Filosofi Orang Kampung di Tengah Hilangnya Suasana Kampung

PojokTIM – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menilai salah satu kekuatan sinetron Si Doel Anak Sekolahan terletak pada kemampuannya menghadirkan suasana kampung secara alami. Menurutnya, suasana tersebut kini semakin jarang ditemukan dalam sinetron.

“Si Doel bukan semata-mata sebuah cerita yang baik, tetapi memiliki kehidupan di dalamnya. Penonton dapat mendengar berbagai suara yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat kampung seperti suara radio dari siaran RRI, (kokok) ayam, burung, lagu dangdut dan lain-lain,” kata Rano saat memberikan sambutan pada acara peluncuran buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Rano Karno, yang berperan sebagai Doel dalam sinetron yang juga disutradarainya, membandingkan suasana tersebut dengan sinetron masa kini. Ia menilai penggambaran kampung dalam sinetron sekarang sering kali hanya menjadi latar, sementara kehidupan masyarakatnya tidak benar-benar terasa.

“Itu yang hilang,” katanya.

Ia bahkan menyebut penggambaran semacam itu sebagai kamuflase yang paling tidak jujur. Menurut Rano, sebuah produksi dapat mengambil gambar di kampung, tetapi suasana yang ditampilkan belum tentu mencerminkan kehidupan kampung yang sebenarnya.

Karena itu, Rano menilai kehidupan kampung perlu terus direkam dan didokumentasikan, baik melalui buku maupun medium visual lainnya. Dokumentasi tersebut dapat menjadi bagian dari pusat data mengenai kehidupan masyarakat dan perubahan Jakarta.

Rano Karno juga memuji Harry Tjahjono yang disebutnya mampu mengembangkan dunia cerita Si Doel menjadi lebih luas.

“Mas Harry bukan hanya menulis skenario, tetapi menemukan dan mengembangkan sejumlah karakter yang kemudian melekat dalam ingatan penonton. Menemukan Mas Karyo, menemukan Atun, menemukan Pak Bendot, menemukan Koh Ahong dan tokoh-tokoh lainnya,” kata Rano.

Dalam kesempatan yang sama, Harry Tjahjono mengatakan, gagasan mengenai cerita yang kemudian berkembang menjadi Si Doel Anak Sekolahan telah ada dalam pikirannya sejak puluhan tahun lalu. Pada era 1980-an, ia bersama Rano Karno telah banyak berdiskusi dan menulis.

Menurut Harry, proses tersebut dilandasi kegelisahan bahwa kehidupan masyarakat Betawi dan suasana kampung pada suatu masa dapat hilang apabila tidak didokumentasikan melalui karya seni.

Acara peluncuran buku Filosofi Orang Kampung yang berisi seluk-beluk tentang proses kreatif, tokoh-tokoh dan pesan dalam sinteron Si Doel Anak Sekolahan, juga diisi dengan diskusi menghadirkan panelis Yahya Andi Saputra dan Fanny Jonathan Poyk dengan moderator Kuniawan Junaedhie.

 

 

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait