Luncurkan 6 Buku, Isti Nugroho Teguhkan Sastra Perlawanan

PojokTIM – Tokoh pergerakan dan aktivis sastra Isti Nugroho meluncurkan enam buku sekaligus dalam sebuah perhelatan sastra di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Kamis (30/6/2026). Enam buku tersebut meliputi antologi puisi Anjing-Anjing Sjahrir, novel Rembulan Terbakar, novel Melampaui Senyap, novel Perempuan Merah, antologi cerpen Negara Merobek Selimut Ibuku, serta kumpulan esai Refleksi Aktivis Dalam Secangkir Kopi.

Sebelum peluncuran buku, digelar diskusi sastra yang menghadirkan sejumlah pembicara dengan moderator Sihar Ramses Simatupang. Diskusi tersebut membahas perjalanan intelektual Isti Nugroho, karya-karyanya, serta posisi sastra yang dibangunnya dalam lanskap kebudayaan Indonesia.

Menurut Indra Tranggono, sastra perlawanan yang dibangun Isti Nugroho tidak lahir semata-mata dari teori atau wacana, melainkan dari pengalaman hidup yang panjang. Menurutnya, pengalaman penderitaan, represi politik, penahanan, dan stigma pada masa Orde Baru menjadi bagian penting yang membentuk watak kepenulisan Isti.

Namun, pengalaman pahit tersebut tidak membuat Isti terjebak dalam dendam. Sebaliknya, pengalaman itu diolah melalui proses membaca, berpikir, dan menulis hingga menjadi kekuatan intelektual yang melahirkan karya sastra. Sebagai seorang Jawa, kata Indra, Isti memiliki kemampuan batin untuk mengolah penderitaan menjadi refleksi, bukan sekadar kemarahan.

“Isti mengubah penderitaan menjadi daya tahan psikologis dan kekuatan pemikiran. Di situlah letak pentingnya karya-karyanya,” ujar Indra.

Ia menambahkan, pemikiran Isti memiliki kecenderungan sosial-demokrasi yang menempatkan nilai kemanusiaan, demokrasi, kesejahteraan, dan martabat manusia sebagai dasar. Karena itu, karya-karyanya tidak dimaksudkan sebagai propaganda ideologi tertentu, melainkan sebagai kritik terhadap ketidakadilan sosial, ketimpangan, serta berbagai bentuk represi kekuasaan.

Indra menambahkan, pengalaman sejarah 1965, penindasan terhadap kelompok kiri, serta kisah para korban kekerasan politik menjadi bagian dari pergulatan intelektual Isti. Untuk memahami persoalan tersebut, Isti tidak hanya bertumpu pada pengalaman pribadi, tetapi juga memperkaya diri melalui bacaan, diskusi, dan kajian sejarah.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Isti Nugroho dinilai menjadi salah satu representasi penting tradisi sastra perlawanan di Indonesia. Tidak banyak aktivis yang mampu mengolah pengalaman politik menjadi karya sastra yang memiliki kekuatan estetik sekaligus kedalaman pemikiran. Sebaliknya, tidak banyak sastrawan yang mengalami langsung represi politik dan menjadikannya sebagai fondasi penciptaan.

“Isti adalah aktivis yang menulis sekaligus penulis yang membawa kesadaran aktivisme dalam karya-karyanya,” kata Indra.

Ia melihat sastra Isti bukan hanya sebagai karya estetik, tetapi juga sebagai arsip perlawanan dan kesaksian sejarah. Melalui karya-karyanya, Isti merekam pengalaman yang sering tidak tercatat dalam sejarah resmi, memberi ruang bagi suara-suara yang dibungkam, serta mengajak pembaca melihat kembali peristiwa sejarah dari perspektif kemanusiaan.

Pembicara lain, Wilson Obrigados, secara khusus membahas antologi puisi Anjing-Anjing Sjahrir. Menurutnya, puisi tersebut bukan sekadar luapan emosi atau kekecewaan pribadi Isti Nugroho, melainkan kritik terhadap krisis sosial-demokrasi di Indonesia.

Ia menjelaskan, metafora “anjing-anjing” dalam puisi tersebut merujuk pada orang-orang yang dianggap mewarisi pemikiran Sutan Sjahrir, tetapi kemudian meninggalkan cita-cita sosial-demokrasi ketika berhadapan dengan kekuasaan dan perubahan politik.

Wilson mengaitkan puisi itu dengan pengalaman runtuhnya komunitas sosial-demokrasi di Gang Turi 49. Menurutnya, melemahnya ruang tersebut menjadi simbol kemunduran tradisi sosial-demokrasi di Indonesia. Ia juga melihat perubahan sikap sejumlah aktivis yang kemudian mengambil posisi politik berbeda sebagai tanda semakin melemahnya idealisme sosial-demokrasi.

Bagi Wilson, kegelisahan yang dituangkan Isti dalam Anjing-Anjing Sjahrir juga merupakan kegelisahan generasi yang pernah memperjuangkan gagasan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan dalam puisi tentang korupsi, penyimpangan konstitusi, ketidakadilan ekonomi, dan hilangnya keberpihakan kepada rakyat menjadi gugatan moral terhadap mereka yang mengaku mewarisi nilai-nilai Sjahrir.

Lukas Luwarso yang menjadi pembicara pertama, melihat Isti Nugroho sebagai bagian dari generasi transisi, yakni generasi yang mengalami perpindahan besar dari dunia analog menuju dunia digital. Generasi ini tumbuh pada era 1980-an dan memasuki kedewasaan pada 1990-an, ketika proses pembentukan intelektual masih berlangsung melalui diskusi tatap muka, kelompok studi, organisasi, serta kebiasaan membaca buku.

Menurut Lukas, pengalaman generasi transisi membuat mereka mengalami perubahan besar dalam cara manusia memperoleh pengetahuan. Jika pada masa lalu pendidikan formal dan ijazah menjadi ukuran intelektualitas, kini akses pengetahuan terbuka melalui internet dan teknologi digital.

Dalam konteks itu, Isti dipandang sebagai sosok yang melampaui zamannya. Meski tidak menempuh pendidikan tinggi secara formal, ia membangun kapasitas intelektual melalui kelompok studi, kebiasaan membaca, kuliah informal, dan diskusi yang intens. Lukas bahkan menyebut Isti seperti “manusia yang dilempar dari masa depan ke tahun 1980-an” karena pola belajarnya sesuai dengan karakter era digital: mandiri dan tidak bergantung pada institusi formal.

Generasi tersebut, lanjut Lukas, dibentuk oleh tradisi intelektual yang kuat pada 1980-an. Pemikiran Roland Barthes, Jürgen Habermas, serta berbagai perdebatan postmodernisme menjadi bagian dari bacaan yang membentuk cara berpikir mereka.

Dalam diskusi tersebut, Ewith Bahar membedah cerpen Negara Merobek Selimut Ibuku. Ia menyoroti dimensi psikologis dalam karya tersebut, terutama bagaimana tema aktivisme dipadukan dengan pergulatan emosional tokoh.

Sementara Mila Muzakkar membahas novel Perempuan Merah. Menurutnya, kekuatan novel tersebut terletak pada penempatan tokoh perempuan sebagai pusat cerita. “Biasanya dalam karya fiksi yang ditulis laki-laki, tokoh perempuan hanya menjadi tempelan. Tetapi dalam Perempuan Merah, perempuan benar-benar menjadi sentral dan subjek cerita,” ujarnya.

Acara peluncuran buku tersebut dihadiri sejumlah seniman, penulis, dan aktivis pergerakan. Selain diskusi, kegiatan juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi yang menegaskan kembali posisi Isti Nugroho sebagai sosok yang menjadikan sastra bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga medium perlawanan dan refleksi sejarah.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait