PojokTIM – Sebuah karya sastra tidak pernah benar-benar selesai ketika buku ditutup. Ia dapat terus hidup melalui pembacaan baru, perdebatan, hingga ketika berpindah medium menjadi karya audio-visual. Gagasan inilah yang mengemuka dalam diskusi “Revolusi dan Kota”, yang mengupas novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis dan adaptasi filmnya, Perang Kota, garapan sutradara Mouly Surya.
Demikian mengemuka dalam diskusi bertajuk Bertemu di Cikini yang diselenggarakan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) berkolaborasi dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026.
Diskusi yang digelar di aula Akademi Jakarta, Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (27/9/2026) sore, menghadirkan Mouly Surya dan kritikus film Hikmat Darmawan, dipandu oleh Riri Satria sebagai moderator.
“Hak adaptasi sudah diperoleh sejak 2018, namun produksi baru berjalan beberapa tahun kemudian akibat pandemic,” ujar Mouly.
Mouly Surya membagikan proses panjang adaptasi tersebut. Pada draft awal, skenario dibuat sangat dekat dengan novel. Namun, seiring berjalannya waktu, Mouly menyadari bahwa novel dan film memiliki perangkat penceritaan yang berbeda. Film harus mampu berdiri sendiri bagi penonton yang belum membaca novelnya.
Pada draft keempat, Mouly memberanikan diri mengubah karakterisasi tokoh utama hingga 70 persen. Langkah ini diambil sebagai wujud kebebasan kreatif ketika karya sastra diterjemahkan ke dalam bahasa visual.
“Film The Shining karya Stanley Kubrick yang diangkat dari novel Stephen King menjadi bukti bahwa film adaptasi dapat memiliki identitas artistiknya sendiri,” terang Mouly.
Meskipun melakukan perombakan struktur, karakter, dan dialog, Mouly tetap membaca novelnya berulang kali. Kesetiaan baginya bukan memindahkan adegan secara harfiah, melainkan menjaga ingatan, suasana zaman, gaya bahasa, dan jiwa dari cerita tersebut.
Perubahan judul dari Jalan Tak Ada Ujung menjadi Perang Kota didasari oleh diskusi bersama sejarawan. Kisah ini bukan sekadar pergulatan individu, melainkan dinamika Jakarta di tengah situasi perang revolusi—saat Belanda bersama Inggris kembali masuk pascaproklamasi. Untuk menangkap nuansa ini, Mouly memasukkan detail sejarah seperti karakter “Matthew” dan “Matthias” (disebut MMM) yang merepresentasikan kehadiran dua kekuatan asing tersebut.
Dari kacamata pengamat, Hikmat Darmawan menyoroti perubahan demografis dan ruang kota Jakarta pada masa revolusi. Menurutnya, perkembangan kota saat itu dipengaruhi oleh arus migrasi dan pertumbuhan kampung kota
“Kawasan seperti Kebon Kacang dalam novel bukan sekadar latar tempat, melainkan bagian dari pengalaman sosial tokoh,” ujarnya.
Hikmat mengapresiasi latar belakang jurnalistik Mochtar Lubis yang kuat. Gagasan besar mengenai kemerdekaan, negara, dan ketakutan tidak dibiarkan mengambang secara abstrak, melainkan diturunkan menjadi pengalaman manusia sehari-hari di jalanan, kampung, dan rumah-rumah di Jakarta.
Terkait hubungan sastra dan ideologi, Hikmat menekankan bahwa setiap karya membawa posisi gagasan tertentu. Baik karya yang bersifat liris, eksperimental, maupun realis, tidak bisa dimutlakkan mana yang lebih unggul.
“Yang utama adalah kualitas gagasan, craft, disiplin penggarapan, serta pilihan artistik penciptanya,” urainya.
Oleh karena itu, posisi pembaca menjadi penting. Pembaca sebaiknya tidak sekadar hanyut menikmati cerita, tetapi juga memiliki kesadaran kritis untuk menyingkap lapisan gagasan di balik teks.

Usai diskusi peserta mengikuti kuliah umum oleh Zen Hae. Foto: PojokTIM
Perbedaan medium antara novel dan film juga tercermin dari perangkat sinematik. Film bekerja melalui montase, penyuntingan, komposisi gambar, warna, dan gerak ruang. Pergulatan batin tokoh Guru Isa—seperti ketakutan dan persoalan keintiman—harus diwujudkan melalui bahasa tubuh dan ekspresi visual. Mouly mengolah persoalan psikologis Guru Isa sebagai metafora bagi bangsa yang merdeka secara formal namun masih menghadapi ketidakberdayaan.
Selain itu, Mouly memberi perhatian khusus pada karakter Fatimah. Sebagai sutradara perempuan, ia merefleksikan kembali ruang bergerak Fatimah yang sebelumnya terbatas pada ranah domestik. Pembacaan ulang ini memberi lapisan baru pada relasi antar-karakter sesuai dengan perspektif zaman sekarang.
Baik novel maupun film pada akhirnya mempertemukan sejarah besar dengan pengalaman personal manusia: ketakutan, cinta, keraguan, dan pilihan moral di tengah Jakarta yang terus berubah.
Diskusi “Revolusi dan Kota” mempertegas bahwa Jalan Tak Ada Ujung bukan teks yang berhenti pada zamannya. Melalui Perang Kota, karya klasik ini menemukan kehidupan baru di tangan media sinema—membuktikan bahwa gagasan sastra akan terus bergerak, ditafsirkan, dan menemukan makna baru melintasi zaman.





