PojokTIM — Tidak ada pernikahan tanpa tantangan, tetapi setiap keluarga berhak hidup tanpa kekerasan. Kalimat itulah yang menjadi benang merah dalam bincang buku Arung Jeram Pernikahan karya Anna Ruswan Latuconsina, anggota DPD RI asal Maluku, yang digelar di Lobi Gedung DPD RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Wanita Penulis Indonesia (WPI) bekerja sama dengan Yayasan Jantung Hati ini menghadirkan sastra sebagai ruang dialog untuk membicarakan persoalan keluarga, relasi suami-istri, serta pentingnya menghapus stigma dan normalisasi kekerasan terhadap perempuan. Mengusung tema Suara Perempuan, Suara Perubahan: Hapus Stigma dan Normalisasi Kekerasan terhadap Perempuan, acara dihadiri tokoh masyarakat, akademisi, aktivis, organisasi pemerhati perempuan dan anak, komunitas literasi Jabodetabek, Pengurus Pusat Al-Hidayah, ibu-ibu majelis taklim, hingga berbagai undangan dari beragam kalangan.
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Komisioner Bawaslu RI Lolly Suhenty, Komisioner KPU RI Betty Epsilon Idrus, Ketua Umum Wanita Penulis Indonesia Free Hearty, Kaukus Perempuan Parlemen RI, para anggota DPD RI,, serta unsur Sekretariat Jenderal MPR/DPR RI dan Dharma Wanita Setjen DPD RI.
Dalam sambutannya, Anna Ruswan Latuconsina menjelaskan, Arung Jeram Pernikahan lahir dari pengalaman, pengamatan, sekaligus kepeduliannya terhadap pentingnya membangun keluarga yang kokoh melalui komunikasi, saling menghormati, dan komitmen menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Pernikahan adalah perjalanan panjang yang hanya dapat dilalui apabila kedua pihak saling menguatkan, bukan saling melukai,” ujar Anna.
Sementara Free Hearty memberikan apresiasi atas keberanian Anna mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan melalui sebuah karya yang menghadirkan suara-suara perempuan yang selama ini terbungkam. Menurutnya, literasi tidak hanya berfungsi sebagai medium ekspresi, tetapi juga menjadi sarana advokasi yang mampu menyentuh nurani masyarakat dan membangun kesadaran sosial.
Di tempat yang sama Ratu Hemas menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak merupakan tanggung jawab bersama.
“Sangat penting untuk membangun keluarga yang sehat sebagai fondasi masyarakat yang beradab,: ujar Ratu Hemas seraya memberikan apresiasi kepada Anna Ruswan Latuconsina atas konsistensinya selama empat periode sebagai anggota DPD RI dalam menyuarakan isu perlindungan perempuan dan anak di Maluku.
Sesi bincang buku dipandu wartawan sekaligus penulis senior Rita Sri Hastuti Narasumber yang hadir adalah Haryatie Abdurrahman, akademisi dan peneliti dari Selangor University, Malaysia, serta Maria Josephine Kumaat Mantik, akademisi Universitas Indonesia yang menekuni kajian gender dan sastra.
Ketiganya mengulas buku tersebut dari berbagai perspektif, mulai dari keluarga, psikologi, sosial, hingga nilai-nilai kemanusiaan. Mereka menilai Arung Jeram Pernikahan tidak hanya berbicara mengenai relasi suami-istri, tetapi juga menghadirkan refleksi tentang kesabaran, keteguhan, dan kemampuan pasangan menghadapi berbagai “jeram” kehidupan secara bersama.
Diskusi berlangsung dinamis ketika peserta diberi kesempatan mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman. Berbagai pandangan mengemuka mengenai pentingnya pendidikan keluarga, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, hingga membangun relasi yang setara antara suami dan istri sebagai fondasi keluarga yang sehat.

Menutup sesi diskusi, Anna kembali mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak lagi memandang kekerasan sebagai persoalan privat semata, melainkan persoalan kemanusiaan yang harus dicegah bersama. Ia berharap Arung Jeram Pernikahan dapat menjadi inspirasi bagi pasangan, keluarga muda, maupun masyarakat luas dalam memaknai pernikahan sebagai proses yang membutuhkan cinta, pengertian, dan kerja sama.
Acara dimerihakan dengan pembacaan puisi oleh penyair Nuyang Jaimee, yang juga bertugas sebagai pembawa acara. Nuyang membacakan puisi berjudul Suara Perempuan. Pembacaan puisi tersebut menjadi jembatan emosional yang memperkuat pesan bahwa sastra tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga menjadi suara bagi perempuan dan anak-anak yang selama ini dibungkam oleh kekerasan.
Acara ditutup dengan penyerahan plakat kepada para narasumber, pemberian hadiah kepada peserta yang aktif dalam sesi tanya jawab, penandatanganan buku, foto bersama, serta ramah tamah yang diiringi musik.
Melalui perpaduan antara peluncuran buku, diskusi, dan pembacaan puisi, bincang buku Arung Jeram Pernikahan menunjukkan bahwa sastra dapat berfungsi lebih dari sekadar karya estetis. Ia menjadi ruang perjumpaan, refleksi, sekaligus medium untuk menumbuhkan kesadaran bahwa keluarga yang harmonis hanya dapat dibangun di atas penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, dan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan. (NJ)




