 1970-an menunjukkan bahwa penyair tidak hidup terpisah dari masyarakat. Mereka tetap membaca persoalan kemanusiaan, ketimpangan sosial, dan perubahan zaman melalui karya-karyanya,” katanya.
Bagi Sihar, membaca perjalanan seorang penyair tidak cukup hanya melihat usia atau jumlah karya yang dihasilkan. Lebih jauh, pembacaan itu harus ditempatkan dalam konteks sejarah yang melingkupi kehidupan sang penyair.
Menurutnya, perkembangan perpuisian Indonesia pada dekade 1970-an dan 1980-an merupakan bagian penting dari sejarah sastra yang layak terus dikaji. Periode tersebut melahirkan berbagai pembaruan estetik sekaligus memperlihatkan bagaimana penyair merespons perubahan sosial, politik, dan budaya.
“Seorang penyair bukan hanya menghasilkan puisi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah zamannya. Membaca usia seorang penyair berarti juga membaca perjalanan sejarah yang menyertainya,” ujar Sihar.
Buku 75 Tahun ADW memuat ratusan puisi karya para penyair dari berbagai daerah yang dipersembahkan sebagai penghormatan kepada Adri Darmadji Woko. Menurut Badri AQT selaku penggagas sekaligus penerbit, proses pengumpulan naskah hingga buku terbit memerlukan waktu sekitar tiga bulan.
Dalam kesempatan tersebut, Adri Darmadji Woko menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh penyair yang telah berkontribusi dalam penerbitan buku tersebut. Baginya, antologi ini bukan sekadar hadiah ulang tahun, melainkan juga menjadi penanda persahabatan dan semangat kebersamaan yang terus terjalin di dunia sastra.
Selain diskusi, acara juga dimeriahkan dengan pembacaan dan musikalisasi puisi oleh sejumlah penyair dan seniman. Peluncuran 75 Tahun ADW: Kado yang Terbungkus dalam Rumah Kata menjadi penghormatan atas dedikasi panjang seorang penyair yang tidak hanya meninggalkan puisi, tetapi juga mewariskan semangat, ingatan, dan jejak intelektual bagi perkembangan sastra Indonesia.
Sejumlah sastrawan yang hadir dalam acara dyang dipandu Shinta Miranda itu di antaranya Fanny J Poyk, Julia Basri, Lily Siti Multatuliana, Nurhadi eMSa, Guntoro Sulung, Nanang R Supriyatin, Wig SM, Gunoto Saparie, Rayni N Massardi, Joko Arief Wicaksono, Aryani Isnamurti, Asrizal Nur, Eddy Pramduane, Denting Kemuning, Giyanto Subagio, dan lain-lain.





