Lebih dari Sekadar Penumpang Gelap; Kisah Cinta, Doa dan Paris

PojokTIM – Keinginan bisa berubah menjadi tekad kuat lalu berusaha diwujudkan, bagaimanapun caranya. Demikian yang dapat kita tangkap ketika membaca buku novel biografi Alijullah Hasan Jusuf. Berawal dari melihat peta, lalu melihat pesawat di landasan pacu Bandara Kemayoran, hati pun tergerak hingga nekat masuk kompartemen roda pesawat yang membawanya ke Amsterdam, 1967.

Alhasil, Alijullah ditangkap polisi Belanda dan dipulangkan ke Indonesia serta sempat ditahan selama tiga bulan.

“Saya memilih pesawat Garuda dari puluhan pesawat lainnya karena saya orang Aceh, di mana masyarakat Aceh pernah menyumbang dana untuk membeli pesawat Garuda,” ujar Alijullah di Resto EatWell Coffee, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (31/8/2026). Hadir dalam bincang sore itu, Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) Riri Satria dan sejumlah penyair serta sastrawan.

Pengalaman itu tidak membuat Alijullah jera. Tekad untuk mengubah nasib dan bersekolah di Eropa terlanjur dicanangkan dalam dada. Setahun kemudian, bermodal boarding pass bekas, pemuda Aceh itu pun kembali ke Eropa, tepatnya Paris, Prancis.

Meski ditangkap dan ditahan di KBRI, Alijullah tetap bersemangat. Terlebih janji orang KBRI yang akan membelikan tiket pulang ke Indonesia tidak direalisasikan. Alijullah mulai mencoba peruntungan dengan kerja serabutan, termasuk menjadi office boy di KBRI.

Setelah cukup memiliki uang, Alijullah membuat paspor dan pulang secara resmi ke Indonesia. Namun itu bukan akhir petualangan. Alijullah bertekad kembali ke Paris sebagai pengunjung resmi.

“Akhirnya hal itu bisa terwujud,” ujar Alijullah. Hingga saat ini tercatat ia telah menghabiskan waktu selama 55 tahun di kota mode tersebut bersama sang istri asal Nias, Suryati Hapsah.

Kekuatan Doa

Di samping tekad, satu hal yang menguatkan Alijullah melakukan petualangan berbahaya adalah doa yang tak putus. Ia sering berdoa di Masjid Istiqlal memohon agar keinginan untuk mengubah nasib demi membahagiakan orang tuanya dikabulkan Sang Khaliq.

“Di tengah deru mesin dan terpaan angin, saya terus berdoa, melafalkan semua doa yang saya ingat,” kenangnya.

Doa itu juga yang mendatangkan miracle pada penerbangan gelap keduanya dengan tujuan Paris. Saat ditanya nomor kursinya oleh pramugari, Alijullah menyebut angka 48. Ajaibnya, nomor itu benar-benar kosong.

“Saya menyebutnya sebagai keajaiban sekaligus keberuntungan,” ujar Alijullah yang tetap berstatus WNI.

Alijullah tidak ingin kenekatannya menjadi contoh. Dorongan untuk menerbitkan kisahnya menjadi tiga buku yakni Penumpang Gelap (2014), Penumpang Gelap 2/Paris, Je Reviendrai (2015), dan Lurah Paris (2022), justru untuk menginspirasi generasi muda supaya tidak hanya memiliki keberanian, tetapi juga tekad yang kuat disertai keimanan. Ia pun membuat disclaimer “Jangan Ditiru, Sangat Berbahaya” di halaman awal bukunya.

Lurah Paris

Sisi lain Alijullah adalah perannya sebagai tour guide bagi orang-orang Indonesia yang ke Paris. Salah satunya seperti diceritakan Riri Satria.

“Saya mengenal Pak Ali sejak tahun 2016, saat sedang kuliah S3 di Paris. Beliau yang menyopiri saya keliling Paris, mengenalkan tempat-tempat makan yang enak dan halal,” ujar Riri.

Mereka bertemu kembali saat Riri meluncurkan buku puisi berjudul Winter in Paris di Ubud Writers and Readers Festival 2017. “Pak Ali hadir karena kebetulan sedang berada di Indonesia.”

Ada kesan menarik ketika Alijullah memergoki Riri Satria sedang melamun di sebuah kafe. “Beliau kaget setelah tahu saya sedang membuat puisi,” kata Riri terbahak.

Alijullah dan Riri. Foto: Ist

Love Story

Bicara Paris tanpa kisah cinta yang membara tentu hambar. Demikian juga yang dialami Alijullah. Menurut Suryati, ia kaget setelah mengetahui kisah cinta suaminya dengan sejumlah perempuan.

“Saya baru tahu setelah membaca bukunya,” kata Suryati.

Bahkan ada halaman khusus, hampir satu bab, yang hanya berisi kisah asmara Alijullah dengan pacar-pacarnya.

Namun kisah cinta antara Alijullah dan Suryati, yang disebut penggemar, tidak kalah menarik. Suryati sudah tahu kisah suaminya sejak umur delapan tahun. Ia tidak menyangka akhirnya mereka berjodoh.

“Ini juga sebuah keajaiban. Sekarang kami sudah dikaruniai cucu,” kata Suryati bangga.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait