Melanie Budianta saat membedah buku Mikropon yang Murka. Foto: Juli Sofyan
PojokTIM – Jika teori psikoanalisis konvensional memandang sastra sebagai letupan ketidaksadaran yang menyeruak ke permukaan, kumpulan puisi Mikropon yang Murka karya Djadjat Sudradjat justru lahir dari kesadaran penuh. Ia merupakan sublimasi dari akumulasi kekecewaan dan represi emosional yang dialami penulis saat menjalankan peran publiknya. Melalui majas, metafora, dan simbol, rasa getir tersebut dialihkan menjadi karya kreatif yang menawarkan kelegaan estetis.
Demikian disampaikan kritikus sastra terkemuka Prof Melanie Budianta saat membedah buku antologi puisi Mikropon yang Murka di PDS H.B. Jassin, Kamis (21/5/2026). Acara yang digelar Asosiasi Tradisi Lisan dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia (Penerbit Obor) itu dihadiri sejumlah sastrawan, jurnalis, politisi, hingga anggota DPD RI. Hal tersebut menggambarkan luasnya pergaulan Djadjat Sudradjat sebagai mantan jurnalis sekaligus mantan politisi.
Dalam diskusi yang dipandu Sunu Wasono, Melanie juga menyoroti bagaimana karya Djadjat berfungsi sebagai ruang katarsis estetis yang menjembatani pergulatan batin penulis di tengah karut-marut dunia politik praktis Indonesia. Puisi-puisi dalam buku ini dinilai bukan sekadar luapan bawah sadar yang tak terencana, melainkan refleksi, kekecewaan, dan kegelisahan mendalam yang sengaja diredam dalam aktivitas jurnalistik dan politik sehari-hari penulis.
Menurutnya, menulis puisi menjadi medium pelepasan emosi bagi Djadjat Sudradjat.
“Personifikasi mikrofon adalah satire yang dituturkan dengan getir. Katarsis estetis dari dinginnya panggung politik. Jadi tidak sekadar marah, namun diolah secara sastrawi,” tutur Ibu Mel, sapaan akrabnya.
Melanie memetakan muatan buku ini ke dalam tiga kluster utama yang merepresentasikan perjalanan batin penulis. Suara Satu, menurut Melanie, mengeksplorasi dunia sastra murni, perjalanan spiritual, kesadaran akan kematian, serta refleksi semesta. Di sini, Djadjat memanfaatkan personifikasi alam dan metonimi secara kuat untuk menghidupkan objek-objek mati, seperti dalam puisi “Dialog Buku” dan “Persalinan Sebuah Sajak”. Meskipun kental dengan nuansa batiniah, kritik sosial berupa satire terhadap relasi manusia dengan Tuhan yang kerap diperebutkan sudah mulai menyusup dalam sajak “Berebut Tuhan”.
Sementara itu, Suara Dua mempertegas posisi penulis sebagai seorang jurnalis yang menggunakan puisi untuk merefleksikan peran media massa, peristiwa sosial, dan interaksinya dengan tokoh-tokoh publik lintas zaman seperti Kartini, AA Navis, Tan Malaka, dan Mohammad Hatta. Kegelisahan terhadap objektivitas pemberitaan dan benturan ideologi tercermin kuat dalam karya seperti “Membunuh Gambar di Televisi” serta “Kanan dan Kiri”, yang dibawakan dengan nada kritis dan penuh pembelaan terhadap kaum tertindas.
“Suara Tiga adalah puncak pergulatan politik yang tertuang pada bagian ini. Benda-benda simbolis dunia politik dan pemilu, mulai dari mikrofon, baliho kampanye, palu sidang, hingga kursi kekuasaan, diberi nyawa untuk berbicara. Djadjat menyoroti dikotomi tajam antara citra publik yang tampak di permukaan, seperti foto calon legislatif, dengan realitas modal politik yang koruptif di belakang layar. Suara rakyat yang seharusnya menjadi esensi demokrasi sering kali direduksi secara tragis hanya menjadi sekadar angka elektoral,” tutur Melanie, yang sempat meminta Yahya Andi Saputra membacakan salah satu puisi.
Melanie menutup ulasannya dengan memuji karakter estetika Djadjat. Puisi-puisinya dinilai jernih, lugas, dan bebas dari ornamen sastra yang sengaja dipersulit. Tanpa terjebak menjadi slogan politik yang bombastis, puisi-puisi ini berhasil menjalankan mandat tertingginya: melantangkan suara hati dari saksi sejarah yang menolak untuk diam.
Dalam penjelasan yang disampaikan setelah paparan Melanie, Djadjat mengaku proses penciptaan puisi yang kemudian dibukukan itu sangat panjang.
“Prosesnya tujuh tahun, namun kegelisahannya telah mengendap berpuluh tahun. Untuk menulis satu diksi atau satu bait, saya membutuhkan persentuhan dengan kondisi tertentu. Bahkan saya sampai pulang ke Purwokerto sekadar untuk mendapatkan suasananya,” kata Djadjat.
Sebagai wartawan, Djadjat mengetahui banyak hal, namun tidak semuanya bisa ditulis menjadi berita. Demikian pula saat menjadi politikus, ada batasan kebebasan. Sering kali ide dan gagasannya terganjal oleh pimpinan partai di Jakarta.
“Saya memilih sastra karena paling pas saat ini sebagai media untuk menyalurkan kegelisahan saya. Dengan lahirnya buku ini, sekarang saya merasa lega,” tegas Djadjat.

Djadjat Sudradjat menyerahkan buku kepada Ariyani Isnamurti dari ATL disaksikan Direktur Penerbit Obor Kartini.
Sebelumnya, Ariyani Isnamurti yang mewakili Asosiasi Tradisi Lisan mengucapkan selamat atas kembalinya Djadjat ke dunia sastra.“Semoga semakin produktif,” harapnya.
Hal senada disampaikan Direktur Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Kartini. Menurutnya, saat ini Penerbit Obor telah menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga seperti BRIN dan LIPI.
“Kami senang buku puisi pertama Kang Djadjat diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor,” kata Kartini.





