Manggung di TIM, DKKT Tegaskan Tegal Kota Pecinta Sastra

Ketua DKKT Andi Kustomo saat memaparkan materi diskusi. Foto: PojokTIM

PojokTIM – Sastra telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Tegal. Menurutnya, membaca puisi di ruang publik bukan lagi sesuatu yang dianggap asing atau elitis. Di Tegal, orang yang membacakan puisi di jalanan atau di ruang terbuka justru diterima sebagai bagian dari aktivitas kebudayaan yang wajar. Tradisi itu tumbuh karena selama bertahun-tahun berbagai komunitas sastra terus bergerak dan menciptakan ruang perjumpaan bagi masyarakat.

Demikian dikatakan Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal (DKKT) Suriali Andi Kustomo dalam diskusi bertema Desir Sastra Pesisir dari Tegal di Ruang Sastra PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Jakarta Pusat. Acara hasil kerjasama DKKT dan Penerbit Sebermula, dibuka dengan pembacaan puisi oleh Ida Fitri yang juga bertindak sebagai pemandu acara dan dihadiri Ketua DPRD Kota Tegal Kusnendro, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal Dewi Umaroh, sejumlah seniman dari Tegal, Bekasi, Jakarta, Bogor dan daerah lain.

Andi Kustomo menjelaskan, Tegal memiliki ekosistem sastra yang cukup beragam. Ada komunitas yang menjadi tempat berkumpul para penyair dan penulis lintas generasi, ruang yang mengkaji naskah-naskah Jawa dan khazanah keislaman, taman baca yang membuka akses buku bagi masyarakat secara bebas, hingga kampung seni yang rutin menyelenggarakan pertunjukan sastra dan seni. Di ruang-ruang tersebut, anak-anak sekolah, mahasiswa, kaum muda, hingga para senior yang telah lama berkecimpung di dunia sastra dapat bertemu, berdiskusi, membaca karya, dan saling belajar.

“Keberagaman komunitas itu membuat regenerasi sastra di Tegal berlangsung secara alami,” ujarnya.

Andi menambahkan, Dewan Kesenian Kota Tegal tidak hanya mendorong lahirnya karya-karya baru, tetapi juga berupaya membangun budaya apresiasi. Baginya, sebuah ekosistem sastra tidak akan tumbuh sehat jika hanya melahirkan penulis tanpa pembaca dan penikmat karya. Karena itu, berbagai kegiatan sastra di Tegal selalu diarahkan agar mampu melibatkan masyarakat luas, sehingga sastra menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar konsumsi kalangan tertentu.

Atas dasar itulah, Dewan Kesenian Kota Tegal mengusung gagasan menjadikan Tegal sebagai Kota Pecinta Sastra. Andi mengakui Tegal tidak memiliki sejarah kesusastraan sebesar Jakarta atau Yogyakarta yang melahirkan banyak sastrawan nasional. Namun, menurutnya, Tegal memiliki kekuatan yang berbeda, yakni besarnya antusiasme masyarakat dalam mengapresiasi sastra.

“Kami tidak mengklaim sebagai kota sastra, tetapi ingin dikenal sebagai Kota Pecinta Sastra,” tegasnya. Ia bahkan meyakini setiap penyair atau sastrawan yang datang ke Tegal akan disambut oleh banyak penikmat sastra, sebuah modal budaya yang terus dijaga dan dikembangkan sebagai identitas kota.

Pandangan tersebut diperkuat oleh panelis lain, Kurniawan Djunaedhie yang juga pendiri komunitas Dari Negeri Poci. Ia mengenang pengalamannya pada 1975 saat masih berstatus pelajar SMA di Purwokerto dan datang ke Tegal untuk menemui penyair Piek Ardijanto. Di Tegal, ia diajak membaca puisi di SMA Negeri 1 Tegal dan merasakan antusiasme besar para siswa terhadap sastra.

“Itulah pertama kali saya baca puisi di depan umum. Pengalaman yang sangat membakas sampai hari ini,” ujar founder penerbit Kosa Kata Kita (KKK), .

Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa Tegal memiliki tradisi sastra yang kuat. Dari catatan Kurniawan, Tegal telah melahirkan banyak sastrawan penting, seperti Piek Ardijanto dan S.N. Ratmana, serta sejumlah penyair dan seniman dari berbagai disiplin. Ia menilai kekuatan budaya Tegal tidak hanya terletak pada para sastrawannya, tetapi juga pada ekosistem seni yang hidup, melibatkan wartawan, pelukis, musikus, pemain monolog, dan berbagai ruang kebudayaan yang terus berkembang.

Visualsiasi pembacaan cerpen. Foto: PojokTIM

Egaliter dan Beragaman

Kurnia Effendi yang tampil sebagai panelis kedua, menjelaskan sastra pesisir Tegal memiliki karakter yang egaliter, terbuka, dan lahir dari pergaulan masyarakat pesisir yang akrab dengan keberagaman. Sastra Tegal cenderung lugas, bebas, kadang mengabaikan pakem unggah-ungguh, serta lebih menonjolkan semangat komunal daripada individual.

Sastrawan yang juga pendiri Sebermula itu menambahkan, kekuatan sastra Tegal terletak pada kekayaan lokal yang mampu menjadi daya tarik jika terus diperbarui, baik dari sisi tema maupun bentuk. Pengembangannya memerlukan dukungan komunitas kreatif, pemerintah daerah, media, seminar, dan berbagai kegiatan literasi agar semakin dikenal luas.

“Tradisi merantau masyarakat Tegal menjadi modal penting dalam memperluas pengaruh sastra pesisir. Para perantau dapat menjadi duta budaya yang memperkenalkan kesenian Tegal ke berbagai daerah. Kolaborasi dengan kalangan mahasiswa dan komunitas lintas daerah juga perlu diperkuat melalui kompetisi dan kegiatan kebudayaan berbasis kearifan local,” saran Kef, panggilan akrabnya.

Di sisi lain, Kef yang berasal dari Tegal namun telah lama tinggal di Jakarta, mengingatkan pentingnya menjaga kebanggaan terhadap bahasa daerah tanpa merasa rendah diri terhadap dialek ngapak. Bersamaan dengan itu, karya-karya yang mengangkat kearifan lokal perlu semakin banyak ditulis dalam bahasa Indonesia dan dikembangkan ke berbagai medium seperti teater, musik, film, sastra grafis, dan multimedia agar menjangkau publik yang lebih luas.

“Satu-satunya yang masih menajdi kegelisahan saya adalah fakta bahwa pengguna Bahasa Ngapak masih merasa inferior ketika berhadapan dengan penutur bahasa Jawa lainnya. Benarkah Ngapak hanyalah dialek dari Bahasa Jawa, ataukah bahasa yang berdiri sendiri, perlu dilakukan riset yang mendalam,” ujar Kef.

Sebagai penutup, Kef menekankan bahwa pengarsipan merupakan pekerjaan yang tidak boleh diabaikan. Dokumentasi manuskrip, puisi, penelitian, dan karya sastra Tegal harus diperkuat sebagai upaya menjaga warisan budaya, sehingga legasi sastra pesisir tetap terpelihara untuk generasi mendatang.

Selain pembacaan puisi oleh para penyair Tegal, acara juga dimeriahkan dengan visualisasi pembacaan cerpen dengan memanfaatkan teknologi multimedia yang cukup memukau penonton.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait