Hari Puisi Indonesia Menggema hingga Empat Benua

Ewith Bahar. Foto: PojokTIM

PojokTIM – Peringatan Hari Puisi Indonesia (HPI) ke-14 tahun 2026 mendapat perhatian dari para penyair dan budayawan mancanegara yang datang dari empat benua yakni Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika. Ucapan selamat untuk HPI disampaikan melalui rekaman video yang kemudian dihimpun dan ditayangkan pada layar besar yang menjadi latar panggung perhelatan HPI di Graha Utama, Gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026).

“Kehadiran suara-suara dari berbagai penjuru dunia tersebut memberi warna tersendiri dalam peringatan HPI tahun ini. Puisi tidak hanya ditempatkan sebagai ekspresi kesusastraan yang tumbuh di dalam batas-batas sebuah negara, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan kebudayaan yang memungkinkan para penyair dari berbagai latar belakang saling menyapa, berbagi gagasan, dan menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Ewith Bahar, koordinator hubungan antarnegara HPI.

Menurutnya, memiliki Hari Puisi bagi suatu negara dapat menjadi salah satu penanda prestise kebudayaan. Keberadaan hari khusus untuk merayakan puisi menunjukkan perhatian terhadap bahasa dan kesusastraan sekaligus mencerminkan upaya sebuah bangsa dalam merawat identitas budayanya. Puisi, dalam konteks tersebut, tidak semata-mata hadir sebagai karya sastra, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan peradaban dan ingatan kolektif masyarakat.

Di sejumlah negara, puisi bahkan dipandang memiliki fungsi yang lebih luas dalam kehidupan sosial. Amerika Serikat, misalnya, melihat puisi sebagai salah satu sarana penyembuhan sosial. Puisi dapat menjadi medium untuk mengungkapkan pengalaman, luka, kegelisahan, dan harapan masyarakat. Melalui kata-kata, pengalaman personal dapat menemukan resonansinya dalam pengalaman bersama, sementara berbagai persoalan sosial dapat dibicarakan melalui bahasa yang lebih reflektif dan manusiawi.

Dalam konteks itulah, Yayasan Hari Puisi Indonesia, sebagai penyelenggara HPI sejak 2013, terus berupaya menjadikan peringatan tahunan tersebut sebagai ruang yang tidak hanya mempertemukan para penyair di dalam negeri, tetapi juga membuka jembatan kultural dengan dunia internasional.

Pesan-pesan yang disampaikan para penyair mancanegara dalam video ucapan selamat HPI 2026 memperlihatkan harapan yang sama. Puisi diharapkan dapat menjadi rantai koneksi yang kuat bagi para penyair di berbagai belahan dunia. Melalui puisi, mereka dapat bersama-sama menyuarakan nilai-nilai universal seperti keadilan, kesetaraan gender, kemanusiaan, perdamaian, dan cinta kasih.

“Puisi memiliki kemampuan untuk melampaui batas geografis, bahasa, dan kebudayaan. Meskipun para penyair berasal dari negara yang berbeda dan memiliki pengalaman sejarah serta latar sosial yang beragam, mereka dapat bertemu dalam nilai-nilai yang bersifat universal,” tegas Ewith yang bertindak sebagai pembawa cara dalam perayaan HPI tersebut..

Penyair yang memberikan ucapan selamat untuk HPI dan pesan perdamaian antara lain Alvaro Maio dan Isilda Nunes dari Portugal; Sayeeda Sharmin dan Shikdar Mohammed Kibriah dari Bangladesh; Maja Milojkovic dan Emir Sokolovic dari Serbia; Dimitris P. Kraniotis dari Yunani; Abdukakhor Kosimov Sattorovich dari Tajikistan; Rozalia Alexandrova dari Bulgaria; Bilal Al-masri dari Lebanon; Luz Maria Lopez dari Puerto Rico; Jasmine Sfiligoj dari Kroasia; Zlatan Demirovic dari Amerika Serikat; Manoj Krishnan dari India; Barbaros Irdelmen dari Turki; serta Folajimi Notch Shoaga dari Nigeria.

Bagi Indonesia, perhatian dari para penyair mancanegara terhadap Hari Puisi Indonesia juga menjadi peluang untuk memperkenalkan kekayaan puisi Indonesia ke panggung yang lebih luas. Hubungan antarp penyair dapat menjadi pintu masuk bagi pertukaran kebudayaan yang lebih intensif, sekaligus membuka kesempatan bagi karya-karya penyair Indonesia untuk dibaca dan diapresiasi di luar negeri.

“Hubungan yang telah terbangun tersebut ke depan dapat diperkuat melalui berbagai program kerja sama. Tidak hanya sebatas saling berkirim ucapan atau berpartisipasi dalam perayaan secara virtual, relasi tersebut dapat dikembangkan menjadi program yang lebih konkret,” kata Ewith.

Penyair yang telah mempublikasikan sejumlah buku puisinya itu, kerja sama yang dibangun antarnegara bisa saja berupa kunjungan antarp penyair dari berbagai negara, program residensi, serta pertukaran kebudayaan. Program-program tersebut diharapkan dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi para penyair untuk berinteraksi secara langsung, mengenal tradisi sastra masing-masing, dan melahirkan kerja-kerja kebudayaan bersama.

Kesempatan tersebut, lanjutnya, diharapkan terbuka bagi para penyair Indonesia secara lebih luas. Mekanisme dan bentuk programnya akan ditentukan kemudian dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang diperlukan.

Dengan demikian, peringatan HPI ke-14 tidak hanya menjadi perayaan atas keberadaan puisi sebagai bagian penting dari kebudayaan Indonesia. Kehadiran suara para penyair dari empat benua juga menegaskan bahwa puisi dapat menjadi bahasa perjumpaan yang melampaui sekat-sekat negara. Dari Indonesia, kata-kata para penyair berangkat menuju dunia, dan dari dunia pula suara-suara puitik kembali datang untuk menyapa Indonesia.

Di tengah dunia yang terus menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan, puisi mungkin tidak dapat menghentikan perang atau mengubah kebijakan secara langsung. Namun, puisi dapat menjaga sesuatu yang lebih mendasar: kemampuan manusia untuk tetap merasakan penderitaan orang lain, merawat empati, dan membayangkan kehidupan yang lebih adil. Dari sanalah jembatan kebudayaan dibangun. Satu kata, satu suara, dan satu puisi pada satu waktu.

Perayaan HPI ke-14 dihadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen Hafidz Muksin, Presiden  Penyair Indoensia Sutardji Calzoum Bachri, LK Ara yang pada kesempatan itu mendapat Anugerah Kepenyairan Adiluhung, Ketua Panitia Ariyani Isnamurti, serta sejumlah penyair dan sastrawan tanah air.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait