Daryono Yunani dan Orang-Orang Pantai yang Menolak Kalah

PojokTIM – Membaca larik-larik puisi Orang-Orang Pantai adalah membaca Daryono Yunani. Sebagai seniman, ia menolak “kalah” dalam zaman apa pun. Bagi sebagian orang, Daryono mungkin dianggap sebagai sosok yang kalah. Namanya tidak berkibar di jagat kesenian nasional, tidak pula bersanding dengan nama-nama besar yang dibesarkan oleh zaman.

Namun Daryono adalah karang yang menolak kalah meski setiap hari dihantam ombak. Ia menyimpan matahari di kepalanya dan melumuri tubuhnya dengan garam agar tidak kalah oleh angin.

Semangat semacam itu terasa ketika Daryono membacakan Orang-Orang Pantai dalam Mini Fest di Alun-alun Cilacap, Senin (24/8/2026). Acara yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap itu juga menghadirkan Sanggar Bambu dan sejumlah kelompok kesenian Cilacap yang bergantian mengisi panggung.

Di tengah berbagai pertunjukan malam itu, Daryono membawa sesuatu yang lebih dari sekadar pembacaan puisi. Ia seperti mengajak penonton membuka kembali sebuah cerita lama yang selama ini dianggap selesai: kisah Kamandaka, Dewi Ciptarasa, dan Pule Bahas.

Cerita tersebut selama ini lebih akrab dengan nama Kamandaka. Ia dikenal sebagai tokoh yang berhasil mendapatkan Ciptarasa dan keluar sebagai pemenang setelah menghadapi Pule Bahas, penguasa Nusatembini yang datang untuk meminangnya.

Pule Bahas kemudian menempati posisi yang berbeda. Ia menjadi tokoh yang harus dikalahkan agar kisah sang pahlawan memperoleh akhir yang sempurna. Tetapi Daryono memilih tidak berhenti pada akhir cerita. Ia justru tertarik pada tokoh yang ditinggalkan di sana.

Dalam legenda yang berkembang di masyarakat, Pule Bahas hadir sebagai pihak yang berseberangan dengan Kamandaka. Ia datang dari Nusatembini untuk meminang Ciptarasa, kemudian dianggap sebagai ancaman bagi Pasirluhur.

Kamandaka melakukan penyamaran sebagai Lutung Kasarung. Siasat dijalankan. Pule Bahas dikalahkan. Dalam beberapa versi cerita, ia bahkan disebut tewas. Sesudah itu, kisah dapat ditutup dengan mudah: Kamandaka menang dan Pule Bahas kalah.

Tetapi apa yang terjadi jika cerita tidak ditutup di sana?

Pertanyaan itulah yang muncul dari Orang-Orang Pantai. Daryono tidak mencoba menulis ulang legenda itu sebagai pembelaan terhadap Pule Bahas. Ia juga tidak menjadikan Kamandaka sebagai tokoh jahat.

Daryono hanya memindahkan sudut pandang. Dari pusat kekuasaan Pasirluhur, ia bergerak ke pantai.

Dari tokoh-tokoh utama legenda, ia melihat orang-orang yang hidup jauh dari panggung kemenangan: nelayan, perempuan yang menata ikan, anak-anak yang tumbuh di bawah matahari, dan masyarakat yang hidup bersama laut.

Legenda, seperti sejarah, sering kali diwariskan melalui sudut pandang yang paling kuat. Tokoh yang menang memperoleh kesempatan untuk dikenang sebagai pahlawan. Tokoh yang kalah mendapatkan label sebagai si jahat.

Daryono mempertanyakan mekanisme semacam itu tanpa harus memberikan jawaban tunggal. Ia hanya bertanya: apakah kemenangan selalu identik dengan kebenaran? Dan apakah kekalahan otomatis membuat seseorang berada di pihak yang salah?

Puisi tidak sedang menjadi hakim sejarah. Daryono tidak sedang menyatakan bahwa versi legenda yang dikenal masyarakat adalah sebuah kebohongan. Ia melakukan sesuatu yang lebih khas dilakukan puisi yakni mengganggu kemapanan sebuah cerita dengan mengajukan pertanyaan.

Di sinilah Orang-Orang Pantai bertemu dengan sosok Daryono Yunani. Ia piawai berbicara tentang orang-orang yang bertahan dari pinggir; tentang mereka yang tidak selalu memperoleh tempat dalam sejarah besar, tetapi tetap hidup melalui ingatan, karya, dan cerita yang mereka wariskan.

Mungkin karena itu pula tema tersebut terasa dekat dengan dirinya. Daryono tidak sekadar berbicara tentang orang-orang yang bertahan. Ia mengalami dan merasakan sendiri bagaimana berada jauh dari panggung-panggung besar yang lebih sering menarasikan kemenangan.

Karena itu, puisi tersebut terasa lebih luas daripada sekadar pembacaan ulang legenda Kamandaka dan Pule Bahas. Daryono sedang berbicara tentang mereka yang tidak memperoleh kesempatan menjadi pemenang; tentang mereka yang namanya tidak masuk ke buku-buku sejarah dengan huruf besar; tentang masyarakat yang mungkin tidak memiliki istana untuk menyimpan babad, tetapi memiliki laut untuk menyimpan ingatan.

Dan pada akhirnya, seperti juga dalam puisi Sintren Getun yang dituliskan puluhan tahun lalu, Daryono sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Tentang seorang seniman yang terus bertahan meski jauh dari panggung-panggung besar.

Daryono Yunani adalah orang pantai itu sendiri.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait