Asa Lewat Pena, Upaya KSJT Buka Ruang Kreatif bagi Warga Binaan Pondok Bambu

PojokTIM – Komunitas Sastra Jakarta Timur (KSJT) berkolaborasi dengan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur menggelar pelatihan sastra dan seni bertajuk Asa Lewat Pena bagi warga binaan perempuan di Rutan Kelas I Pondok Bambu, Jakarta Timur. Kegiatan ini membuka ruang bagi peserta untuk mengembangkan kreativitas melalui puisi, cerita pendek, tari, teater, dan musik hadroh.

Program yang berlangsung dalam rentang 20 Oktober hingga 3 November 2026 tersebut mencakup 11 hari pelatihan yang dijadwalkan secara berkala. Selain mengasah keterampilan berkesenian, kegiatan ini diharapkan menjadi sarana bagi warga binaan untuk mengekspresikan pengalaman, membangun kepercayaan diri, dan menumbuhkan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Ketua KSJT, Ahmad Prabowo, menjelaskan, Asa Lewat Pena tidak hanya dirancang sebagai pelatihan keterampilan.

“Kegiatan ini juga sebagai ruang kreatif yang memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri,” ujarnya, Jumat (23/10/2026) di Rutan Pondok Bambu.

Gagasan kegiatan ini digagas oleh Ahmad Prabowo bersama Ihwal Benz Satriadji, Ketua KSJT sebelumnya, dan Dani OD. Salah satu luaran yang direncanakan ialah penerbitan antologi puisi dan cerita pendek karya warga binaan Rutan Pondok Bambu.

Ihwal Benz Satriadji mengatakan bahwa penerbitan antologi tersebut diharapkan dapat menjadi bukti bahwa keterbatasan ruang tidak menghilangkan kesempatan seseorang untuk berkarya.

“Kami berharap karya yang lahir dari pelatihan ini menjadi bukti bahwa warga binaan tetap memiliki semangat untuk berkarya dan menatap masa depan dengan penuh harapan. Nantinya, karya-karya mereka akan dihimpun dan diterbitkan menjadi antologi puisi dan cerita pendek karya warga binaan Rutan Pondok Bambu,” jelas Ihwal.

Libatkan Seniman dan Sastrawan

Untuk mendukung proses pembelajaran, KSJT menghadirkan sejumlah praktisi yang berkompeten di bidangnya. Pelatihan puisi dibimbing oleh Imam Ma’arif, sastrawan, penyair, dan penulis tingkat nasional. Sedangkan materi cerita pendek disampaikan oleh Kurnia Efendi, sastrawan dan cerpenis tingkat nasional.

Pelatihan seni lainnya melibatkan Dian Pelita sebagai instruktur tari, Budi Kecil sebagai instruktur teater, dan Rakha Syauki sebagai instruktur musik hadroh. Dokumentasi visual kegiatan ditangani Ikang F, dengan dukungan teknis dari Wawan.

Keterlibatan para praktisi tersebut diharapkan memperkaya pengalaman peserta dalam mengenal berbagai bentuk ekspresi seni. Melalui proses belajar dan pendampingan, warga binaan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sekaligus membangun keberanian dalam menyampaikan gagasan dan pengalaman melalui karya.

Kepala Rutan Kelas I Pondok Bambu, Nur Mustafidah, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kegiatan sastra dan seni sejalan dengan upaya penguatan pembinaan kepribadian dan kemandirian warga binaan.

Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan serta menjadi agenda rutin tahunan dengan dukungan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur dan para pemangku kepentingan lainnya.

Pembinaan melalui seni memberi kesempatan kepada warga binaan untuk mempelajari keterampilan baru, membangun kedisiplinan, serta mengembangkan kemampuan bekerja sama. Dalam konteks ini, sastra tidak hanya berfungsi sebagai sarana ekspresi, tetapi juga membuka ruang refleksi terhadap pengalaman hidup dan masa depan.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga disampaikan Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur, Berkah Shadaya. Dalam sambutan pembukaan Asa Lewat Pena, ia menekankan pentingnya pemajuan kebudayaan yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan.

Pada kesempatan tersebut, Berkah Shadaya menyerahkan seperangkat alat musik hadroh kepada pihak Rutan Kelas I Pondok Bambu. Bantuan itu diharapkan dapat menunjang kegiatan bermusik dan mendukung keberlanjutan aktivitas seni di lingkungan rutan.

Pelaksanaan program turut didukung jajaran pembinaan Rutan Kelas I Pondok Bambu, yakni Ibu Egi, Ibu Yesi, dan Ibu Sri, yang mendampingi proses kreatif para peserta.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam program Asa Lewat Pena ialah rencana penerbitan antologi puisi dan cerita pendek karya warga binaan. Buku tersebut diharapkan menjadi ruang dokumentasi sekaligus apresiasi terhadap karya yang lahir selama proses pembinaan.

Penerbitan antologi juga membuka kemungkinan bagi karya-karya tersebut untuk menjangkau pembaca di luar lingkungan rutan. Pengalaman, pemikiran, dan harapan yang dituangkan dalam tulisan dapat menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai kemanusiaan, kesempatan untuk berubah, dan pentingnya akses terhadap kegiatan kebudayaan.

Kolaborasi KSJT, Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur, dan Rutan Kelas I Pondok Bambu memperlihatkan bahwa kegiatan seni dapat menjangkau ruang-ruang yang tidak selalu menjadi pusat perhatian publik. Keberlanjutan program dan pendampingan yang konsisten diharapkan dapat memperkuat manfaat kegiatan bagi warga binaan.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait