PojokTIM- Gelaran Festival Komunitas 2026 di Gelanggang Senen, Jakarta Pusat, 19 September 2026 cukup sukses dan meriah. Penyelenggaraan festival ini tidak sekadar menjadi ajang unjuk bakat biasa, melainkan sebuah manifestasi kebangkitan ruang-ruang kultural yang berakar kuat pada sejarah masa lalu untuk menjawab tantangan zaman di masa kini.
Tercatat sekitar 70 siswa dari 15 SMA/SMK sederajat di wilayah Jakarta Pusat ambil bagian dalam rangkaian kegiatan utama. Para pelajar ini tampak antusias menunjukkan kemampuan terbaik mereka melalui berbagai mata lomba yang dikurasi secara saksama, mulai dari lomba baca puisi, cipta puisi, dan penulisan cerpen. Kehadiran wajah-wajah muda ini memberikan angin segar sekaligus bukti nyata bahwa estafet kepenulisan dan kecintaan terhadap seni sastra masih memiliki tempat yang istimewa di hati generasi Z.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Festival Komunitas, Yon Bayu Wahyono, menegaskan bahwa pemilihan kawasan Senen sebagai lokasi penyelenggaraan bukanlah sebuah kebetulan semata. Kegiatan ini diinisiasi secara sadar sebagai upaya strategis untuk menumbuhkan dan menghidupkan kembali tradisi sastra yang pernah berurat akar di kawasan Senen. Kawasan ini di masa lalu dikenal sebagai kawah candradimuka tempat bertemunya para pemikir, penyair, dan seniman besar tanah air.
“Ini merupakan gelaran kedua yang diinisiasi oleh Sajak Pusat. Selain sastra, kami juga menghadirkan bazar buku murah sebagaiu upaya mengembalikan citra Senen sebagai sentra buku murah,” ujar Yon Bayu.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Pengelola Gelanggang Senen Jakarta Pusat, Mimi Karminingsih, dalam sambutannya yang penuh semangat mengenang kembali masa kejayaan kawasan Senen pada era 1950-an. Beliau bernostalgia bagaimana kawasan Senen dahulunya merupakan episentrum kebudayaan dan sastra yang sangat hidup. Berbagai nama besar sastrawan Nusantara, majalah-majalah sastra independen, hingga perdebatan intelektual kerap mewarnai hari-hari di kawasan jantung kota tersebut.
“Festival ini bukan sekadar sebuah perhelatan seremonial belaka di sini, tetapi festival ini juga menjadi ruang penting untuk mengingat, merawat, dan menjaga kreativitas yang pernah tumbuh dan berkembang di kawasan Senen. Mari kita jadikan Senen sebagai ruang tumbuh bagi para remaja untuk melahirkan sejarah kebudayaan baru,” ungkap Mimi Karminingsih di hadapan para peserta dan tamu undangan.
Lebih lanjut, Mimi juga berpesan kepada para generasi muda agar tidak merasa takut untuk menulis, berkarya, dan menemukan identitas kreatif mereka masing-masing. Di tengah era digital dan gempuran teknologi yang bergerak sangat cepat, generasi muda dinilai memiliki keunggulan dalam hal kecepatan beradaptasi. Oleh karena itu, ia mengajak para pelajar untuk melihat teknologi dari sudut pandang positif—sebagai instrumen yang memperluas cakrawala ekspresi—tanpa harus kehilangan akar kepribadian dan nilai-nilai luhur sastra itu sendiri.
Menjaga Kemandirian Sastra
Menyoroti dinamika kepenulisan modern, Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Martin Suryajaya, memberikan pandangan mendalam mengenai akar sejarah perkembangan sastra di Indonesia. Menurutnya, dalam catatan sejarah sastra tanah air, komunitas-komunitas kecil selalu memegang peranan yang sangat vital dan menentukan.
Banyak sekali perkembangan besar dalam dunia sastra Indonesia yang justru lahir bukan dari institusi-institusi besar atau lembaga formal, melainkan tumbuh dari gerakan akar rumput. Mulai dari sanggar seni independen, komunitas pembaca, kelompok diskusi informal, hingga majalah-majalah sastra yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat.
“Festival komunitas sastra ini memuat narasi penting tentang bagaimana kita bisa mempraktikkan kreativitas secara mandiri, terutama di tengah situasi ketika akal imitasi dan teknologi instan mengepung dari segala arah,” jelas Martin di hadapan para audiens.
Ia mengingatkan para peserta didik bahwa ukuran keberhasilan dari sebuah festival sastra bukanlah sekadar selesai atau tidaknya acara tersebut, melainkan sejauh mana para peserta kembali tergerak untuk rajin membaca karya-karya besar, menulis puisi, menyusun cerpen, hingga melahirkan buku dengan tangan, pikiran, dan hati mereka sendiri setelah festival selesai. Para siswa diajak untuk tidak terlalu merasa cemas menghadapi gelombang perubahan zaman, melainkan meresponsnya dengan terus tekun membaca dan berkarya sebaik mungkin.

Jakarta Kota Sastra
Dari sudut pandang kebijakan daerah, Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat, Andri Ferdian, menyampaikan apresiasi yang mendalam serta dukungannya terhadap penyelenggaraan festival ini. Terlebih lagi, momentum perhelatan ini beriringan dengan pengakuan internasional di mana Jakarta telah resmi ditetapkan sebagai Kota Sastra oleh UNESCO.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya melalui Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat, berkomitmen penuh untuk menyambut dan merayakan status internasional tersebut dengan cara-cara yang membumi. Salah satunya adalah dengan membuka ruang seluas-luasnya bagi seluruh komunitas seni, sastra, serta lintas sektor terkait—seperti bidang pendidikan, perpustakaan, kepemudaan, hingga olahraga—untuk berkolaborasi secara sinergis.
Meskipun di tengah tantangan efisiensi postur anggaran daerah yang cukup ketat, pihak pemerintah terus berupaya mencari formula terbaik agar kegiatan-kegiatan pembinaan kebudayaan dan ruang berekspresi bagi komunitas tetap dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor ini diyakini mampu menjadi katalisator untuk menghidupkan kembali ikon-ikon kebudayaan di Jakarta Pusat, menjadikan wilayah ini sebagai rumah yang ramah bagi para seniman, budayawan, dan masyarakat luas.
Menjelang penutupan rangkaian acara pembukaan, berbagai catatan reflektif mengemuka dari para narasumber dan panitia. Festival Komunitas 2026 dipandang sebagai sebuah jembatan penyeberangan yang menghubungkan antara lembaran sejarah masa lalu yang gemilang dengan dinamika kreatif masa kini dan masa depan.
Generasi muda diingatkan bahwa mereka tidak hadir untuk hidup di dalam bayang-bayang masa lalu, melainkan hadir untuk menyerap semangatnya, mempelajari kebijaksanaannya, dan kemudian melanjutkan proses kreatif tersebut sesuai dengan napas zaman yang sedang berjalan. Jika di masa lalu para sastrawan menuangkan gagasan melalui buletin fisik, majalah cetak, panggung pertunjukan, dan pertemuan tatap muka secara langsung, maka hari ini generasi muda memiliki lanskap ruang kreatif yang jauh lebih luas dan tanpa batas melalui pemanfaatan ekosistem digital.
Namun demikian, esensi dari sebuah karya sastra yang lahir dari ketulusan, kejujuran batin, dan kepekaan terhadap realitas kehidupan tidak akan pernah berubah. Karya-karya yang jujur akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk menyentuh hati pembaca lintas generasi.
Oleh karena itu, melalui ajang Festival Komunitas Sastra Senen 2026 ini, tersimpan sebuah harapan besar agar para penulis muda, penyair pemula, penggiat teater, komunitas rekreasi seni, dan seluruh elemen generasi kreatif dapat terus merajut dialog, memperkuat jejaring kolaborasi, serta melahirkan karya-karya monumental yang baru. Sastra tidak boleh hanya diposisikan sebagai barang museum yang sekadar menyimpan arsip sejarah di dalam lemari kaca, melainkan harus terus dihidupkan sebagai kekuatan aktif yang melahirkan sejarah kebudayaan baru di jantung ibu kota.

Setelah diskusi dan peluncuran buku Kumpulan cerpen Aku Pulang Saat Kamu Lupa Cara Mengingatku karya Yon Bayu Wahyono dengan pembahas Nanang R. Supriyatin dan Rissa Churria sementara moderator Endah Wijayanti, juri mengumumkan pemenang lomba. Juara 1, 2 dan 3 dari masing-masing lomba akan diikutkan dalam lomba serupa di tingkat provinsi dalam ajang Festival Sastra Jakarta 2026.
Daftar Pemenang Festival Komunitas Sastra 2026
Lomba Baca Puisi
Juara 1: Marsya Keyla Afebr (SMAN 30)
Juara 2: Rizki Putra Raya (SMAN 77)
Juara 3: Ulfa Jelita Sari (SMAN 5)
Lomba Cipta Puisi
Juara 1: Kenia Amalia Daulima (SMAN 77)
Juara 2: Bintang Maharani (SMAN 1)
Juara 3: Najwa Aqeela Bahanan (SMA Islam Said Na’um)
Lomba Cipta Cerpen
Juara 1: Nazwa Alisyah Putri (SMAN 77)
Juara 2: Najla Cetta Andini Firmansyah (SMAN 1 )
Juara 3: Syifa Aryani Safitri (SMA Islam Said Na’um)





