Nenden Bedah Perempuan-Perempuan Acep Zamzam Noor

PojokTIM – Penyair Acep Zamzam Noor memiliki kecenderungan yang sangat matang dalam menggunakan alam dan dunia religius sebagai sumber pengucapan dalam puisi-puisinya. Kecenderungan tersebut dapat dipahami dari latar belakang Acep yang tumbuh dalam tradisi pesantren, sekaligus mendapat tempaan kepenyairan melalui rubrik Pertemuan Kecil di SKH Pikiran Rakyat yang digawangi Saini KM.

Demikian dikatakan Nenden Lilis Aisyah dalam Diskusi Meja Panjang yang ditaja Dapur Sastra Jakarta (DSJ) dengan tema “Perjalanan Kreatif Acep Zamzam Noor”, Jumat (28/8/2026), di Ruang Sastra PDS HB Jassin, Cikini, Jakarta Pusat.

Diskusi yang dimoderatori Sunu Sasono tersebut menghadirkan Acep Zamzam Noor sebagai pembicara utama, dengan dua pembedah, yakni Nenden Lilis Aisyah, dosen UPI, dan Esha Tegar Putra, anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Acara turut diisi pembacaan puisi oleh Nanang R Supriyatin, Narima Beryl Ivana, dan Fikar W Eda. Hadir pula Ketua Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Remmy Novaris DM.

Dalam paparannya, Nenden menukik pada banyaknya nama perempuan dan diksi yang berkaitan dengan perempuan dalam puisi-puisi Acep. Ia menggunakan pendekatan reading as a woman untuk melihat bagaimana perempuan hadir dan berfungsi dalam puisi-puisi tersebut.

“Saya akan menggunakan pendekatan reading as a woman. Tapi bukan untuk membongkar nama-nama tersebut. Saya melihatnya dari sisi semiotik saja,” kata Nenden.

Menurut Nenden, nama-nama perempuan yang telah hadir dalam puisi pada akhirnya menjadi milik publik. Sisi personal dari nama tersebut telah mengalami pergeseran sehingga dapat berfungsi sebagai tanda atau penanda yang terbuka bagi pembacaan.

“Nama yang ada di puisi sudah milik publik, personalitasnya sudah hilang. Dia bisa saja hanya sekadar penanda, atau menjadi ruang kosong yang bisa diisi pembaca,” ujarnya.

Nenden kemudian membedah puisi Zikir, yang di dalamnya terdapat nama Anne. Secara harfiah, kata zikir menghadirkan pengertian tentang iman dan hubungan manusia dengan Tuhan. Namun, dalam puisi Acep, istilah tersebut digunakan untuk mengungkapkan cinta yang kuat dan penuh perjuangan.

Dengan demikian, menurut Nenden, sesuatu yang profan dibawa ke wilayah sakral. Pengulangan nama Anne dapat dibaca sebagai bentuk zikir bagi aku lirik.

“Saya menafsirkan, mengulang-ulang nama Anne adalah zikir bagi aku lirik, meminjam bahasa religius untuk mengungkapkan cinta manusia, dan akhirnya menyadari tidak bisa mengatur cinta. Tuhan yang menentukan,” terang Nenden.

Dari perspektif gender, Nenden melihat perempuan pada mulanya ditempatkan sebagai objek, sebagai sosok yang dicintai dan diharapkan. Namun, dalam perkembangan pembacaan terhadap puisi tersebut, tokoh Anne justru memperlihatkan pertahanan dan kuasanya sendiri sehingga perempuan tidak lagi semata-mata menjadi objek, melainkan berubah menjadi subjek.

Hal serupa, kata Nenden, juga terlihat dalam puisi Melva. Perempuan pada awalnya hadir sebagai medium puitik dan objek pengucapan, tetapi kemudian memperlihatkan kuasa yang membuat posisinya bergeser menjadi subjek.

Sementara itu, Esha Tegar Putra mengaku terkesan dengan cara Acep menyebut dan menghadirkan tempat-tempat tertentu dalam puisi-puisinya, salah satunya Karangsetra. Menurut Esha, sejak masa awal kepenyairannya Acep telah berusaha membawa lanskap alam pedesaan ke dalam puisi.

“Puisi-puisi Kang Acep sangat teliti dalam melukiskan keindahan alam, seperti mooi Indië dalam lukisan Belanda di era penjajahan dulu,” kata Esha.

Menurut Esha, sensibilitas mooi Indië tersebut turut mengasah kepekaan Acep dalam menangkap alam dan menjadikannya sebagai bagian penting dari dunia puitiknya.

Acep, lanjut Esha, termasuk penyair yang meskipun berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetap membawa lanskap tempat asalnya. Hal itu, antara lain, terlihat dalam puisi-puisi yang ditulis Acep ketika berada di Italia. Jarak geografis tidak serta-merta memutus hubungan penyair dengan lanskap yang telah membentuk ingatan dan sensibilitasnya.

“Apa yang ditatap dan dipikirkan Kang Acep selalu berkelindan,” kata Esha.

Ia juga menyebut Puisi Gerimis sebagai salah satu pernyataan kepenyairan Acep yang terbaik. Dalam puisi tersebut, menurut Esha, terlihat bagaimana pengalaman, tempat, penglihatan, dan pikiran bertemu menjadi satu kesatuan pengucapan puitik.

Menanggapi paparan kedua pembedah, Acep Zamzam Noor membenarkan sejumlah hal yang disampaikan Nenden maupun Esha. Ia bahkan mengaku terkejut ketika Nenden menukik pada pembacaan puisinya melalui perspektif gender.

“Saya melukis dengan kata-kata,” ujar jebolan Seni Rupa ITB itu.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait