Membaca Ciptakan Ruang Literasi untuk Berkarya

PojokTIM — Ada banyak cara menumbuhkan budaya literasi di kalangan pelajar. Salah satunya dengan membawa siswa lebih dekat pada dunia membaca sekaligus memberi mereka ruang untuk menciptakan karya.

Hal tersebut dilakukan Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi Jakarta Utara melalui program Roadshow Membaca di SMP Daarul Ma’arif Semper Timur, Jakarta Utara, Kamis (13/8/2026).

Sebanyak 50 peserta didik mengikuti kegiatan yang dipusatkan di aula sekolah. Selain mendapatkan penguatan literasi membaca, para siswa mengikuti workshop menulis kreatif puisi yang berlangsung interaktif dan penuh antusiasme.

Kegiatan dibuka oleh Aji, perwakilan Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jakarta Utara. Sementara dari pihak sekolah hadir Resti, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, yang mewakili Kepala SMP Daarul Ma’arif.

Workshop menghadirkan Rissa Churria, seorang pendidik sekaligus penyair. Rissa juga merupakan pengelola Rumah Baca Ceria (RBC), pengurus Jagat Sastra Milenia (JSM), serta anggota Penyair Perempuan Indonesia (PPI).

Dengan tema Menemukan Puisi di Sekitar Kita, Rissa mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap lingkungan. Menurut pendekatan yang diberikan dalam workshop, inspirasi puisi tidak perlu dicari jauh-jauh.

Benda yang ada di ruang kelas, suara yang terdengar, suasana sekolah, pengalaman bersama teman, kerinduan, kegembiraan, bahkan hal kecil yang sering luput dari perhatian dapat menjadi bahan sebuah puisi.

Para siswa kemudian diajak melakukan latihan imajinasi. Mereka memilih sebuah benda di sekitar dan membayangkan benda tersebut seolah-olah dapat berbicara.

Latihan tersebut membuat suasana workshop semakin hidup. Siswa belajar bahwa imajinasi dapat mengubah sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang memiliki cerita.

Dari 10 Kata Menjadi Puisi

Dalam praktik berikutnya, siswa diminta menentukan satu tema, kemudian menuliskan 10 kata yang berkaitan dengan tema tersebut.

Sepuluh kata itu menjadi bahan dasar untuk dikembangkan. Siswa mulai memilih kata yang dianggap paling kuat, menghubungkannya dengan kata lain, kemudian menyusunnya menjadi larik-larik puisi.

Larik yang telah terbentuk kemudian disusun menjadi bait hingga menjadi puisi utuh.

Metode sederhana tersebut membuat siswa tidak lagi takut menghadapi halaman kosong. Mereka memahami bahwa sebuah puisi dapat dimulai dari kata-kata sederhana.

Rissa juga mengenalkan empat unsur penting dalam puisi, yaitu tema, diksi, imaji, dan majas. Penggunaan pancaindra juga diperkenalkan untuk membantu siswa membangun imaji sehingga pembaca dapat ikut merasakan suasana dalam puisi.

Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian yang menarik. Para siswa melontarkan berbagai pertanyaan tentang puisi, mulai dari cara menemukan inspirasi, memilih kata, menggunakan majas, hingga bagaimana membuat puisi lebih kuat ketika dibacakan.

Selain menulis, siswa juga diperkenalkan pada teknik membaca puisi, seperti artikulasi, intonasi, jeda, ekspresi, dan penghayatan.

Kegiatan berlangsung dalam suasana santai namun produktif. Para peserta tidak sekadar mendengarkan materi, tetapi langsung mencoba menulis dan menghasilkan karya.

Melalui Roadshow Membaca ini, Sudin Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi Jakarta Utara menunjukkan bahwa kegiatan literasi dapat dikemas secara kreatif dan dekat dengan dunia pelajar.

Membaca menjadi pintu untuk menemukan pengetahuan dan inspirasi. Menulis menjadi cara bagi siswa untuk menyampaikan apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan bayangkan.

Dari aula SMP Daarul Ma’arif Semper Timur, 50 siswa belajar bahwa puisi ternyata tidak selalu berada di dalam buku.

Puisi bisa berada di sekitar mereka—di meja, jendela, hujan, suara teman, senyum guru, halaman sekolah, bahkan dalam pengalaman sehari-hari. Tinggal bagaimana mereka melihat, merasakan, membayangkan, lalu menuliskannya. (rs)

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait