Fadli Zon Dorong Sastrawan Memiliki Museum Pribadi

Fadli Zon menunjukkan buku puisi pemberian LK Ara didampingi Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin. Foto: PojokTIM 

PojokTIM – Menteri Kebudayaan Fadli Zon berharap para sastrawan dan penyair memiliki museum atau rumah yang dapat menjadi tempat menyimpan karya, arsip, dan memorabilia mereka, sehingga dapat menjadi ruang ziarah budaya sekaligus sumber inspirasi bagi generasi mendatang.

Hal itu disampaikan Fadli Zon saat memberikan sambutan pada peringatan Hari Puisi Indonesia (HPI) ke-14, atau yang pertama sejak tanggal 26 Juli ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia oleh pemerintah, di Aula Gedung Utama Kemendikdasmen, Minggu (26/7/2026).

Menurut Fadli, keberadaan rumah atau museum sastrawan penting untuk menjaga warisan kesusastraan Indonesia. Ia mencontohkan sejumlah rumah sastrawan dan penyair dunia yang hingga kini menjadi tempat yang dikunjungi masyarakat dan wisatawan karena menyimpan jejak kehidupan serta karya para tokohnya.

Fadli menyebut rumah penyair Taufiq Ismail sebagai salah satu contoh yang telah dirintis di Indonesia. Rumah Puisi Taufiq Ismail, menurut dia, juga telah dikembangkan sebagai Museum Sastra Indonesia dengan menyimpan berbagai memorabilia dan karya sejumlah sastrawan.

“Jadi, kita ingin juga para sastrawan, para penyair mempunyai rumah-rumahnya yang mungkin bisa di-share,” kata Fadli.

Ia kemudian mencontohkan rumah Leo Tolstoy di Yasnaya Polyana yang hingga kini menjadi tempat ziarah budaya sekaligus museum. Demikian pula rumah dan tempat yang berkaitan dengan sejumlah tokoh sastra dunia yang pernah dikunjunginya, seperti Fyodor Dostoevsky, William Shakespeare, Robert Frost, John Keats, dan Pablo Neruda.

Fadli mengatakan rumah-rumah tersebut tidak hanya menjadi tempat mengenang sang tokoh, tetapi juga menjadi ruang yang memberikan inspirasi kepada masyarakat.

Suasana talkshow pada acara peringatan JPI 2026. Foto: PojokTIM

Dalam acara yang dipandu Ewith Bahar, Ketua Panitia HPI 2026 Ariyani Isnamurti mengatakan peringatan HPI tidak sekadar menjadi perayaan sastra, tetapi diharapkan menjadi momentum penting dalam perkembangan kebudayaan Indonesia. Melalui perayaan ini, ruang apresiasi terhadap puisi diperluas, penyair lintas generasi dipertemukan, lahirnya penulis-penulis baru didorong, serta peran budaya diperkuat dalam membangun nilai kemanusiaan dan persatuan bangsa.

“Hari Puisi Indonesia juga menjadi ruang untuk menonjolkan kekayaan Indonesia melalui sejarah, kata, karya, keberagaman, pencapaian, alam, bangsa, dan kehidupan masyarakat Indonesia,” ujar Ariyani.

Menurutnya, peringatan HPI tahun ini menghadirkan wajah baru karena menjadi ruang kolaborasi lintas generasi, lintas musik, lintas disiplin, lintas profesi, serta melibatkan sahabat-sahabat sastra dari berbagai negara. Tokoh-tokoh senior tampil bersama generasi muda, berkolaborasi dengan berbagai kalangan, mulai dari ekonom, budayawan, pemerintah, diplomat, seniman, musisi, penyair, hingga pegiat sastra.

Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa puisi tidak hanya menjadi milik kalangan penyair. Puisi dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan tidak mengenal batas usia, profesi, bahasa, agama, maupun kebangsaan. Puisi dipandang sebagai ruang kemanusiaan yang mampu mempertemukan dan menjembatani perbedaan serta menggerakkan persahabatan.

Karena itu, demikian Ariyani, HPI diharapkan tidak hanya menjadi perayaan yang diselenggarakan oleh kalangan penyair dan sastrawan. HPI diharapkan menjadi milik seluruh rakyat Indonesia dan dirayakan secara lebih luas oleh sekolah, kampus, komunitas budaya, pemerintah daerah, masyarakat, guru, pelaku usaha, hingga lingkungan RT dan RW, sesuai dengan kemampuan dan kreativitas masing-masing.

LK Ara

Pada peringatan HPI tersebut, Lesik Keti Ara atau yang lebih dikenal dengan LK Ara mendapat Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2026. Penyair asal Gayo yang kini berusia 88 tahun itu dinilai dewan juri HPI memiliki rekam jejak yang panjang dan memberi warna bagi perjalanan puisi Indonesia.

Atas anugerah tersebut, LK Ara mengaku bangga. Namun demikian, ia menganggapnya sebagai anugerah yang harus dijaga dengan terus berkarya.

“Anugerah bukan akhir, melainkan penanda untuk terus berkarya,” ujar LK Ara.

Perayaan HPI 2026 yang diisi dengan pembacaan puisi oleh para penyair terkenal dan talkshow yang menghadirkan Sutardji Calzoum Bachri dan Nissa Rengganis sebagai narasumber, dengan moderator Sihar Ramses Simatupang, dihadiri sejumlah pejabat hingga duta besar.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait