Labelisasi Sastra Berguna Jika Memiliki Dasar Pemikiran yang Jelas

Nanang R Supriyatin, Dedy Tri Riyadi, dan Riri Satria: Foto: Ist

PojokTIM – Perdebatan tentang label dalam dunia sastra bukan hal baru. Dari masa ke masa, istilah-istilah baru terus bermunculan: ada yang lahir dari pergulatan pemikiran, ada pula yang sekadar menjadi jargon yang cepat memudar. Namun sejarah menunjukkan, setiap label yang bertahan biasanya memiliki landasan gagasan yang kuat di belakangnya.

Penyair Nanang R. Supriyatin mengingatkan bahwa polemik tentang penamaan atau penggolongan dalam sastra sudah berulang kali terjadi di Indonesia.

Ia mencontohkan perdebatan mengenai Sastra Kontekstual yang sempat ramai pada masanya dan kemudian dihimpun dalam sebuah buku dengan editor Ariel Heryanto.

“Perdebatan seperti itu bukan hal baru. Dulu juga ada polemik Sastrawan Naga versus Sastrawan Cacing yang sempat hangat di media massa pada tahun 1980-an,” ujar Nanang menanggapi diskusi tentang label sastra di grup WhatsApp Lingkar PojokTIM, Sabtu (7/3/2026).

Menurutnya, sejarah polemik tersebut menunjukkan bahwa dunia sastra selalu bergerak melalui perdebatan gagasan. Label muncul, dipertanyakan, diuji, lalu sebagian menghilang sementara sebagian lain bertahan.

Penyair Dedy Tri Riyadi menilai bahwa penggolongan atau klasifikasi dalam sastra sebenarnya sah saja dilakukan. Namun ia mengingatkan bahwa setiap label seharusnya memiliki dasar pemikiran yang jelas dan argumentasi yang kuat.

“Kalau disebut sebagai sebuah aliran atau golongan baru, harus jelas dulu dasar pemikirannya. Misalnya ketika orang menyebut sastra wangi, harus ada penjelasan mengapa disebut begitu, apa ciri-cirinya, dan apa yang membuatnya berbeda secara mendasar,” kata Dedy.

Menurutnya, sebuah label sastra seharusnya lahir dari perbedaan yang benar-benar substantif, bukan sekadar variasi kecil yang masih bisa dimodifikasi.

“Harus ada ciri khas yang sangat kuat sehingga membuatnya benar-benar berbeda. Jika dasar ini tidak kuat, dan masih bisa dimodifikasi, seharusnya tidak perlu diusulkan sebagai golongan baru. Kalau dipaksakan, polemiknya bisa menjadi percuma,” ujarnya.

Tidak Bisa Dihindari

Pandangan yang berbeda disampaikan Ketua Jagat Sastra Milenia Riri Satria. Menurutnya, labelisasi dalam dunia sastra justru merupakan sesuatu yang hampir tidak bisa dihindari.

Banyak orang, kata Riri, sering menganggap label hanya sekadar penamaan. Seolah-olah ia hanya tempelan yang tidak terlalu penting. Padahal, dalam banyak kasus, label sebenarnya mencerminkan identitas intelektual yang jauh lebih dalam.

“Label sering kali bukan sekadar nama. Di belakang sebuah label biasanya ada value system atau sistem nilai yang berbeda. Ia memengaruhi cara berpikir, cara membaca, bahkan cara memaknai karya sastra itu sendiri,” jelasnya.

Baca jugahttps://pojoktim.com/sastra-dan-pertarungan-label-wangi-kelamin-atau-nilai/

Untuk menggambarkan hal tersebut, Riri mengambil contoh dari dunia ekonomi. Pada dasarnya, semua sistem ekonomi memiliki tujuan yang sama: menciptakan kesejahteraan bagi manusia. Namun dalam praktiknya, muncul berbagai label yang menunjukkan perbedaan pendekatan.

“Kita mengenal ekonomi kapitalis dan ekonomi sosialis. Keduanya sama-sama berbicara tentang kesejahteraan, tetapi jalan yang ditempuh berbeda. Dasar filsafatnya berbeda, sistem nilainya juga berbeda,” ujarnya.

Perbedaan itu bahkan sering melahirkan kritik yang tajam antar-aliran. Penganut kapitalisme, misalnya, dapat menilai sosialisme sebagai sistem yang tidak bermoral. Sebaliknya, penganut sosialisme juga kerap menilai kapitalisme sebagai sistem yang tidak adil atau tidak bermoral.

Namun menurut Riri, di balik perdebatan tersebut terdapat satu hal penting: masing-masing aliran memiliki kerangka pemikiran yang serius.

“Mereka punya landasan filsafat, punya kerangka ilmu, bahkan riset yang mendalam. Jadi perbedaannya bukan sekadar istilah, tetapi juga cara memandang manusia, masyarakat, dan kesejahteraan,” katanya.

Perkembangan itu pun tidak berhenti di sana. Dalam dunia ekonomi modern, muncul pula ekonomi syariah yang membawa sistem nilai dan prinsip etika yang berbeda lagi. Dalam praktiknya, sistem perbankan syariah tidak sepenuhnya bisa disatukan dengan sistem perbankan konvensional karena memiliki prinsip dasar yang berbeda, terutama terkait konsep riba, keadilan transaksi, dan pembagian risiko.

“Belum lagi kalau kita tambahkan label kita sendiri, yaitu ekonomi Pancasila, yang bentuk konkretnya pun sampai sekarang masih sering kita pertanyakan,” kata Komisaris Utama sebuah BUMN tersebut.

Sistem Nilai

Hal yang serupa, menurut Riri, sebenarnya juga terjadi dalam dunia sastra. Berbagai label atau aliran sastra sering muncul. Sebagian disambut dengan antusias, sebagian lain memicu perdebatan panjang. Namun, menurutnya, keberadaan label-label itu tidak perlu selalu ditakuti.

“Bagi saya, biarlah label-label itu ada. Ia bagian dari identitas intelektual dan kultural. Ia menandai perbedaan cara pandang, perbedaan nilai, bahkan perbedaan cara memahami manusia dan kehidupan,” tegasnya.

Ia kemudian menceritakan pengalamannya saat menghadiri Ubud Writers and Readers Festival di Ubud, Bali, beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan itu, ia sempat berbincang dengan beberapa sastrawan dari Brunei dan Malaysia.

Dalam percakapan tersebut, mereka mengaku cukup terkejut ketika mengetahui bahwa para sastrawan di Indonesia relatif bebas mengkritik pemerintah atau bahkan istana melalui karya sastra.

Di Indonesia, kritik semacam itu bukan hal yang luar biasa. Puisi, cerpen, novel, maupun esai sering menjadi medium untuk menyuarakan kegelisahan sosial dan politik. Namun situasi itu berbeda dengan yang mereka alami di negara masing-masing.

“Bagi mereka, hal seperti itu hampir tidak ditemukan. Di Brunei maupun Malaysia, kritik terhadap raja atau istana melalui karya sastra sering dianggap tidak pantas, bahkan terasa tabu,” kata Riri.

Dari pengalaman itu, Riri melihat bahwa perbedaan tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan sistem nilai yang melatarbelakangi kehidupan kultural masing-masing masyarakat.

“Di titik itulah kita mulai menyadari bahwa ada value system yang berbeda. Cara memandang kekuasaan berbeda. Cara memandang posisi sastra dalam masyarakat juga berbeda,” ujarnya.

Padahal, secara lahiriah, para penulis di berbagai negara itu melakukan hal yang sama: menulis sastra dan mencintai sastra. Namun nilai yang melatarbelakangi karya-karya mereka tidak selalu sama.

Dan dari situlah, menurut Riri, label dalam dunia sastra sering lahir—sebagai penanda perbedaan cara pandang yang lebih dalam daripada sekadar nama.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait