PojokTIM – Fitrilya Anjarsari meraih juara pertama Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2026 melalui naskah berjudul Keruntuhan Manusia sebagai Pusat: Kecenderungan Posthuman dalam Estetika Sastra Indonesia Mutakhir. Pengumuman pemenang berlangsung dalam Malam Anugerah Kritik Sastra di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis malam, (23/7/2026).
Dewan juri menilai naskah Fitrilya memiliki kekuatan dalam membaca kecenderungan narasi posthuman dalam sejumlah karya sastra setelah tahun 2000. Naskah tersebut tidak hanya melihat kehadiran subjek nonmanusia, tetapi juga menunjukkan bagaimana unsur-unsur nonmanusia dapat menjadi penggerak cerita sekaligus memiliki agensi dalam struktur naratif.
Empat karya yang menjadi objek pembahasan dalam naskah tersebut adalah O (2016), Semua Ikan di Langit (2017), Aroma Karsa (2018), dan Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu (2017). Dewan juri menilai ketajaman Fitrilya dalam melihat unsur-unsur penggerak cerita dan menariknya ke dalam pembacaan kontekstual menjadi salah satu kekuatan utama naskah tersebut.
Pemenang kedua diraih Cindy Wijaya dengan naskah Ala-Ala Negosiasi Pala-Pala Motosep, sedangkan Rituanul Hakim Autonul Muter meraih posisi ketiga melalui naskah Ironi dalam Empat Fragmen Kaca Patri.
Selain tiga pemenang utama, dewan juri juga menetapkan lima naskah yang dinilai menarik perhatian. Kelima naskah tersebut adalah Melihat 5.068 Sampul Buku: Membaca Representasi Wajah Sastra Indonesia Periode 2000-2025 karya Ananda Bintang Purwaramdona, Rek dan Tubuh yang Menolak Patuh: Menakar Estetika Performativitas dalam Arus Sastra Indonesia Mutakhir karya Deriska Lulusalsabila, Ingatan yang Terpecah: Produksi dan Negosiasi Memori Sastra Indonesia Pasca 2000 karya Wahyu Gandhi G, Menimbang Kembali Definisi Sastra Indonesia karya Sunli Thomas Alexander, serta Dibuat dari Masa Depan: Terlepas di Kayak Babat dan Serat karya Fajar Laksana. Penetapan lima naskah tersebut bukan merupakan peringkat, melainkan karya yang secara khusus menarik perhatian dewan juri.
Dalam pertanggungjawaban dewan juri, Adi Wicaksono mengatakan bahwa Sayembara Kritik Sastra DKJ 2026 mengundang para penulis untuk memikirkan kembali berbagai persoalan mendasar dalam sastra Indonesia. Sejumlah isu yang menjadi perhatian antara lain periodisasi dan kanonisasi sastra Indonesia, otoritas kritik dan produksi penilaian sastra, definisi sastra Indonesia, persoalan bahasa dan wilayah, praktik gatekeeping, serta pendekatan close reading dan distance reading terhadap karya sastra mutakhir.
Dari 142 naskah yang lolos seleksi administratif, dewan juri menemukan keragaman tema sekaligus pendekatan. Penilaian tidak hanya didasarkan pada kepengarangan, keterbacaan, dan kebaruan, tetapi juga kemampuan penulis mempertanggungjawabkan argumennya dalam berbagai konteks, kekuatan argumentasi, serta kejernihan dan daya tarik bahasa.
Keragaman tersebut, menurut Wicaksono, memperlihatkan bahwa kritik sastra tidak lagi semata-mata memperlakukan teks sebagai objek yang berdiri sendiri. Sejumlah naskah justru membaca karya sastra sebagai bagian dari tubuh sosial dan agensi yang berkaitan erat dengan konteks, sekaligus menempatkan kritik sastra itu sendiri sebagai bagian dari ekosistem sastra Indonesia.
Tema yang muncul pun cukup beragam. Beberapa naskah membahas pergeseran otoritas, demokratisasi sastra Indonesia, sastra sebagai medium perawatan dan pengawetan ingatan, komodifikasi sejarah dalam arus pasar global, hingga persoalan formalisme. Ada pula naskah yang menaruh perhatian pada karya-karya yang selama ini belum banyak dibicarakan, termasuk sastra anak dan karya-karya dari luar arus utama kanon sastra.
Perkembangan teknologi digital dan media sosial juga menjadi salah satu persoalan yang banyak disentuh para peserta. Meluasnya kanal digital membuat produksi dan distribusi wacana sastra semakin terbuka. Pada saat yang sama, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai posisi, peran, dan otoritas kritik sastra. Peran kritik yang sebelumnya lebih banyak berada di tangan kritikus profesional kini berhadapan dengan pembaca aktif yang dapat memberikan tanggapan dan penilaian melalui berbagai platform digital.
Menariknya, dewan juri yang terdiri dari Adi Wicaksono, Asep Subhan, dan Ariespine Dymussaga Miraviori, juga menemukan semakin beragamnya metode yang digunakan para peserta. Jika pembacaan dekat atau close reading selama ini menjadi salah satu pendekatan yang dominan dalam kritik sastra Indonesia, sejumlah naskah dalam sayembara ini menggunakan pendekatan distance reading. Keragaman metode tersebut dinilai menghasilkan variasi argumentasi dan kesimpulan yang lebih segar.
Malam Anugerah Kritik Sastra 2026 dihadiri Ketua Dewan Kesenian Jakarta Bambang Prihadi, Ketua Komite Sastra DKJ Fadjriah Nurdiarsih (Mpok Iyah), Kepala UP PKJ TIM Harry Sanjaya, serta Kepala Badan Pengembangan Bahasa Kemendikdasmen Hafidz Muksin.
Mengangkat Sastra Anak
Sementara itu, naskah pemenang kedua, Ala-Ala Negosiasi Pala-Pala Motosep, dinilai penting karena mengangkat sastra anak, genre yang selama ini belum mendapatkan perhatian yang sebanding dari kritik sastra. Naskah tersebut membahas karya sastra anak terbitan 1994 dan melihat sastra anak bukan sebagai ruang yang steril dari persoalan politik, melainkan sebagai situs negosiasi antara rasa ingin tahu anak, tanggung jawab moral orang dewasa, dan pengawasan negara.
Dewan juri menilai naskah tersebut memiliki bahasa yang mengalir, struktur yang runtut, serta pembahasan yang mendalam. Kajian itu sekaligus memperlihatkan bahwa sastra anak dapat menjadi medan penting untuk membaca relasi antara sastra, pendidikan, politik, dan kekuasaan.
“Melalui Sayembara Kritik Sastra 2026, Komite Sastra DKJ kembali menegaskan pentingnya kritik sebagai bagian dari kehidupan sastra. Kritik tidak hanya berfungsi memberikan penilaian terhadap karya, tetapi juga membantu memetakan perkembangan sastra, membaca pencapaian kerja kreatif, serta membuka perdebatan mengenai arah dan perubahan sastra Indonesia,” ujar Mpok Iyah.
Di tengah semakin luasnya produksi karya dan berkembangnya media digital, keberadaan kritik sastra menjadi semakin penting. Kritik diperlukan untuk menjaga percakapan intelektual di sekitar karya sekaligus memastikan bahwa perkembangan sastra tidak berhenti pada produksi dan konsumsi karya semata. Sayembara ini, pada akhirnya, menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan karya kritik, pembacaan baru, dan berbagai kemungkinan dalam melihat kembali sastra Indonesia mutakhir.





