Peran Teater Anak dalam Pertumbuhan Kreatif

Oleh Nanang R Supriyatin

Teater anak di Indonesia tidak lahir kemarin sore. Akarnya menghunjam jauh ke tradisi

1. Akar Tradisi
Pada awalnya, teater anak adalah bagian dari teater tradisi; yakni wayang kulit, wayang orang, ketoprak, lenong, ubrug, dan randai. Anak-anak bukan hanya penonton. Mereka ikut main sebagai panakawan, dayang, atau penari. Fungsinya jelas mewariskan nilai, bukan sekadar menghibur. Pada masa kolonial, drama sekolah dipakai sebagai alat kebangkitan nasional. Naskahnya menyelipkan perlawanan. Setelah merdeka, fungsinya bergeser menjadi pemersatu bangsa dan pendidikan budi pekerti.

2. Era Modern: Pembaruan 1968
Tahun 1968 menjadi titik balik. Pembaruan teater Indonesia melahirkan dua tonggak penting.
Pertama, Teater Kecil oleh Arifin C. Noer. Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mencatatnya sebagai gerbong pembaruan teater Indonesia yang kuat pada tema rakyat kecil. Arifin juga dikenal sebagai tokoh yang fokus mengembangkan seni teater anak. Kedua, Teater Populer kemudian diikutiTeater Koma, dan Teater Mandiri. Kelompok-kelompok ini membuka ruang bagi aktor muda untuk belajar dan bereksperimen.

3. Era Kampus dan Sanggar Komunitas
Gerakan teater kemudian turun ke kampung dan kampus. Teater Kubur (1983) lahir di Gang Kober, Jatinegara. Awalnya hanya kegiatan anak-anak kampung sekitar kuburan. Tujuannya sederhana; yaitu menjauhkan mereka dari narkotika dan kriminalitas. Alatnya pun seadanya: improvisasi dan barang bekas.

Teater GABI ’91 lahir di kampus. Didirikan pada 21 Oktober 1991 sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dari wadah latihan mahasiswa, ia merambah menjadi komunitas teater regional hingga nasional.

4. Era Kontemporer: Kembali ke Cerita Rakyat
Pada 2013, lahir Teater Anak Nusantara atau TERAS di Jakarta. Pendirinya, Indra Wahyudi atau Onga, adalah guru SD yang resah karena murid-muridnya tidak lagi mengenal cerita rakyat. Bersama lima teman sesama pemain teater, ia mendirikan sanggar ini. Anggotanya beragam, dari SD hingga mahasiswa. Konsepnya menggabungkan cerita rakyat dengan gaya kekinian untuk menumbuhkan kepercayaan diri anak.

Seperti apa teater anak hari ini?
Ada tiga cirinya. Pertama, fungsi ganda: sebagai pendidikan karakter sekaligus komentar sosial. Anak belajar mengelola emosi, percaya diri, dan menghargai perbedaan. Kedua, bentuk hibrida: naskah karya siswa sendiri, dipadukan dengan multimedia, tradisi, dan gaya modern. Ketiga, isu yang diangkat makin luas: dari adaptasi cerita rakyat hingga kritik tentang korupsi, lingkungan, dan kesenjangan sosial.

Jose Rizal Manua, Penjaga Wajah Cikini
Nama ini tidak bisa dilewatkan. Jose lahir di Padang, 14 September 1954. Awalnya bukan seniman, melainkan pemain Persija Junior bersama Aun Harhara dan Dede Suleiman. Pada Juli 1972, ia diajak menonton teater Perhiasan Gelas di TIM. Sejak itu ia meninggalkan lapangan hijau dan menetap di emperan TIM.

Ia belajar di Bengkel Teater Rendra, Teater Mandiri Putu Wijaya, dan Fakultas Teater IKJ. Totalitas selama 46 tahun membuatnya menerima Anugerah Kebudayaan 2018 kategori Pelopor, Pencipta, dan Pembaru, meski ia sendiri mengaku tak punya sanggar, sulit mencari sponsor, dan hanya berlatih di emperan TIM.

Dua sanggar yang Jose Rizal Manua asuh
Teater Adinda (1975) bersama Yos Marutha Effendi. Menjadi juara I Festival Teater Anak se-Jakarta empat tahun berturut-turut hingga akhirnya dilarang ikut lagi.
Teater Tanah Air (14 September 1988) yang ia dirikan tepat pada hari ulang tahunnya, setelah empat tahun menjadi sutradara drama anak di TVRI (1982-1986). Ia sengaja mendirikannya sendiri agar bisa fokus pada anak.

Mengapa penting? Jose melawan arus yang membuat anak menjadi dewasa di panggung. Filosofinya tegas: “Kebanyakan kalau kita lihat pertunjukan itu, anak-anak itu menjadi dewasa di atas panggung ketika mereka menggarap. Jadi, anak-anak tidak mempresentasikan kreativitasnya sebagai anak.” Metodenya adalah bermain, bukan paksaan. Latihannya hanya di teras Graha Bhakti Budaya TIM. Saking sederhananya, peserta dari Jerman sampai tidak percaya dan datang langsung untuk melihat.

Prestasinya membawa TIM ke dunia
– Juara I Festival Teater Anak Dunia ke-9 di Lingen, Jerman, 14-22 Juli 2006.
– Spectacle HELP: A Visual Theatre Performance, karya Putu Wijaya, dengan 17 anak, pentas di Teater Besar TIM pada 16-17 Juli 2022 dan terpilih ke World Festival of Children’s Performing Art di Toyama, Jepang.
– Tontonan Haiku_ yang dipentaskan di Gedung Teater Jakarta TIM pada 29 Desember 2024, lalu terpilih mewakili Indonesia di World Festival ke-16 di Lingen, Jerman.

TIM sendiri adalah gagasan Bang Ali, diresmikan pada 10 November 1968 di atas lahan 8 hektare bekas Taman Raden Saleh. Rancangannya diketik Arifin C. Noer. Visi Bang Ali sederhana: pemerintah menyediakan sarana, seniman yang mengelola. Hingga kini, di dalam kawasan TIM masih tercatat adanya “Toko Buku Jose Rizal”, markas diskusi Jose dengan anak-anak.

Maka, ketika penyair menulis “Wajah Bang Ali disenyapkan waktu”, itulah yang terjadi pada Teater Anak di TIM. Jose Rizal Manua masih melatih anak-anak di teras yang sama sejak 1972, sementara di sekelilingnya tembok berjamur dan parfum disemprotkan di sangkar bernama Taman Ismail Marzuki.

Teater Anak yang dulu menjadi alat agar anak kampung Kober terhindar dari narkoba, kini bertahan karena satu orang yang menolak lupa.

Menteng, 19 Oktober 2026

Daftar Pustaka:
1. “Teater Penting bagi Kehidupan Kita”, Anugerah Kebudayaan, hlm. 80-84.
2. “Sejarah Taman Ismail Marzuki”, Media Syal, 13 Juli 2022.
3. “Pesona Penampilan 17 Anak di ‘Spectacle Help: A Visual Theatre Performance'”, tajria.com, 20 Juli 2022.
4. “Dalam Dunia Anak-Anak”, wawancara dengan Jose Rizal Manua, Pojok TIM, 7 Juni 2024.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait