MRS Eps 45 di Museum Maritim Indonesia Diwarnai Banjir

PojokTIM – Kegiatan literasi bulanan Membaca Raden Saleh (MRS) kembali digelar dan memasuki episode ke-45, Sabtu,(7/2/2026) di Museum Maritim Indonesia, kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Penyelenggaraan kali ini menjadi salah satu yang paling menantang sejak MRS rutin dilaksanakan dari 2022.

Lokasi museum yang berada di jantung kawasan pelabuhan membuat perjalanan menuju tempat acara tidak mudah. Tantangan tersebut semakin berat ketika cuaca pagi yang semula cerah mendadak berubah menjadi hujan lebat disertai angin kencang. Sejumlah ruas jalan serta halaman depan museum tergenang air hingga setinggi separuh ban mobil.

Kondisi tersebut memaksa panitia mengundur jadwal acara sekitar satu jam sambil menunggu peserta tiba. Beberapa peserta terlihat datang dengan celana digulung atau kain diangkat untuk menghindari genangan air. Meski demikian, hujan dan banjir tidak menyurutkan semangat. Seperti edisi-edisi sebelumnya, suasana acara tetap berlangsung hangat dan penuh keakraban.

Mengawali rangkaian kegiatan, Kepala Museum Maritim Indonesia, Yoki Rendra, bersama tim menyambut para peserta dengan ramah. Pada kesempatan itu, pihak museum juga menyampaikan safety rules yang berlaku di lingkungan Museum Maritim Indonesia, mengingat lokasinya berada di kawasan pelabuhan aktif dengan sejumlah area terbatas yang perlu diperhatikan pengunjung.

Dari rilis yang diterima PojokTIM diketahui, Museum Maritim Indonesia sendiri merupakan ruang edukasi yang merekam perjalanan panjang sejarah maritim Nusantara. Koleksinya meliputi relief, patung, arsip visual, serta diorama yang menggambarkan dinamika pelayaran, perdagangan, dan pengelolaan pelabuhan Indonesia sejak era VOC hingga perkembangan maritim modern. Keberadaannya di kawasan pelabuhan aktif menjadikan museum ini bukan sekadar ruang pamer, melainkan juga saksi hidup denyut maritim Indonesia hingga hari ini.

Suasana semakin cair ketika acara dibuka secara resmi dengan kejutan pemotongan kue ulang tahun untuk Emi Suy, yang pada kesempatan tersebut bertugas sebagai pewara.

Agenda utama MRS episode ke-45 diisi dengan ceramah bertajuk Pelindo, Pelaku Sejarah Maritim Indonesia: Dari Pelabuhan Tradisional Masa Lalu Menuju Digital Smart Sea Port di Masa Depan oleh Riri Satria, Komisaris Utama ILCS Pelindo Solusi Digital. Dalam pemaparannya, ia mengulas sejarah pelabuhan di wilayah Nusantara serta peran strategis Pelindo dalam perjalanan maritim nasional, termasuk transformasi kepelabuhanan menuju sistem digital yang terintegrasi dan berorientasi masa depan.

Sebelum sesi pembacaan novel, penulis Iksaka Banu terlebih dahulu memberikan pengantar historis mengenai konteks bab MRS. Penjelasan ini membantu peserta memahami latar peristiwa dan tokoh yang dibahas dalam novel Pangeran dari Timur karya Kurnia Effendi dan Iksaka Banu.

Novel tersebut merupakan karya fiksi sejarah yang menautkan perjalanan seni, politik, dan kolonialisme pada abad ke-19 dengan sosok Raden Saleh sebagai salah satu figur sentral. Melalui riset sejarah yang kuat dan narasi sastra yang hidup, Pangeran dari Timur mengajak pembaca menelusuri pergulatan identitas, kekuasaan, dan modernitas di Hindia Belanda.

Dalam salah satu bagian yang dibacakan, terselip kalimat yang menggambarkan kegelisahan tokohnya, “Raden Saleh berjalan di antara dua dunia: Eropa yang mengajarinya melukis, dan Jawa yang mengajarinya mengingat.”

Nukilan tersebut menegaskan posisi Raden Saleh sebagai seniman sekaligus manusia yang terbelah oleh sejarah dan zaman.

Setelah pengantar disampaikan, pembacaan bab dilakukan sebagai bagian inti dari tradisi MRS yang menempatkan membaca sebagai ruang refleksi bersama. Di tengah hujan dan genangan air di luar museum, para peserta larut dalam cerita, seolah menemukan pelabuhan kecil bagi imajinasi dan ingatan sejarah.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait